Bulan tertutup sempurna oleh mendung, bintang tak terlihat dari sudut langit mana pun. Angin semilir yang lembut menjadikan suhu malam menjadi lebih dingin. Alec berdiri tegak di sebelah mobil putih metalic-nya yang gagah. Celana corduroy biru tua melekat pas di kakinya yang panjang. Wajah putih pucatnya bersemu merah, dia kedinginan. Baju yang melekat di tubuhnya tidak dapat menghindari suhu rendah tengah malam. Di bawah kakinya, ada jalur batu yang membentang hingga ke pintu sebuah rumah semi permanen yang kayunya dipelitur. Rumah itu memancarkan lampu warna-warni kerlap-kerlip yang memusingkan.
Seorang wanita dengan tubuh ramping keluar dari rumah itu. Langkahnya terseok-seok, dia meneteng sepasang sepatu high heels merah menyala. Rambutnya yang di-blow terlihat berantakan. Beberapa anak rambut tipis mencuat-cuat di atas kepalanya yang diterangi lampu remang dari sisi jalan. Mimik wajahnya bergonta ganti, dari bahagia ke sedih, lalu bahagia lagi.
Dia berhenti tepat di depan Alec dan memegang bahu lelaki itu. "Terima kasih sudah menjemputku," ujarnya tak teratur, lalu tertawa.
Alec mengenal gadis itu. Mereka pernah berada di kelas yang sama ketika SMA. Namanya Hazel. Dia populer karena pintar dan berasal dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya mengelola perusahaan buah tropis yang mendunia.
"Kau mabuk, ya?" Alec berujar tidak peduli, lalu melepaskan tangan gadis itu dari pundaknya. Meskipun sekelas, mereka tidak pernah benar-benar dekat. "Apa kebetulan kau melihat temanku di dalam sana? Namanya Savath, kurus, rambut pirang sebahu, setinggi ini," Alec mengangkat tangan kanannya sepuluh senti di atas kepala gadis itu.
Dengan tatapan yang tidak tenang, Hazel berkata, "Sayang, kau bertanya tentang selingkuhanmu di depanku?" Tiba-tiba gadis itu menangis. "Kau tidak boleh pergi dariku!" Hazel membentak, lalu tergopoh masuk ke dalam mobil Alec.
"Apa yang kau lakukan?" Alec membuka pintu mobil dan menarik gadis itu keluar. Hazel menepis tangan Lelaki itu berulang kali sambil berteriak, hingga Alec berhenti. Dia merasa terlihat seperti sedang melakukan kekerasan. Memang tak ada seorang pun yang berkeliaran di luar, karena rumah itu satu-satunya rumah yang ada di pingir jalan kecil yang jarang dilewati. Namun jika kebetulan ada yang melihat, orang pasti akan salah paham.
Musik DJ terdengar samar-samar ke luar, dan pesta terus berlanjut. Alec memandang lagi ke dalam mobil. Hazel sudah tertidur di jok belakang sambil memeluk handbag hitam di tangannya. Lelaki itu memikirkan sesuatu. Dia membuka lagi pintu mobil, dan mengambil tas itu dengan hati-hati. Alec mencari handphone Hazel agar bisa menghubungi salah satu keluarganya. Namun, helaan nafas berat Alec memperlihatkan tas itu kosong. Tak ada apa pun di dalam sana, bahkan uang sekalipun. Alec menyerah. Menyentuh gadis itu agar dia keluar dari mobil sangat tidak memungkinkan. Dan Hazel juga tidak terlihat akan keluar dengan sendirinya.
"Aku benci perempuan." Gumam Alec. "Seharusnya aku pergi sendiri saja menemui ibu." Total waktu yang dihabiskan Alec menunggu temannya adalah sekitar 20 menit. Dia benci suasana pesta, tapi 20 menit sudah cukup menahannya untuk tidak menyeret Savath keluar dari rumah itu.
Alec mengambil masker dari dashboard mobilnya, lalu berjalan masuk dengan langkah-langkah yang lebar. Ketika menemui tangga di teras rumah, dia menaiki dua-dua undakan sekaligus. Semakin dia mendekat, semakin ricuh suara ingar-bingar dari dalam. Dia meraih kenop pintu, membukanya. Seketika lampu tidak teratur itu menembus matanya. Alec meletakkan punggung tangan dihadapan wajah, mencoba menghalangi sinar lampu. Pesta ini tidak seramai yang Alec kira. Ya, siapa pula yang mau datang ke pesta-nya lelaki paruh baya yang memiliki profesi sebagai kepala human traffiking. Kecuali Savath, dan beberapa pengangguran lainnya yang mencari kesenangan tanpa biaya. Mengenai Savath, dia gila pesta. Jika mampu, dia akan menghadiri pesta di pelosok dunia sekalipun. Savath bahkan pernah menghadiri empat pesta dalam satu malam. Tak ada yang Alec sukai dari temannya itu kecuali satu hal, Savath sangat mengerti perasaan Alec tentang broken home.
YOU ARE READING
DAM SOUL
Romance"Aku merasa tidak berguna jika bergantung di bahu perempuan," timpal Alec. "Kecuali jika kau juga bergantung padaku." "Aku tidak membutuhkanmu," jawab Cal kaku. Dia selalu mengutarakan kalimat ketus dengan suara yang amat menenangkan. "Aku hanya bu...
