AWALKU

53 16 6
                                        

         Ini adalah cerita yang pernah kutulis sekitar tahun 2012. Akhirnya, berusaha kulanjutkan untuk meramaikan anniv GWT . Jadi, mohon maaf kalau misalnya kacau baik tanda baca maupun jalan ceritanya    

            Melelahkan,sungguh sangat melelahkan! Telah seminggu ini aku resmi menjadi tenaga pendidik di sebuah taman kanak-kanak bergengsi di kotaku. Pagi sekali aku sudah harus berada di dalam kelas, untuk mempersiapkan segala pelajaran untuk para murid sebelum mereka semua tiba .Ini adalah pengalaman pertamaku menghadapi murid yang berusia empat sampai enam tahun.

             Setiap hari sebelum pelajaran dimulai, aku harus mempersiapkan segala peralatan permainan yang bersifat edukatif, untuk kugunakan sebagai media dalam pelajaran. Terkadang aku juga harus menahan rasa jijik karena salah satu dari mereka buang hajat di seragam.Tapi, aku tidak mempunyai pilihan selain bekerja sebagai tenaga pendidik di TK, jika aku masih mau hidup tanpa mengharap uang dari orang tua, karena sekali saja aku berteriak meminta, maka ultimatum untuk kembali ke kota kelahiranku akan terucap dari bibir papa. Selama ini, aku telah berkali-kali berganti pekerjaan. Pekerjaanku yang pertama adalah sebagai tenaga administrasi di salah satu biro perjalanan, pekerjaanku yang kedua adalah sebagai sekretaris di salah satu biro konsultan pertanahan, yang ketiga adalah kembali menjadi sekretaris di salah satu kantor notaris terkenal. Pekerjaan di kantor notaris inilah tempat bekerja terlama bagiku. Tiga tahun kuhabiskan waktu bekerja di tempat ini. Aku merasa nyaman dengan atasanku yang selalu berlaku baik dan tak pernah mempermasalahkan kehidupanku di luar pekerjaan. Aku memutuskan berhenti di tempat kerja ini, karena atasanku memutuskan untuk merekrut patner di kantor notarisnya. Aku tak akan berhenti, jika patnernya adalah pria baik-baik, yang tak pernah berusaha menyatakan cinta noraknya.

            Telah lima tahun aku merantau ke kota ini. Sengaja kutinggalkan kota Bandung, kota kelahiranku, demi tak ingin menjadi beban orang tuaku lagi. Dengan berbekal ijasah sarjana pendidikan usia dini, kuberanikan diri untuk mengadu nasib di tempat yang saat itu belum aku ketahui. Yang ada dipikiran saat itu, aku ingin pergi sejauh mungkin dari tempat yang lebih banyak menyimpan kenangan buruk daripada kenangan indah.

            Akhirnya, di Bontanglah aku mendamparkan diri. Di kota yang masih terbilang kecil. Kota ini dapat aku jelajahi tak lebih dari satu hari. Sungguh berbangding terbalik dengan kota Bandung, selain memiliki wilayah yang cukup luas, macet dimana-mana juga akan terpampang nyata di hampir semua ruas jalan.

            Kehidupan pertamaku di kota perantauan benar-benar menyakitkan. Aku harus terbiasa dengan hidup serba irit serta kekurangan. Kehidupan yang benar-benar bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan kehidupanku di Bandung. Aku yang terbiasa dengan kamar mandi di dalam kamar, kali ini harus membiasakan diri berbagi kamar mandi dengan lima penghuni kost lainnya. Benar-benar menyebalkan! Lima bulan aku harus terbiasa hidup sebagai pengangguran, yang kerjanya hanya berkeliling kota mengantarkan surat lamaran ke berbagai kantor. Lima bulan itulah masa transisi yang benar-benar menyakitkan untuk kujalani. Aku harus menahan diriku agar tidak melangkah kesalah satu salon untuk mempercantik diri, aku harus memaksa perutku untuk mengkonsumsi mie dan telur, aku harus membiasakan diriku untuk tidak berbelanja pakaian dan segala atribut cewek yang terbilang mahal untuk kondisiku saat itu. Benar-benar menyakitkan!

            Hufft...itulah cerita awal yang menyakitkan di tempat perantauan. Kini, secara perlahan kehidupan ekonomiku mulai membaik. Kini aku telah mengontrak sepetak rumah, walau kecil, tapi lumayanlah, aku tak harus berbagi kamar mandi dengan penghuni kontrakan yang lain. Sedikit demi sedikit kuisi rumah kecilku dengan barang-barang yang menurutku harus kumiliki. Saat menerima gaji pertama, kutekadkan untuk mencari rumah kontrakan, walau kecil tak masalah bagiku. Aku tak ingin berbagi kamar mandi lagi!

Mata Uang CintaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora