♣Haechan & Mark♣
FANFICTION
•
•
•
******
Semuanya harus berakhir agar kita bisa memulai kembali sesuatu yang baru
------------------------------------------------------
Gadis berambut hitam itu kembali menatap pokus pada seseorang yang berada dilapangan basket sekolah mereka. Retina coklat itu selalu bergerak mengikuti pergerakan orang yang menyita perhatiannya, bibir merahnya akan mengukir senyum tipis saat melihat objeknya tertawa bersama teman - temannya, dan pipinya bersemu merah saat melihat pria berambut hitam yang kini sedang menyeka keringatnya.
Sudah sejak lama dia menyukai pria yang menjabat sebagai kapten basket di sekolahnya, cinta pada pandangan pertama itulah hal yang terpikir olehnya saat pertemuan pertama mereka.
Pertemuan itu terjadi ketika musim semi baru di mulai. Saat itu usianya masih 10 tahun, ingatannya masih segar ketika pemuda itu menghibur dirinya yang sedang menangis. Senyuman hangat yang diberikan padanya saat itu membuatnya merasa aman dan terlindungi.
Sudah bertahun-tahun berlalu tapi perasaanya masih tetap sama bahkan sekarang dia mungkin sudah berada dalam tahap mencintai pria itu.
Dia datang di saat Haechan merasakan kekosongan di dalam hatinya. Pria itu memberikan cahaya dan kedamaian pada sosoknya yang rapuh, membuat pria itu menjadi sosok yang begitu berarti bagi kehidupannya.
"Lee Haechan"
"Kurang ajar kau Lee Jeno" umpatnya kesal, tangannya sibuk memegang rok pendek yang tersibak berkat tangan jahil temannya itu. Dalam hati dia bertanya bagaimana dia bisa memiliki teman seperti pria itu.
"Penguntit" sindir pria berambut blonde tanpa mempedulikan wajah garang Haechan.
"Lee Jieun, murid kelas 3 jurusan musik. Ku dengar kemarin dia menyatakan cintanya pada Mark" Jeno masih memegang lolipop yang ada di tangannya, menunggu respon sahabatnya.
"Sepertinya akan ada hiburan kali ini" Haechan tersenyum sinis tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sampai kapan ?" Tanya Jeno, membuat kedua mata coklat milik Haechan menatapnya " jika kau terus ....."
"Jika kau terus melakukan ini, Mark mungkin akan membencimu" Haechan sudah terlalu hapal seorang Lee Jeno.
Jeno hanya memutar bola matanya bosan, melihat bagaimana Haechan memotong ucapannya dan meniru gaya bicaranya. Dosa apa dia di kehidupan sebelumnya hingga bisa tumbuh bersama teman macam Haechan.
Haechan sudah cukup bosan setiap kali sahabatnya mengucapkan kata sampai kapan? Atau Mark akan membencinya. Bukan dirinya tidak membenarkan ucapan pria blonde itu tapi ini merupakan satu-satunya cara yang bisa dia lakukan agar Mark melihat eksistensinya, ya walaupun cara yang dia gunakan tidak dianggap benar.
Haechan menghela napas panjang, dia juga tidak tahu sampai kapan dia akan melakukan hal seperti ini untuk menjauhkan Mark dari gadis - gadis yang menyukainya.
Semenjak bersekolah disini Haechan sudah membuat ultimatun pada para siswi untuk tidak berada didekat seniornya itu, tak peduli junior atau senior ketika dia mendapatkan kabar bahwa ada gadis yang menyatakan cinta pada Mark maka akan dipastikan ketika jam makan siang gadis itu akan dipermalukan oleh Haechan sebagai hukuman karena telah berani mendekati MarkNya.
