Prolog

25 4 0
                                        

Hampa. Sepi. Kosong.

Mungkin hal hal itulah yg saat ini menghiasi perasaan gadis kecil dengan kerudung hitam yang menutupi kepalanya itu. Ia terdiam kaku melihat gundukan tanah tempat kedua orangtuanya dimakamkan. Ia tak menangis atau bahkan meraung, ia hanya memegang dadanya dan sesekali memejamkan matanya. Rey memperhatikan setiap hal kecil yg dilakukan gadis kecil itu sejak beberapa jam yang lalu. Ia tak mengenal gadis kecil itu, bahkan ia pun tak tahu mengapa memilih memperhatikannya dari jauh seperti ini, sedangkan semua orang sudah pergi.

Tapi, yang jelas ia benci ini.

Rey sangat benci perpisahan jenis apapun, ia tak pernah menyukainya. Ia masih ingat jelas bagaimana perpisahan tak mengenakkan beberapa tahun lalu saat ia harus melihat kakaknya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ya, selamanya. Seperti yang dialami gadis kecil itu saat ini. Kehilangan kedua orangtuanya untuk selamanya.

Tadinya ia hanya mengikuti kedua orangtuanya yang katanya menengok salah satu rekan bisnis mereka yang meninggal dunia karena kecelakaan, ia tak pernah menolak keinginan orangtuanya. Sejak kepergian sang kakak, Rey menjadi lebih tertutup dan pendiam ia bahkan tak banyak bicara, saat dipinta melakukan sesuatu ia akan melakukan sebisanya tanpa membantah atau mengatakan apapun, seperti pagi tadi, ia hanya mengikuti kemana kedua orangtuanya pergi. Namun, entah apa yang membuatnya berdiri disini bahkan disaat tempat ini sudah sepi dan orangtuanya pun sudah pulang tapi Rey memilih tinggal lebih lama disini, melihat gadis itu.. Entah kenapa seperti melihat dirinya dulu, Saat ia ditinggal sang kakak. Tapi bedanya gadis itu terlihat terlalu tegar. berbeda dengan dirinya, yang saat itu meraung, menangis, dan marah pada semua orang, menyalahkan semua yang ada disana.

Ketegaran gadis kecil itu terlihat jelas saat beberapa jam lalu ia ikut dengan keluarga besarnya mengucapkan terimakasih pada tamu karena telah hadir dalam pemakaman orangtuanya, meskipun Rey dapat melihat jelas sorot mata terluka gadis kecil itu. Tapi, ia tak memperlihatkan lukanya. Gadis kecil dengan kerudung hitam itu hanya tersenyum seolah semua baik baik saja. Jadi mungkin itulah alasannya mengapa Rey bisa tetap diam disini, Rey hanya penasaran melihat gadis itu memperhatikan makam kedua orangtuanya setelah orang orang berlalu lalang sejak tadi.

ya, mungkin karena itu.

Rey berjalan mendekat..

Namun, langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara yang terdengar parau,

"ayah, bunda.." Rey bergeming mendengar suara itu. Suara yang harusnya terdengar lucu jika saja tak menyiratkan luka didalamnya.

"Dei sekarang... bahagia ko, Kata Paman... Ayah sama Bunda udah bahagia di Surga.. Ayah sama Bunda gaakan kesepian disana–" jeda beberapa detik, gadis itu menghapus setetes air mata yang keluar dari pelupuk mata dengan jari jari kecilnya, sambil menahan isak gadis itu meneruskan ucapannya
"malah.. sekarang.. Dei yang kesepian..." Rey memilih tak melanjutkan langkahnya dan bergeming ditempatnya, ada getaran aneh dihatinya saat mendengar suara parau tadi.

Rey tak tahu berapa lama ia terdiam, karena detik berikutnya saat ia tersadar gadis itu sudah berdiri sambil membersihkan bagian ujung pakaiannya yang terkena tanah,"Ayah sama Bunda baik baik ya disana.." menarik napas gadis itu melanjutkan "Dei janji akan selalu kesini.. Assalamualaikum.."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 17, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

REASONWhere stories live. Discover now