Seorang pemuda berdiri memperhatikan seorang gadis yang tak jauh darinya sedang berlari, gadis itu terlihat memaksakan tenaganya yang sudah kewalahan. Ia terus berlari tanpa ada niat untuk berhenti, hingga pemuda itu pun menarik tangan gadis itu, membuatnya berhenti berlari.
"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, Syani!" ucap Pemuda itu, ia bernama Haikhal
"Lepaskan!" Menghempaskan tangan Haikhal yang memegang lengannya. "Ini buka urusan kamu, jadi lebih baik kamu pergi," sahut Syani
"Aku teman kamu... sudahlah, Sya, kamu sangat memaksakan tubuhmu dengan cara menyiksa dirimu sendiri seperti ini ... Apa kau tau itu?"
"Kalau aku tidak menjaga tubuhku dengan baik orang lain tak akan menyukaiku dan karir aku akan hancur ... Apakah kau juga tau itu?! Lebih baik orang lain yang menyukaiku dari pada diriku sendiri."
"Jadi, menurutmu karir lebih penting dari pada kamu sendiri. Begitu?!"
"DARI DULU KARIR AKU MEMANG LEBIH PENTING DARI APAPUN!" ucap Syani, lalu melangkah pergi.
Haikhal yang melihat Syani pergi, hanya memandang punggung gadis itu yang mulai menjauh.
Hingga tiba-tiba gadis yang dipandangnya itu, jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
"SYANI!" Teriaknya, menghampiri gadis itu.
"Syani, Syani, aku mohon bangunlah," ucap Haikhal, menaruh kepala Syani dipangkuannya mencoba membangunkannya.
Haikhal pun mengangkat tubuh Syani dan membawanya ke rumah sakit untuk merima perawatan dari Dokter.
-----
Saat ini Syani sudah sadar dan berada di ruangan VVIP bersama dengan ibunya. Sebelumnya Haikhal sudah memberitahukan kepada ibunya Syani tentang keadaan putrinya itu.
"Kamu itu ngak boleh sakit-sakitan, Syani," ucap Ibunya dengan tegas
"Maafin Syani Bu," ucapnya lirih
"Ini udah berapa kali, Syani. Ibu ngak mau kamu sakit-sakitan kayak gini lagi ... apa orang bilang jika seorang artis sakit-sakitan, kayak kamu ini?!" ucap ibu Syani, memarahi gadis yang sedang tertunduk di depannya.
"Bu?" lirihnya dengan suara gemetar. "Syani capek kayak gini, aku udah lelah nurutin semua kemaunan Ibu yang ingin aku seperti ini ... seperti itu. Syani udah ngak mampu Bu," ucapnya dengan air mata yang sudah jatuh, ia menatap ibunya.
"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan itu, Syani?!" Bentak Ibunya
"Aku mohon Ibu, biarkan aku melakukan hal yang aku inginkan"
"TIDAK! Kau tetap harus menjadi artis, lupakan hal-hal bodoh yang ada di kepalamu itu, sekarang kau fokus saja dengan kesehatanmu. Ibu akan keluar melihat jadwal syutingmu, Ibu akan kembali," ucapnya lalu melangkah pergi.
Sementara di depan pintu sosok Haikhal yang mendengar percakapan Syani dan ibunya. Ia tak menyangka jika ada seorang ibu yang sekejam itu pada putrinya sendiri.
Saat mendengar langkah seseorang yang mendekati pintu, Haikhal pun bersembunyi. Hingga sosok ibu Syani pun keluar dari ruangan itu dan ia pun masuk melihat keadaan Syani.
"Syani apa kamu tidak apa- apa?" ucap Haikhal berdiri disamping Syani, yang tertunduk menangis.
"Pergi!" lirihnya "Jauhi diriku yang menyedihkan ini." Menagis tersedu-sedu menutup wajahnya dengan kedua tangan
"Syani?" Panggil Haikhal
"Aku ingin seperti kamu yang hidup dengan jalan sendiri, bukan seperti robot kayak aku ini," ucapnya menagis memandang Haikhal.
YOU ARE READING
Menjadi yang Sesungguhnya #EventAWConeshooy
RandomTerkadang menjadi orang lain mampu membuat orang - orang disekitar kita bahagia, tapi bagaiman dengan kita ? Apakah kita juga akan bahagia ? @awcofficialwp @AWC_OFFICIAL cover By @SepRahma
