Ku Kejar Mimpiku Di Luar Pulau Sulawesi
Karya: Juliana
Di setiap perjalanan hidup seseorang harus menanamkan sebuah cita-cita untuk kehidupan selanjutnya dan di setiap cita-cita seseorang tidak semua bisa mewujutkannya. Banyak orang yang bercita-cita tapi masih saja sulit untuk konsisten dengan arah tujuan yang akan di capai. Cita-citanya setinggi langit namun masih saja memiliki 1000 alasan yang perlu seharusnya kita rubah dan 100 orang yang memiliki cita-cita akan tetapi tidak semua di antara mereka mampu berdiri di setiap tujuan atau cita-citanya. Mereka percaya nasib, namun mengapa dia tidak percaya dengan adanya sebuah takdir, seseorang bisa merubah takdir asalkan seseorang itu mampu merubah pola pikirnya.
Dulu aku pernah gak percaya dengan sebuah takdir, terbukti saat semua pihak keburukan justru melanda keluargaku, aku gagal melanjutkan pendidikanku saat aku ingin mengenyam dunia perkuliahan.
Banyak sekali yang menjadi penghambat mengapa aku harus berhenti dan membuang semua angan-angan ku untuk bisa melangkah selangkah laki untuk melanjutkan dunia pendidikan.
Meski hasratku seringkali meronta-ronta dalam batin ini untuk tetap bisa kuliah, namun apalah dayaku ini adalah ke-egoisan dalam sebuah bingkai kesetaraan, abahku sudah tidak mampu untuk bekerja seperti dulu lagi bukan karena factor usia, namun karena penyakit yang bersarang di tubuhnya sehingga beliau tidak lagi di perbolehkan untuk mengangkat beban terlalu berat, ketakutan keluargaku yaitu ketika penyakit usus turun abahku kambuh. Sulitnya akses untuk kerumah sakit ataupun puskesmas sangatlah jauh.
Aku anak pertama dari ke tiga saudaraku yang akrab di sapa ica sebuah nama sangat singkat dengan deratan tiga huruf. Aku hidup di sebuah desa jauh dari kata keramaian dengan di lingkari bukit pegunungan, sebuah desa bernama cendana di daerah Sulawesi selatan.
Abah dan emmaku adalah asli orang bugis, dan tidak semua orang tau mengenai suku bugis, mungkin kalian banyak yang belum tau mengenai suku bugis, suku bugis merupakan suku asli dari Sulawesi selatan yang masih sampai sekarang ini masih sangat kental dengan adat istiadatnya.
Karena sulitnya menerima adanya sebuah kenyataan pahit yang harus ku terima membuatku terpuruk dan hancur akan semua keputusan yang di berikan oleh abahku. Batin ini tak kuasa menahan penolakan dari seorang lelaki yang sudah tidak mudah laki.
“bukannya abah tidak ingin memberimu kesempatan untuk melanjutkan kuliahmu nak, hanya saja abah takut ketika suatu hari nanti abah sudah tidak sanggup lagi untuk memberimu nafkah dan sudah tidak sanggup lagi membiayai kuliahmu nak, abah tidak ingin kamu berhenti di tengah-tengah saat kamu sedang berproses tapi justru harus berhenti di tengah jalan abah tidak ingin kamu malu karena abah nak”. Ujar abahku sambil menatapku dengan senyuman di bibirnya.
Aku tau abahku tidak ingin membiarkanku menangis karena perkataannya. Namun apalah dayaku, kata-kata itu benar-benar mengiris batinku, aku tak bisa membendung air mata ini hingga semuanya mengalir di pipi deras bagaikan aliran sungai.
“maafkan ica abah, mungkin ica terlalu banyak menuntut hingga membuat abah harus menderita penyakit ini, ica benar-benar minta maaf abah” kataku sambil menangis di depan lelaki tua yang ku panggil abah. aku tau ini adalah sebuah keegoisan yang lahir dari pikiranku yang membuat batin abahku semakin sakit jika aku terus merenget di depannya. Aku sadar semua ini adalah sebuah takdir yang harus ku terima.
Sebulan lamanya telah berlalu, aku merasa bahwa ada baiknya jika aku mencari pekerjaan saja. Hingga suatu hari ada hasratku untuk memberitahukan kepada abah yang menjadi keinginanku ini. Aku mulai mendekati abah saat itu sedang duduk di pojok rumah sambil menikmati kopi pahit. Dalam untaian kata dalam hatiku, aku merasa ini adalah momet tepat untuk mengatakannya, dan aku berharap semoga saja ada lampu hijau dari emma dan abahku.
“abah, emak, ica pengen ke kota untuk cari pekerjaan, agar bisa membatu ekonomi abah dan emak agar juga bisa membantu biaya sekolah adik” kataku kepada abah dan emmakku dan mulai mengusulkan niat ini
“nak , apa selama ini abah tidak mampu memberimu makan hingga kamu ingin bekerja di tempat orang lain?, kamu kira mencari pererjaan di kota itu gampang, abah tidak ingin kamu merasa kesusahan di tempat orang lain”.kata abahku yang menatapku dengan sangat serius.
“ica hanya ingin membantu abah sedikit, selama ini sudah cukup abah melarang ica untuk ke kebun membantu abah dengan alasan ica lebih baik belajar, sekarang ica sudah tidak sekolah lagi bah gak seperti dulu lagi. Abah, ica hanya tidak ingin abah terus bekerja terlalu lama di kebun abah kan sudah tua dan sekarang ada penyakit yang sedang mengintai keselamatan abah. Maafin ica abah, ica hanya ingin abah selalu baik-baik saja. Ujarku pada abah sambil menundukkan kepalaku.
“ maafkan abah nak, yang selama ini tidak pernah paham apa yang menjadi keinginan terbesarmu, jika itu menjadi keinginanmu sekarang, abah hanya bisa mendoakanmu semoga kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja nak” kata abahku. Meski dalam hatiku mengatakan keinginanku kali ini sebuah permintaan terberat yang harus di terima oleh abah, karena sebelumnya aku tidak pernah terpisahkan oleh abah dan emmakku , namun mengapa di saat usia ini berumur 17 tahun aku harus terpisahkan dengan alasan ingin membantu perekonomian keluargaku.
YOU ARE READING
Mengejar Mimpi Diluar Pulau Sulawesi
Short StoryFaktor ekonomi rendah merupakan salah satu penyebab seseorang tidak melanjutkan pendidikannya, oleh karena itu saya menceritakan seorang anak yang mengetahui bahwa orang tuanya tidak mampu membiayai anaknya untuk kuliah, akan tetapi karena orang tu...
