Aku hidup dalam dimensi yang penuh dengan kebosanan. Mendengarkan semua omong kosong dan menyaksikan segala kebohongan.
Aku tidak suka keramaian. Bagiku berdiam diri dikamar akan lebih baik dibanding aku harus berjalan kaki menerobos kebisingan kota. Menyebalkan.
Semua orang sering memanggilku Ratu Sajak. Entah apa alasannya. Biarkan saja, terserah mereka.
Aku memang suka memainkan kata-kata. Aku jatuh cinta pada kata-kata ketika seseorang berhasil mematahkan separuhku. Aku tak tahu harus dibawa kemana rasa ini. Sampai akhirnya aku menemukan titik akhir rasa ini bermuara, yaitu pada kata-kata. Bagiku, kata-kata adalah nyawaku. Nyawa yang telah membuatku tetap hidup dalam kebosanan dan kesenduan ini. Pikiranku seketika liar saat bersapa dengan kata-kata. Seperti rela kehilangan apapun. Lupa waktu. Lupa makan. Lupa mandi. Tapi tidak lupa kamu. Ah tidak. Hanya becanda.
Hari ini aku akan menyampaikan perihal yang belum sempat ku katakan. Pada apapun dan pada siapapun. Melalui tulisan ini, Aku ingin berbicara dengan lantang.
Menyuarakan bahwa aku yang sendu ini, pernah merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung. Dicintai dan dibahagiakan oleh sosok lelaki yang begitu sempurna dan sederhana seperti dirinya. Aku sempat ragu untuk menerimanya hadir. Namun dia selalu berhasil membuatku yakin. Sampai pada akhirnya dia ku izinkan masuk kedalam dimensiku. Apapun yang akan terjadi nanti, apapun akhirnya. Dia tetap dia, semesta sederhana yang Tuhan kirim dengan sengaja.
-An. /Andia Lestari, 2019
YOU ARE READING
Sebatas Pernah
Teen FictionKita pernah berada dalam ruang waktu yang telah tersepakati. Kita pernah saling menguatkan dalam keadaan yang beragam. Kita pernah ada, sampai akhirnnya tiada. Dan semua pernah itu, hanya sebatas pernah.
