Prolog

6 2 0
                                        

Zhafira—kerap disapa Ara—melirik jam yang tertera di ponselnya. Masih 6.00. Lumayanlah, masih ada waktu satu setengah jam untuk bersiap dan berangkat ke sekolah.

Ara sudah mempersiapkan segalanya dari kemarin. Mulai dari seragam, alat tulis baru, tas, sepatu, dan yang berhubungan tentang sekolah. Ara sangat exited untuk memulai hari pertamanya masuk sekolah, setelah libur kenaikan kelas beberapa minggu kemarin.

Ara bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan rutinitas yang selalu ia lakukan 3 kali sehari itu.

Setelah mandi dan memakai seragam, Ara langsung turun ke lantai bawah. Disana sudah ada Ina—Mama Ara—dan juga Saga—Abang Ara. Mereka bertiga sarapan bersama, setelah sarapan Ina berpamitan kepada kedua anaknya. Berhubung Ina adalah seorang guru, jadi dia harus datang tepat waktu. Setelah Ina pergi Saga segera mengantar Ara ke sekolah, lalu ia sendiri akan berangkat ke kampus. Mumpung hari ini Saga ada kelas pagi.

Ara berjalan menyusuri koridor utama dan berhenti tepat di depan papan mading. Tangannya dengan cekatan mencari namanya.

Sherilya Zhafira Aghata kelas XI IPA 4

Ara memekik senang mendapat namanya yang tertera di kolom kelas XI IPA 2. Perjuangannya selama setahun belajar di kelas X tidak mengecewakan. Kemarin Ara menempati kelas IPA 3. Sekarang sudah naik satu tingkat.

Mata ara melihat sekeliling, para murid telah mulai berdatangan dan berbondong-bondong mendatangi mading. Tujuannya sama dengan Ara, ingin melihat di kelas mana mereka sekarang.

Ara mulai mundur, berjalan meninggalkan mading dan berbelok ke arah barat dimana tangga ABG menghubungkan kelas IPS dan IPA berada.

"Eh, lo!" Kakinya baru akan melangkah namun Ara mendengar suara panggilan seseorang. Ara berbalik, melihat seorang cowok berpenampilan agak rapi, dan di bahu kanannya masih tersampir tas ransel warna hijau army. Mungkin baru tiba. Berlari ke arahnya.

Kepala Ara menoleh ke belakang, siapa tau bukan Ara yang dipanggil. Namun, tidak ada siapa-siapa selain dirinya di tangga ini, dan juga cowok tadi jelas menatap matanya.

"Kenapa?" Tanya Ara. Matanya Menelisik wajah cowok itu, wajahnya sama sekali belum pernah ia liat. Sudah pasti Ara tidak punya urusan dengannya.

Cowok itu kini sudah ada didepannya, lumayan tinggi sebab Ara sedang berdiri di anak tangga kedua membuat tingginya dan tinggi cowok itu sama. Beruntung cowok itu tidak ikut naik di tangga. Bisa-bisa leher Ara kecengklak akibat kelamaan mendongak.

"Kenapa?" Tanya Ara sekali lagi. Memastikan cowok didepannya ini masih berada di alam bawah sadar atau tidak.

Butuh waktu beberapa detik, akhirnya si cowok mengeluarkan suara. "Gue Purtha. Purtha Prasetyah. Lo?" Ucap cowok itu. Ara tidak mengerti apa maksud cowok itu memperkenalkan diri padanya.

"Fira." Jawab Ara balas memperkenalkan diri. Tangannya sedari tadi sudah menarik-narik tali tas ransel miliknya.

"Maaf, kena—" belum sempat menyelesaikan pertanyaan, cowok itu memotong seenak jidat dengan perkataan yang mampu membuat Ara tercengang.

"Gue Purtha, elo Fira. Sekarang, hari Senin tanggal 12 kita resmi pacaran. Kelas gue di kelas XII IPS 1, gue minta lo datang di aula sekolah pas jam istirahat pertama. Gaada penolakan. Bye Pacar." Ucap Purtha. Menaiki satu anak tangga, mencondongkan wajahnya ke depan. Mengecup singkat kening Ara. Setelah itu berbalik menuju kelasnya.

45 detik. Purtha mengucapkan kalimat—yang entah serius atau cuma bercanda—itu selama 45 detik. Dan sukses membuat Ara tidak bisa mengedipkan matanya. Tangannya meraba keningnya, sedikit mengusap. Detik selanjutnya, kepala Ara menggeleng kiri kanan sambil goyang dua jari, eh?

Ara menggeleng sambil menggumam, "Kayaknya dia kebanyakan masalah deh, stres gitu. Ck." Ara berdecak dan segera naik ke lantai atas. Ke kelas barunya.

New Class, Ara's coming.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 21, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Struggle (Uthara)Where stories live. Discover now