Part 1 - Basel

263 9 0
                                        


Sebuah Bentley roadster melaju dengan kecepatan sedang memasuki kota kecil kosmopolitan yang menjadi 3 perbatasan Swiss - Jerman - Prancis yang identik dengan kawasan seni dan budaya. Mobil pabrikan Inggris itu berhenti di sebuah grand hotel di jantung kota tua Basel, tepatnya di tepi sungai Rhine, yang menyajikan pemandangan sungai Rhine malam hari dan kemewahan arsitektur bangunan berseni.

"Dyo kau yakin tidak akan masuk?" tanya sang kakak pada adiknya di kursi kemudi.

"Kau mau aku masuk dengan sweater dan celana khaki?" jawab pria berlengkapkan nama Dyo Liu tersebut dengan nada menyindir. "Aku sudah ada janji kencan."

Gadis di sebelahnya, Kay Liu, hanya mendecih. Kepergian mereka dari Bern ke Basel yang memakan waktu 1 jam justru digunakan Dyo mengencani koleksi gadisnya yang tersebar dimana-mana. Kay sudah tak bisa berkata-kata, ia sudah terbiasa.

Ayah mereka, Mark Liu, melakukan perjalanan bisnis dan meminta Kay untuk datang menggantikannya ke pesta ulang tahun anak dari sahabatnya, seorang pebisnis muda sekaligus pemilik travel multinasional, LS Holding.

Kay melirik ponselnya memeriksa balasan pesan dari seseorang. Lalu, membawa hadiah berisi jam tangan bermaterial emas 22 karat di tangannya sebelum turun dari Bentley berwarna ruby red yang dikemudikan Dyo.

Gadis berwajah cantik Asia itu menginjakkan kaki jenjangnya keluar, mendongak percaya diri dengan rambut cokelat yang dibiarkan terurai. Tatapan dari mata almond beriris hazelnya tampak memukau. Gaun backless dengan high slit memamerkan punggung putih mulus dan sepanjang kakinya tanpa cela. Disempurnakan taburan berlian di garis lehernya yang elegan.

Namun tiba-tiba saja...

"Kay!"

Kay memejamkan mata seraya merutuk dalam hati mendengar panggilan dari seorang pria yang ia kenal. Pria itu adalah Grey, anak pengembang real estate mewah yang terkenal di penjuru Eropa Tengah. Akhir-akhir ini Grey terang-terangan mengejar Kay hingga gadis itu dibuat jengah, bahkan jengkel.

Kay menoleh ke belakang melihat pria berkulit tan itu berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil, "Jalan jalan jalan!" pekiknya panik saat Grey mengetuk kaca mobil.

Kay menghela napas panjang sambil bersandar lega ketika meninggalkan Grey di belakang. Ia terhenyak untuk sesaat, merasa janggal. Netranya menangkap interior design yang seharusnya didominasi warna krem berubah hitam, juga campuran aroma oak, musk, dan kayu cendana yang mampir ke penciumannya memberi kesan hangat dan misterius.

Sejak kapan Dyo semaskulin ini?

Kay menolehkan wajahnya ke samping, tepatnya ke kursi kemudi. Ia tercekat, matanya membulat sempurna kala melihat sosok yang tidak ia kenal, "Kau siapa?!"

Tersangka pria tak acuh, hanya terdengar helaan napas pendek sebagai respons. Mobilnya parkir sempurna pada area private parking. Lalu, pria bersetelan grey suit dengan waistcoat senada itu menoleh ke arah Kay yang masih terkejut. Satu alisnya terangkat tipis, "Kau siapa?"

Kay tergeragap, "M―maaf a―aku pikir mobil adikku, warnanya serupa," kilahnya.

Masih dengan wajah datar, pria itu kembali bertanya, "Apa warna mobil adikmu?"

Kay mengernyit tipis sebelum akhirnya menjawab, "Ruby red."

"Bagus sekali. Mobilmu ruby red, mobilku hammerhead silver," ujarnya satir, mengalihkan pandangan sekilas lalu menatap gadis di depannya lekat-lekat. "Kau memiliki penglihatan yang buruk."

Why Are You Hiding?Stories to obsess over. Discover now