Maret 2000 : Keluarga yang tidak menua "Aku Lani"

1 0 0
                                        

Saat itu aku baru berusia 3 tahun, saat aku fikir Ani adalah anak tetangga dari rumah belakang . rumah itu terbuat dari kayu, rumah panggung ala orang jaman dahulu di pesisir pantai, tidak seperti rumah ku yang sudah beton. Atok (panggilan orang melayu untuk menyebut "kakek") ku membangun rumah itu tujuannya dulu untuk menjadi gudang, namun karena barang di rumah tidak terlalu banyak, rumah dengan dua kamar itu akhirnya di sewakan.

Saat itu tentu aku tidak ingat kapan rumah itu berpenghuni, seingatku, setiap sore Momma akan mengajakku untuk bermain di halaman belakang sambil beliau sendiri membantu Nen ( Panggilan orang melayu keturan belanda untuk memanggil "Nenek") untuk mengurusi tanaman seledri airnya yang sangat banyak dan cantik.

Melani Rahayu namanya, aku ingat bagaimana pelafalanku yang tidak jelas memanggilnya Ani, kakak cantik dengan mata hitam seperti arang. Sangat cantik, dengan kullit sawo matang dan rambut panjang ikal. Hari itu dia datang dengan dress putih yang akan selalu dia kenakan untuk beberapa tahun kedepan selama aku mengenalnya.

Sore itu, Momma sibuk membantu Nen untuk mengurusi acara di kebun kecil yang akan di adakan. Momma bilang, untuk mendapatkan aku agar hadir di rahimnya itu sangat sulit, Momma harus menunggu bertahun tahun, dan kehilangan beberapa kakak kakak sebelum aku, hingga akhirnya aku mampu bertahan di rahim Momma dan turut mengambil peran di dunia ini.

Ani datang kepadaku dengan senyum yang cantik, namun sebagai anak kecil, entah sudah itu sebagai insting alami ku, aku menangis sekencang yang aku bisa, aku ingat bagaimana perasaan itu menyerangku, perasaan seperti takut Momma tidak ada di samping ku ketika aku bangun.

Momma datang dengan terburu - buru untuk menghampiri ku, dengan panik dia berkata, "Kenapa nangis Hanna?" tanyanya sambil mendekapku dan menepuk nepuk pelan bokongku lengkap dengan popok yang sudah penuh dengan pipis, saat itu motorikku lamban, Wang Tet, Dokter pribadi keluarga ku sempat menduga aku memiliki kelainan, sehingga saat usia dua setengah tahun, aku masih berjalan menggunakan alat bantu.

"atut, Momma..." hanya itu yang mampu aku ingat.

Kurasa Momma tidak mengerti perkataan ku saat itu, hingga dia hanya berkata, "popoknya sudah penuh ya nak ya, engga nyaman ya nak? ya udah, kita ganti dulu ya popoknya ya.."

Sore jam enam, masi menampakkan matahari di kampungku, aku ingat ketika bapak - bapak sekitar rumah datang dengan menggenakan peci dan sarung dan baju koko mereka menduduki kursi kursi yang sudah di siapkan Momma, Nen, Atok,dan Uwak - uwak ku.

Terdengar suara Kek Taharudin panggilannya membuka acara sore itu. Acara pengajian, ntah untuk apa, yang aku tau, aku berada di tengah tengah, duduk dalam pangkuan Momma, di sudut barisan banggku kulihat Ani, bersama dua wanita lainnya, yang belakangan nanti aku tahu itu nenek dan mamanya, tanpa ayahnya. Sama seperti Ani, mereka juga memiliki mata hitam seperti arang. Mama Ani menggunakan baju terusan berwarna coklat muda dan selendang kuning gading, sedangkan neneknya menggunakan kebaya biru, kain batik coklat yang dililitkan dan songkok rajut berwana putih kusam di tutupi selendang tipis berenda.

Aku ingat bagaimana mereka menatapku dengan padangan kosong, pandangan yang lama kelamaan terlihat marah ketika kek taharudin memulai acara pengajian, aku heran ketika mereka perlahan menghilang. Aneh. namun terakhir yang aku ingat, Momma menagis memelukku, dan semuanya gelap.

Keesokkanya, seperti biasa aku terbangun menangis karena popok ku sudah penuh, memanjat keluar dari bunker bedku yang terbuat dari kayu mahoni. Bunker bed itu memiliki pagar yang tinggi, jika kau heran bagaimana anak kecil berumur tiga tahun bisa memanjat keluar dari bunker bed semacam itu, itu karena aku di bantu Ani, entah dari mana dia datang, yang aku tahu, ketika aku terbangun, dia sudah berada di samping Bunker bed ku, mengelus pipi ku yang menjadi faktor lain yang menyebabkan aku terbangun..

Ani dengan perlahan membantu keluar dari bunker bed, dulu orang di kampungku belum paham akan teknologi, jadi cctv bukan hal yang terlalu penting. Momma kaget ketika aku sudah berjalan ke arahnya, saat itu dia sedang ada di dapur bersama Nen, menyiapkan makan siang sebelum Atok pulang dari ladangnya.

Besok Atok, dan Nen akan kembali ke Jakarta, Atok berkerja sebagai anggota dewan komisi X saat itu di jakarta, itu menyebakan kami tinggal terpisah, kali ini Nen yang menggendongku sambil di elus elus pelan dia berkata "eh, uda bangun cucu Nen?, kenapa? lapar iya? eleu eleuhhhh, makan yok, Nen suapin yaaa.."

Dan akupun makan sambil berpandang padangan dengan ani yang berdiri dengan diam di dekat pintu dapur yang terbuka dan langsung memperlihatkan rumahnya. Kulihat di belakangnya Nenek dan Mamanya yang juga berdiri di depan pintu rumah sambil memandangku.

Siang harinya ketika aku bermain seorang diri di teras depan, Sepupuku Olivia, sepupuku yang umurnya hampir sama dengan ku datang, bersama uwakku (paman, kakak dari Momma). Siang itu, sebenarnya aku sangat itu ingin bermain bersama Oliv, dia hanya lebih tua satu tahun di banding aku, namun perhatian ku teralihkan, Ani tiba - tiba muncul di samping ku menarik tubuh kecil ku dalam dekapannya, saat itu aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya.

"Adek kecilllll..." riang, kali ini dia riang. "Adek kecil namanya siapa? aku Lani... kamu?"

"Na.. Hanna.." mungkin saat itu pelafalanku belum jelas, sehingga Ani akhirnya memanggilku Anna.

"Ana, main sama Lani yuu.." tawarnya.

"Main.." kataku sambil menyodorkan mainanku, Ani menemaniku bermain, hingga akhirnya aku lupa, aku saat itu sangat ingin bermain dengan Oliv.

Mulai saat itu,secara resmi Ani menjadi teman bermain seorang Hanna.



You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 29, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hanna's Diary.Stories to obsess over. Discover now