Rasanya, antara saya dan kamu ada yang belum usai.
Tak perlu dilisankan
Sorot mata tak pandai menipu
Kawanmu pun banyak cakap
Baiklah
Mari kita ulas tuntas perkara hati yang belum mentas
Pikirmu kepergian selalu nampak kejam kan?
Semua orang pandang lukamu perihal saya
Sementara kamu tak ingin menahu atas pahit yang menemani saya pergi
Kamu berusaha lupa jika kamu yang tak menghendaki saya untuk tetap berada disitu, di sebelahmu. Ingat? Mungkin tidak
Saya akan membuat segalanya mudah dipahami
Malam itu pukul dua puluh lewat satu saya membaca pesan singkat dari kamu. Katamu tak perlu lagi ada pesan-pesan singkat berikutnya, tak perlu ada lagi antara saya dan kamu, yang saat itu kamu sebut beban (saya dan kamu)
Itu bukan kali pertama saya dan kamu berlagak saling acuh.
Masih tidak ingat?
Saya juga tahu, ada hati lain yang kamu jaga saat itu. Yang baru-baru ini saya tahu orang itu bekas pacarmu.
Lantas, apa ada alasan untuk saya tetap tinggal? Pikirmu saya baik-baik saja setelah segalanya tidak sama lagi? Hingga hari ke tiga puluh lima hati saya masih bekerja sama dengan otak mencari kemungkinan atas satu-satunya hal yang tersisa dari saya dan kamu. Saya berbagi resah dengan seseorang yang kebetulan kawanmu. Mungkin dengannya saya akan menemukan jawaban atas kebingungan yang kamu tinggalkan.
YOU ARE READING
sajak sesak
PoetryKumpulan sajak ini teruntuk orang-orang yang sempat singgah di awal masa kuliahku. Terimakasih
