"Sakura-chan, apa kau tidak berlebihan. Maksudku, mereka itu kan orang tuamu."Ujar pria berambut kuning jabrik yang sedang duduk diayunan taman bermain Konoha.
"Diamlah Naruto! jangan ikut campur urusan keluarga orang, mereka itu yang keterlaluan dan sangat menyebalkan. Ugh! aku benar-benar kesal sekali." umpat gadis bersurai merah jambu sambil berdiri dan mengayunkan tubuhnya sendiri diayunan.
"Tapi Sakura-chan, kau beruntung karena masih-"
"Diamlah Naruto! kau cukup mendengarkan keluh kesahku saja, bukankah dari dulu kau merengek minta kencan denganku jadi nikmatilah dan bersyukurlah karena hari ini aku mewujudkannya."
Naruto, pria berambut kuning spike itu hanya, menggerak-gerakan satu alisnya mendengarkan perkataan Sakura barusan. "Kencan macam apa ii, ttebayou!"
"NARUTO KAU INI TIDAK BISA DIAM-"
"Aaa... lihatlah, aku bahkan tidak usah mencari susah payah." Rupanya kau disini, hm. Kyubi." ujar seorang pria bertopeng dengan jubah hitam dengan corak awan..
"Uh! Madara!" ujar Sakura maupun Naruto yang tersentak bersamaan.
"Kuso! aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini." Lantang Naruto yang segera menyerangnya dengan Rasengannya yang tentu saja bisa ditembus oleh pria bertopeng itu. Lalu meninju Naruto hingga tubuhnya terpental menabrak pagar pembatas hingga hancur.
Melihat itu,Sakura segera meloncat keudara dan melayangkan kaki jejangnya guna menendang kepala bertopeng itu. Namun, dengan cepat, pria bertopeng itu menghindar, menyisakan kawah kecil ditaman bermain itu. Pria itumeloncat tinggi didahan pohon.
"Kuso!" Umpat Naruto berniat melayangkan Rasengannya kembali, namun sosok bertopeng itu buru-buru melemparkan bola kaca kearah bulan purnama, merubah pantulannya menjadi semerah darah dan mengukir tomoe sharingan. Seketika bola kaca itu bersinar sangat menyilaukan mata, membuat Naruto dan Sakura memejamkan matanya erat-erat.
Cahaya itu berangsur-angsur hilang, membuat Sakura bisa membuka matanya kembali. Namun, sejauh matanya memandang hanyalah hamparan rumput hijau yang sangat luas seolah tanpa ujung dengan langit biru tanpa awan.
"Aku... ada dimana?"
-o0o-
Sosok pria bersurai gelap kebiruan itu masih terbaring diatas ranjang besar ukuran king zize itu. Kelopak matanya yang terpejam mulai menyernyit merasa terganggu dengan cahaya mentari yang seolah ingin merusak matanya.
Tunggu! Cahaya?
Seketika pria bersurai gelam mencuat kebiruan yang tampak sangat berantakan itu bangkit dari tidurnya dan membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia segera meloncat dari ranjang, dan tubuhnya tengah berdiri sepenuhnya. Bola matanya hampir meloncat sempurna kala mendapati dirinya diruangan yang tidak seharusnya ia berada.
Ia memindai ruangan itu dengan mata sekelam malam miliknya. Hal pertama yang ia lihat adalah jendela kaca besar yang memaparkan bangunan-bangunan menjulang tinggi mirip rumah sakit Konoha, tapi lebih besar dan megah. Kemudian, ruangan yang ia tempati berdominasi warna hitam dan putih, lalu sebagian abu-abu. Lemari besar dan disampingnya ada gatungan pakaian-pakaian aneh yang tertata rapi. Lalu beberapa perabotan yang mejeng apik namun sangat aneh baginya terletak rapi disegala penjuru ruangan. Sampai kepalanya menoleh ke nakas meja disampig ranjangnya.
Disana terdapat lampu meja yang juga dengan wujud aneh tapi elegan menurutnya. Namun, seketika ia menatap horor pada suatu benda hingga jantungnya terasa dipacu ribuan kali hingga berdetak abnormal. Bukan, bukan bentuk lampu meja itu yang menjadi perhatiannya. Namun, sebuah benda persegi yang berada disamping lampu meja itu.
Ia meraih ragu benda itu, tangannya gemetar namun tak ada niatan untuk mengurungkan guna mengambil benda itu. Ia berhasil meraih benda itu, dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku... kenapa bisa?"
"Sasuke-kun, kau sudah bangun rupanya. Baiklah, cepat mandi atau kita akan terlambat!"
Suara itu.
"Sasuke-kun kau dengar aku tidak sih? "
Tidak salah lagi. Suara perempuan ini adalah...
Dengan gerakan slow motion, pria yang dipanggil Sasuke itu membalikan tubuhnya. guna menghadap si empu suara yang sedari tadi mengusiknya. Dan dugaannya tepat sekali, demi apapun ia mendengar segala kutukan dari mendiang klannya yang mencaci maki dirinya sekarang karena tidak dapat mengontrol rasa terkejutnya.
PRANK!
"Astaga, Sasuke-kun!" perempuan bersurai merah muda yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk hitam ditangannya itu berjengit kaget. Lalu menghampiri benda apa yang sekiranya dijatuhkan sang kekasih.
Dan benda itu adalah sebuah figura foto yang kacanya telah pecah berserakan dilantai. Dan dibawah pecahan kaca itu, terdapat sebuah foto perempuan bersurai merah muda tersenyum menyipitkan mata hingga merona yang sedang duduk dipangkuan pria bersurai hitam mencuat dengan lengan kekarnya yang memeluk pinggang perempuan itu erat-erat, sedang ekspresi sang pria terlihat datar namun ada semburat tipis muncul dipipi putih bersihnya yang berusaha ia sembunyikan dileher jenjang sang gadis dipelukannya.
"Sakura."
-o0o-
Sedangkan ditempat yang sama, ada bocah perempuan yangtengah tak sadarkan diri dengan penampilan berantakan ditengah hutan belantarayang gelap gulita itu. Entah hal macam apa yang menimpanya hingga bocah malang ituterseret keruang waktu yang tidak seharusnya.
"S-sasuke-kun."
-o0o-
Fic gaje macam apa iniiiiiiii!!!!!
Oke, gue cuma bangun ditengah malem dan tiba-tiba pengin nulis ginian. wkwkwk....
Mau lanjut gak nih?
YOU ARE READING
pararel
Fanfiction"Sasuke-kun! ayo kita makan siang bersama di atap! kau percaya tidak, aku sudah bisa memasak makanan kesukaanmu lho!" sambil berusaha menyeret lengan siempu nama. "Sial! Sakura-chan, kau hanya mengajak Teme. Padahal kan aku ini tetangga baikmu yang...
