Laki-laki itu, Bukan aku.
Keramaian alun-alun Kota Yogyakrta malam itu begitu damai, secangkir kopi hitam biasa kunikmati dengan kacang rebus bersama teman-teman kalau kita sedang kabur dari Pondok Pesantren. Di pinggir jalan Malioboro ku habiskan malam yang sunyi bersama lentera rembulan yang kelabu berlapis taburan bintang gemerlap. Hanya malam ini saja aku ingin keluar Pondok, entah rasanya aku benar-benar tak sanggup menghadapi hafalan-hafalan dan tugas Pondok. Sering sekali aku dan temen-temen keluar Pondok tanpa sepengetahuan pengasuh, tapi mungkin keberuntungan selalu berpihak pada kami, tak pernah kena hukuman karena pengasuh Pondok tak pernah tahu semua itu.
Malam memang sunyi, namun aku menikmati kesunyiannya. Karena semua itu membuat hati tenang dan damai..
"Lex, cukup malem ini!! Malem ini!! Gue ngga mau lagi-lagi deh. Tadi hampir ketahuan."
"Ahhh!!! Loe payah Dan, ngga bakal ketahuan."
"Iya sih, tapi maksa aja gue takut Lex."
(Raut wajah Wildan tiba-tiba cemas)
"Tenang Dan, semuanya aman!."
Wildan, sahabat aku di Pondok, teman satu kamar yang selalu nemenin keluar Pondok kalau lagi banyak-banyaknya hafalan. Dia pemberani tapi sedikit penakut, dia selalu ada kapanpun aku membutuhkannya. Soal perempuan, dia jago banget dapetin perempuan yang cantik, banyak perempuan yang sudah dirayu olehnya.
"Sibuk banget Dan, chattingan sama ceweknya ya."
"Yahhh Alexxx Alexxx, eh elo masih jaga hati sama cewek itu."
"Diem deh ngga usah ngeledek!! Elo tuh gonta-ganti cewek mulu, ngga setia."
"Kita kan masi muda cuy, punya wajah tampan. Buat apa ngga dipergunakan wkwkwkwk."
"Terserah loe aja deh, iya tampan kalo ngaca di wajan."
_Kenapa harus dua, tiga, atau empat selagi satu mampu membuat kita bahagia dan setia_
Dulu, tiga tahun yang lalu. Zamannya SMP ada perempuan yang memang dia kagum terhadapku, entah alasan apa yang membuat dia menggagumiku. Itu juga kata temen kelas aku, dan seminggu sebelum aku pergi ke Pondok, aku sempat berkomunikasi dengannya. Fufah nama perempuan itu, dia temen SMP seangkatan namun kita tidak satu kelas hanya saja kelasku dan kelasnya bersebelahan. Malam itu aku mencoba menghubunginya,
"Assalamu'alaikum Fah, ini Alex temennya Zein."
"Wa'alaikumussalam, oh iya Alex. Ada apa?."
"Hmmmm, Fah kamu lanjut sekolah dimana?."
"Kemarin aku baru daftar di Madrasah Aliyah, tinggal nunggu hasil."
"Oh syukur deh, semoga diterima ya Fah."
Awalnya aku basa-basi nanyain dia mau lanjut kemana setelah lulus. Zein, dia sebenernya yang ngasih tahu kalau Fufah sangat mengagumiku, dengan percaya diri dan keberanianku, aku langsung menanyakakan hal itu.
"Aamiin, kamu sendiri lanjut kemana Lex?."
"Aku udah daftar ke Pondok Pesantren di Jogja Fah, dan minggu depan aku udah berangkat kesana."
"Hmmm kok secepat itu ya.."
"Lohhh, memangnya kenapa?."
"Enggak, ya semoga kamu betah disana. Dimudahkan dalam mencari ilmu."
"Hmmm, kamu ngga mau ya ditinggal jauh sama aku."
Yang biasanya Fufah menjawab chat aku 2 menit. Sekarang aku harus menunggu 15 menit balesan dari dia.
15 menittttttt kemudian....
"iih PD banget kamu Lex. Pergi, pergi aja, apa urusannya sama aku?."
"Jelas menjadi urusanku, karena jarak akan membuatmu rindu.."
"Lex, udah dulu ya. Aku mau telfon sepupuku dulu."
Sentak Fufah mengalihkan pembicaraan itu, namun aku terus membalas chattingnya.
"Fah, tunggu!! Zein sudah cerita semua tentangmu padaku. Dan aku sudah mengetahuinya."
"Zein? Dia cerita tentang apa?."
"Fah, terima kasih kamu telah menghargaiku. Entah hal apa yang membuat kamu kagum terhadapku, namun aku sangat berterima kasih. Zein selalu bilang begitu, kamu tak usah marah pada Zein. Karena akulah yang memaksa Zein mengatakan semua ini. Fah aku ingin berjuang di jalan Alloh, maukah kamu menjaga hati kamu untukku? Sampai aku kembali ke Cirebon. Aku mau kamu jawab jujur Fah."
YOU ARE READING
Laki-laki itu, Bukan aku.
Short StoryLaki-laki yang di maksud Fufah bukanlah aku, melainkan laki-laki lain yang dipilih Fufah menjadi calon suaminya.
