satu

35 6 0
                                        

Bugh

"aww... Siapa sih yang naro tembok disini? Gak becus banget jadi tukang,untung muka gue gak lecet" vania meringis sambil memegang jidatnya yang malang.

"makanya kalo jalan tuh liat depan bukan cermin. Kena batunya kan lo"pria yang berada beberapa senti dibelakangnya tertawa kecil melihat gadis yang baru saja menabrak tembok hanya karna sibuk melihat penampilannya di cermin kecilnya.

"biarin, yang penting gue tetep cantik"melanjutkan jalannya sambil melihat cermin lagi.

Dimata vania,yang terpenting itu adalah dirinya. Selain dari itu maka baginya hanya seonggok upil yang dibuang dijalan.

Vino hanya menatap sendu kepergian vania. Karna dia tau apa yang sebenarnya terjadi pada diri vania tanpa gadis itu sadari.

¤¤¤

Universitas orl company adalah salah satu universitas termahal sekaligus ternama di indonesia. Tentunya hal tersebut bukan tanpa alasan. Universitas ini memiliki vasilitas yang sangat lengkap, dosen yang mengajar juga banyak yang berasal dari luar negeri sehingga dapat menghasilkan bibit-bibit yang mampu mengubah dunia. Dan yang terpenting adalah universitas ini didirikan oleh sebastian orlando yang termasuk dalam 10 pengusaha terbesar dan terkaya di dunia. Oleh karena itu, syarat masuk universitas ini tidak sembarangan.

Dan disinilah vania berada. Disalah satu ruangan tempat mahasiswa menambah ilmu. Vania adalah gadis yang pintar, baik dan juga tentunya cantik. Ia selalu menjadi mahasiswi terbaik di universitas orl company. Sehingga ia menjadi salah satu the most wanted di tempat ini.

"van.. Vania" panggil pria itu gugup. Vania menoleh.

"why?" tanyanya walaupun ia sudah tau alasan pria itu memanggilnya.

"gue.... Suka sama lo, mau gak pa__"

"gak"jawabnya memotong. "lo kalau mau nembak gue oplas dulu deh, atau paling enggak ngaca dulu.muka kaya lo itu gak cocok sama gue. Ngerti? " lanjutnya sambil melihat penampilan pria itu dari ujung kaki sampai kepala dengan memperlihatkan raut wajah jijik.

Pria itu mengepal kedua tangannya menahan emosi. Dia tak bisa lagi berkata-kata. Sebenarnya ia sudah tau ini akan terjadi tapi ia ingin mencoba mengutarakan perasaannya. Dan seperti sebelumnya pria itu telah ditolak mentah-mentah oleh seorang vania.

"vin jauhin gue dari sampah di samping gue!"kata vania dengan melihat hp. Menunjukkan ketidak peduliannya. Dan sedikit membesarkan suaranya agar sampah yang ia maksud bisa mendengarnya dengan jelas.

Vino yang sedari tadi duduk disamping vania pun berdiri berniat mengajak pergi pria yang tadi menyatakan perasaannya pada sahabatnya.

Diluar kelas

"gue tau kata maaf gak bisa gantiin rasa malu lo. Gue cuma bisa ngasih ini"vino memberikan kertas yang berisi nomor wa dan id line di dalamnya. "gue harap ini bisa buat lo move on dari vania"sambil menepuk bahu pria itu kemudian berbalik kekelas.

Pria tadi hanya menghela napas dan berlalu dari tempat itu.

Dalam kelas

"kontak siapa lagi yang lo kasih vin?"tanya vania to the point.

"si aurel yang kemarin minta kenalan"vino duduk lagi disamping vania. Gadis berambut blonde itu cuma membulatkan bibirnya."lo kalo mau nolak cowok bisa gak sih pake cara halus aja. Mereka tuh cuma mau nyatain perasaannya van"entah sudah yang keberapa kali vino menegur vania mengenai caranya menolak cowok.

"trus gue harus gimana? Emang kenyataannya gitu kok"jawabnya tak peduli. Vino menghembuskan napas. Ia harus lebih sabar menghadapi sikap vania yang makin menjadi-jadi. Bukan sikap tapi lebih cocok dibilang penyakit.

¤¤¤

Vania berjalan masuk kedalam rumahnya setelah di antar pulang vino. Atau lebih pantas di sebut istana.

"kak axel udah pulang?"tanyanya pada salah satu pelayan ketika memasuki ruang keluarga.

"udah non, den axel ada dikamarnya"jawabnya sopan.

Tanpa berkata apapun,vania langsung berjalan memasuki kamar kakaknya.

Axel Malik Devarro, anak pertama dari pasangan Franzisko Defarro dan Michael Pretty Bramora.ayahnya adalah keturunan blasteran amerika dan prancis. Sedangkan ibunya blasteran indonesia dan inggris. Jadi tidak perlu ditanyakan lagi soal wajah dari axel dan vania. Ditambah lagi ayahnya adalah seorang pengusaha sukses diindonesia maupun luar negeri dan ibunya adalah seorang desainer terkenal di negara luar ataupun dalam.

Hal ini membuat mereka jarang berada dirumah. Axel dan vania memang kelebihan harta namun mereka sungguh kekurangan kasih sayang. Orang tua mereka menganggap bahwa uang adalah sumber kebahagiaan. Namun nyatanya axel dan vania tak pernah merasakan kebahagiaan bersama keluarga. Bahkan mereka tak mengerti arti kata simpel tersebut.

Vania membuka pintu berwarna coklat. Ia menghampiri pria yang saat ini tengah menatapnya dengan sorot rindu. Vania berjalan dengan senyum termanisnya menghampiri satu-satunya kesayangannya. Vania memeluknya.

"rindu~~"ujar vania manja. Axel membalas pelukannya dengan senyum manisnya.

"kakak lebih rindu"ia mengelus sayang kepala vania.

"gak, aku yang lebih rindu"seperti biasa, vania akan selalu merasa lebih daripada yang lain.

"iyaa deh, kamu yang lebih rindu"axel terkikik geli.ia melepaskan pelukan hangat itu dan menarik adiknya untuk duduk di sisi kasur kingsizenya.

"kok bisa kesini sih kak? Masih januari loh ini"vania membuka obrolan.

Kakaknya memang tak biasa datang awal bulan begini. Juni adalah bulan biasa ia datang ke indonesia. Bahkan ia hanya akan berada 1 bulan di indonesia karna saking sibuknya. Selama ini ia berada di italia untuk mengurus perusahaan ayahnya.

"perusahaan papa disini lagi ada kendala. Jadi papa nyuruh kakak ambil ahli. Mungkin sampai satu tahun kedepan kakak bakalan disini"jawaban axel membuat vania tersenyum senang.

Sejak lulus kuliah,axel sudah pergi ke italia. Tentu saja saat itu axel menolak untuk pergi dengan alasan ingin menjaga adiknya. Tapi keputusan ayahnya tidak bisa ia ubah. Dengan keyakinan yang diberikan vino bahwa ia akan menjaga vania dengan baik, akhirnya dengan berat hati ia pergi meninggalkan vania.

"kakak tinggal aja disini. Gak usah balik kesana. Vania kesepian dirumah"bujuknya dengan raut memelas.

"kakak juga maunya gitu, tapi semua papa yang atur. Nanti kakak bicarain dengan papa deh. Gak usah sedih, nanti cantiknya luntur."

"cantik aku gak pernah luntur,gak akan pernah. Yang ada tuh nambah!"kata vania sedikit emosi.

Axel terkejut mendengar perkataan vania namun ia langsung menggantinya dengan senyum manis miliknya. Awalnya ia tak percaya apa yang dikatakan vino itu benar adanya. Namun setelah melihatnya sendiri, ia mulai khawatir dengan kondisi adik tersayangnya.

"iyaa kamu tambah cantik, cantik banget"emosi vania mulai mereda.hanya kata itu yang bisa axel ucapkan untuk vania.

Axel tau apa yang dialami vania. Namun ia tak tau bahwa kondisi vania tak sama seperti dulu. Bisa dibilang vania mendekati zona merah.

'Apa yang harus gue lakukan sekarang?' Pertanyaan inilah yang sekarang bersarang di kepala sulung Devarro.



>=<

Voment yaa...

Perfect GirlWhere stories live. Discover now