Prologue

17 1 0
                                        

Kali pertama aku melihatnya, di cafe langgananku, aku mengira ia hanya remaja biasa yang kebetulan mencuri perhatianku.

Kali kedua, kami bertemu di siang hari dan aku sadar rambutnya kebiruan. Dan surai itu terlihat indah menyentuh bahunya.

Kali ketiga, aku tahu dia suka denim.

Dan kali keempat, aku tahu dia suka membaca buku lawas.

Hal bagus, aku juga suka membaca buku sejarah nan kontroversi. Aku mulai memikirkan cara untuk menyapanya dan memulai obrolan kecil.

Bukan untuk disombongkan, tapi bagiku sangat mudah untuk membawa gadis ke ranjangku.

Tapi tipe kutu buku dan kurus begini, sepertinya akan menjadi hal baru.

Aku membayangkan wajahnya memerah melihat otot-ototku. Aku bahkan mau bertaruh dia perawan. Usianya mungkin 16.

Usia remaja sekolah menengah. Tapi rambutnya biru. Sekolahnya mungkin bangunan bobrok di pinggiran kota di mana guru-gurunya hanya orang tua tukang keluh dan rabun. 

Asumsi keduaku otomatis berkata orangtuanya mungkin miskin. Tak mampu menyekolahkan anak kutu-buku mereka di sekolah ternama. Atau mungkin dia tidak bersekolah dan hanya berkeliaran kerja serabutan.

Oh, jangan. Dia terlalu cantik untuk begitu.

Jika bertemu untuk kali kelima, aku sudah berencana menghampirinya.

Percaya diriku sudah ada di puncaknya.

Tapi sore itu ia terlihat gugup.

Memakai denim, namun tanpa diduga kaos dalamnya terpampang brand ternama. Ia tidak membawa buku dan kesan kutu-buku menghilang dari sosoknya.

Dan pada kali kelima ini asumsiku mulai memburuk.

Ia dijemput lelaki paruh baya dan mereka pergi bersama naik Rolls-Royce.

Awalnya kukira itu ayahnya.

Aku masih memikirkan rambut biru sialan itu sambil mengingat-ingat apakah sekarang musim liburan sekolah ? 


Kali keenam, aku tahu dia hanya gadis murahan yang akan tidur dengan siapapun yang membawa mobil mewah.

Anganku tentang gadis kutu-buku yang pemalu di ranjangku, buyar sudah.

Aku tidak butuh lagi gadis berdada rata seperti dia. Segala hal menarik dari dirinya tak bisa kukagumi lagi.

Ia tak ada bedanya dengan semua gadis yang pernah menginap di rumahku.


Kali ketujuh, aku merasakan deburan ombak menyapu segala hal buruk yang sebelumnya kuasumsikan padanya.

Aku kembali melihat gadis kurus dengan kaus putih murahan dan buku lawas dengan lebel perpustakaan kota.

Leher dan pergelangan tangannya luka lebam. Itu bekas jerat ikatan yang muncul di pagi hari pada gadis-gadisku jika malam sebelumnya mereka ingin aku "menghukum" mereka.

Dia bukan gadis murahan, dia gadis miskin pekerja keras yang meski matanya sembab, ia tetap membaca buku puisi dan memesan kopi paling murah di cafe ini.

Aku sudah memperhatikannya selama sebulan. Tujuh pertemuan dalam sebulan, dan selama itu pula pikiranku habis dikurasnya.


Mata birunya memperhatikan gerak-gerikku saat aku duduk di kursi sebelahnya.

Ia mendeham dan rautnya penuh tanda tanya.

"Tidak ada yang menjemputmu hari ini?"

Mendengar itu, alisnya langsung bertaut tidak suka.

Ia menghempaskan bukunya dan berkemas.

"Aku tidak bermaksud menyinggung sih..."

Ia bangkit dan pergi menuju pintu.

Tentu saja aku mengejar sebelum putri duyungku melenggang hilang.

"Brahms." Ujarku keras saat kami sudah di luar. "Namaku Brahms. Aku suka buku yang kaubawa. Pengarangnya pernah pergi ke Indonesia 'kan? dan ibuku kebetulan dari negara itu." 

Aku menyamai langkahnya.

Ia tidak menjawab. Tapi langkah kecilnya bukan apa-apa dibanding langkah raksasaku.

Aku bisa mengikutinya sampai rumahnya.

Suara decakannya terdengar keras dan tiba-tiba ia berbalik.

"Namaku Alioth dan jika kau kira aku perempuan, akan kubuat kau pulang ke ibumu!"
Ia lantas pergi.

Langkahku membeku dan suara laki-lakinya menggema dalam kepalaku.

Selama hampir sebulan terakhir aku sudah membayangkan untuk menjejalkan tubuh kurus itu ke ranjangku, dan manusia sialan itu ternyata bocah lelaki.

Rambut birunya berayun cepat menjauh meninggalkanku.

Aku tetap tinggal di satu titik di mana aku membeku.

Satu titik di mana isi kepalaku berputar hebat dan seluruh realita hilang terseret gema suaranya.

Mata sembabnya terpampang di hadapanku sebagai ilusi memuakkan.

Pada titik ini aku jatuh ke dalam lubang hitam yang tanpa disangka-sangka berisi ribuan supernova.

Kutub utaraku menjelma menjadi selatan.

Aku jatuh cinta padanya.



chapter 1 soon 

11Where stories live. Discover now