'aduh'
Seketika darah bercucuran melewati pelipis Naya yg tadi tak sengaja menabrak ujung pintu.
"Mah... Tolong Naya mahh" suara parau Naya berhasil mendatangkan Ariela-mama Naya
"Ya ampun sayang, ayo ikut mama ke kamar" Mama sesegera mungkin membawa Naya ke kamar lalu merebahkannya di atas kasur king size warna hitam miliknya.
Aku Nayara, aku tidak tau penyakit apa yg sedang aku hadapi saat ini, penyakit yg selalu membuatku merasakan sakitnya transfusi darah dan membuatku terkurung di rumah ini. Harusnya aku udah kelas 10 SMA sekarang, tapi karena penyakit ini, aku tidak diperbolehkan untuk merasakan masa masa indah di SMA.
"Naya, kamu pingin sembuhkan nak." Tanya Mama melihatku prihatin
"Iya ma, Naya pingin sembuh. Bantuin Naya mah supaya bisa sembuh, Naya capek mah sakit terus, Naya pingin sekolah kayak anak anak normal lainnya."keluh Naya memandang Mama lesu.
"Naya harus janji tapi sama Mama, kalo Naya mau sembuh, Naya gak boleh protes dengan bagaimana cara penyembuhannya, karena ini cara terakhir nak."tukas Mama membelai pelan pipiku.
"Iya mah, Naya janji gak akan protes , asalkan Naya sembuh"ucap Naya bersungguh sungguh.
Mama pergi sebentar lalu datang bersama Papa dengan membawa seseorang berjubah hitam. Orang itu memakai penutup kepala dan membawa sebuah kotak berdebu. Lalu ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah botol kaca dengan cairan berwarna biru terang di dalamnya.
"Minum!" Perintah orang itu, suaranya serak, tangannya terulur memberikan botol itu pada Naya, tangannya pucat.
Naya meraih botol itu dan membuka penutupnya seraya melihat ke arah Mama dan Papa, ia lihat keduanya meneteskan air mata melihat Naya menegak setengah dari cairan biru tadi. Seketika tubuhnya melemas, cairan tadi sudah ia berikan pada si Jubah Hitam.
Sempat terdengar Mama mengucapkan 'selamat tinggal' sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
👄👄👄👄👄
Naya terbangun dengan mendapati seseorang tengah menggenggamnya,
lalu ia lihat ternyata Mama tertidur dengan Papa yg berada di sisi kanannya- ia termenung.
"Pah... Mah..." Suara serak Naya membuat Papa tersadar dari lamunannya, ia tersenyum getir lalu membangunkan Mama di sebelahnya.
"Mah... Naya udah sadar mah." Papa mengguncang pelan bahu Mama.
"Hah?" Mama bangun lalu memperhatikan Naya selanjutnya Mama langsung memeluknya.
"Sayang... Mama kangen, akhirnya kamu sembuh sayang, kamu gak sakit itu lagi." Ucap Mama dalam pelukan Naya.
"Beneran mah? Aku udah sembuh? Tapi kok aku ngerasa aneh ya Mah, aku gak ngerasain dingin atau panasnya ruangan ini" Ucap Naya seraya meraba raba udara di dekatnya.
Mama dan Papa saling memandang lalu mengangguk tanda setuju.
"Sayang, Papa minta maaf ya Papa gak bisa jaga kamu dengan baik , kamu sekarang Vampire nak. Itu satu satunya jalan supaya kamu bisa normal kayak anak anak lainnya, maafin Papa ya nak" Ujar Papa detail membuat sekujur tubuh Naya membeku.
'Apa aku vampire? aku gak terima, gak mau jadi vampire, ini sama aja aku tetap beda dengan yg lainnya'.
"AKU GAK MAU JADI VAMPIRE PAH, GAK MAUUU! AKU MAU NORMAL, NORMAL ITU GAK PUNYA PENYAKIT IDAPAN ATAU SEMACAMNYA! INI SAMA AJA! AKU BUKAN VAMPIRE! KELUAAAR! TINGGALIN AKU SENDIRIII! AKU BILANG KELUAAR!"
Naya tak percaya apa yang ia lakukan itu pertama kalinya ia membentak kedua orang tuanya. 'Maafin Naya Mah.. Pah.. Naya gak maksud gitu' air matanya turun tanpa di minta, bahunya bergetar diiringi suara tangis yang tak dapat lagi bendung.
Beberapa jam kemudian.
Sungguh rasa haus menjalar di kerongkongan disertai lapar yang makin membuat Naya sulit untuk berfikir . Terdengar suara ketukan pintu membuat Naya tersentak kaget.
"Masuk aja, aku gak bisa buka pintu lagi lapar sama haus."
Ucapan Naya membuat si pengetuk berhenti mengetuk, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh. Keliatan sekali tadi kalo orang itu tidak bawa sesuatu untuk di telan.
Krieett..
"Uwaaaa.... Kamu siapa? Ngapain bawa begituan pergi ihh" Naya berteriak melihat apa yang di bawanya segelas darah-yg ia tau soalnya sirup gak akan sepekat itu warnanya- dan beberapa benda aneh.
"Tidak usah banyak bicara, dan lo gak perlu tau nama gua. Minum ini! Lo seharian gak mau keluar. Gua bukan pelayan lo." Dia menyodorkan segelas darah yang di genggamannya.
"Gak mau! Aku gak minum begituan, kamu kira aku apaan minum itu." Naya menjauh darinya yang semakin dekat menyodorkan gelas itu padanya. Ya sebenarnya ia udah ngiler tadi liatin itu darah, 'eits kamu apaan sih Nay! Mau minum begituan'
"Lo vampire dan cukup menyakinkan kalo lo juga udah ngiler liatin ini darah." Dia menaruh darah itu di nakas.
"Aku bukan vampire dan siapa bilang aku ngiler liat itu darah, jijik iya kali" Naya udah muak, ia lapar sekali. Gaada waktu untuk ngomel sama orang ini.
"Ya udah deh gua buang aja nih darah, biarkan aja gua juga udah kenyang gak mungkin 'minum' lagi." Dia mengambil darah yang tadi diletakkan di nakas.
"Eits jangan, maksud aku kan tadi itu udah di niatin buat aku gak bisa di ambil gitu doang." Naya menyambar gelas dari tangannya dan langsung menegaknya, entah dari mana ia sudah terbiasa minum ginian.
"Ini lo pake, ortu lo bilang kalo lo mau sekolah di luar kayak anak normal."
Dia menyerahkan sebuah cincin perak, bentuknya sih biasa tapi di situ ada ukiran bahasa gak jelas gitu.
"Buat apaan dah beginian, banyak aku begituan yang lebih bagus tentunya." Naya menolak mengambil cincin itu.
"Supaya lo gak kebakar waktu jalan di bawah sinar matahari, ingat lo Vampire." Cukup menegaskan kalo waktu gak bisa di ubah, ia tetaplah seorang Vampire.
"Iya dah iya.. ntar dulu, kita belom kenalan loh, aku Naya kamu siapa dan KENAPA ADA DI SINI!!!" Refleks Naya berteriak.
'siapa ia?' Naya kembali menggenggam selimutnya lalu memojok ke sudut kasur.
"Di awal gua udah bilang, lo gak perlu tau gua sapa, tujuan gua kesini karna ortu lo manggil gua buat jadi pelayan lo" Bahasanya jadi sedingin tadi.
Dia lalu memberikan beberapa barang lainnya dan menyebutkan fungsinya. Setelah itu pergi dari kamar Naya. Setelah orang aneh itu pergi Mama masuk ke kamar dengan muka sedih.
"Sayang, Mama minta maaf ya... Tapi kan tadi juga kamu udah janji sama Mama gak bakal protes asal kamu sembuh." Mama menatapnya dengan berkacak pinggang.
"Ya udahlah udah terlanjur juga, tapi Naya mau sekolah di luar gak mau tau titik." Naya juga ikut berdiri di atas kasur dan berkacak pinggang.
"Kalo itu kamu harus tunggu bulan depan, soalnya ini udah holiday." Ujar Mama melembut lalu menarikku untuk duduk kembali.
"Naya masuk sekolah mana Mah?" Ia udah tidak sabar ingin sekolah di sekolah luar.
"SMA Permata bareng sama anaknya tetangga sebelah, sahabatmu Keenan."
Yah Naya lupa kalo ia punya satu sahabat dari ia kecil, ibunya selalu menyuruhnya untuk bermain bersama Naya tanpa melukainya, dia di beritahu Naya memiliki penyakit yang begitu aneh itu.
Aku Nayara akan melewati hal baru dalam hidup ini. Bersekolah dan beraktivitas seperti manusia lainnya. Dan yang perlu kalian ketahui aku seorang Vampire.
👄👄👄👄👄
YOU ARE READING
Beautiful Vampire
VampireDaren "Gila ya itu cewe, kagak tau malu banget dah.pusing gue ,untung bukan cewe gue!" Nayara "Sumpah gue capek banget buset, itu cowo kagak capek apa gue kejarin mulu"
