Kali ini langit tidak mendukung untuk seorang gadis yang menunggu datangnya bis sekolah. Payung yang ditangannya berat karena tertimpa rintihan hujan yang deras.
Persiapan 2 minggu menjelang Olimpiade Sains yang ia ikuti cukup menguras tenaganya. Pagi hingga malam, ia habiskan untuk mengerjakan soal.
Selang menunggu, gadis itu beberapa kali mengecek hp-nya. Ramai notifikasi dari sahabatnya. Sedikit menganggu, jadi ia mematikan suara hp-nya.
Tak lama bis datang dan singgah di halte dekat rumahnya. Di dalam bis banyak berbagai macam anak sekolah dengan berbeda jurusan.
Gadis itu memilih duduk di depan karena ia lebih suka pemandangan langsung yang ada didepannya. Sesekali ia membaca materi tambahan yang diberikan gurunya.
...
Sekolah masih cukup sepi, gadis itu termasuk anak rajin yang selalu lebih awal masuk dibandingkan teman-temannya.
Dikelaspun, ia lebih memilih belajar. Mengerjakan soal hingga tak sadar kalau dikelas mulai ramai. Dan akhirnya datang guru.
Kalau pun orang lain akan terganggu dengan kelas berisik namun berbeda dengan gadis ini. Dia dapat fokus dengan pelajaran. Ya, sesekali dia ikut arus sahabatnya untuk mengobrol.
...
3 Desember 2018 - h-11
"Mar!!!" teriakan Liona, sahabat gadis yang bernama Marsha itu membuat dirinya terkejut.
"Liona berisik!" dirinya menjadi tidak fokus "Gua lagi ngerjain soal ih tinggal 11 hari lagi" . Liona, sahabatnya itu duduk disebelahnya.
"Iyaiya maaf, eh btw. Lo tau ga sih peserta2 Olimpiadenya siapa aja?" , Tanya Liona. Marsha menggeleng. "Sumpah nih ya gua denger2 ada satu peserta dari sekolah sebelah yang ganteng ikut" hebohnya.
"Siapa emang?"
"Katanya sih namanya ceye ceye gatau siapa hehe trus dia itu tinggi banget kyk tiang, pokoknya lo bakal liat deh nanti" celoteh Liona. "Mendingan udahan ih ngerjain soalnya ayo ke kantin!"
"Aduhh iyaiya berisik" Marsha pun kalah dengan Liona, mereka pergi ke kantin. Namun tak lepas dari bawaannya yaitu buku soal. (Sok an lu mar).
...
6 Desember 2018 - h-8
Hari semakin dekat, Marsha semakin nekat. Selama di sekolah, kantin, rumah, dimanapun berada matanya selalu membaca rangkaian soal maut.
Jari jemari yang menulis jawaban semakin penuh dengan coretan. Entah berulang kali Liona celoteh sana-sini tetap tidak dihiraukan. Dianggap angin kentut lalu dilupakan.
Kalau kali ini ia berada di sebuah kafe dekat sekolah, sendirian namun sudah terbiasa (mmpus jomblo). Yang ia pesan hanyalah air putih.
Seperti biasa, ia sendiri mengerjakan soal2 yang sudah lecek karena setiap hari di bawa kemana-mana. Ia yakin bahwa Ia akan menang nanti. Lagipula jika kalah, maka ia harus mentraktir Liona seminggu.
Selama di kafe ia hanya mendengarkan lagu di mp3 nya. Tidak terlalu menghiraukan sekitar hingga ada seorang laki-laki menyapa. Mungkin volume musik yang terlalu tinggi, Marsha sama sekali tidak mendengar apa-apa (budeg tolil).
Tiba-tiba, bahunya di tepuk pelan. Marsha kaget dan reflek membuka earphonenya.
"Permisi"
"Eh iya maaf saya pakai earphone" Marsha pun tengok ke arah suara itu.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.