Langit biru memberikan secercah harapan padaku karena setelah menatap indahnya langit mataku turun ke arah jalan kulihat seorang wanita yang terlihat lebih dewasa dariku. Dengan langkahnya yang anggun dan tangannya mendorong pintu kaca butik dimana aku sedang berdiri membenahi lengan baju yang baru saja kupasangkan pada mannequin cantik ini.
Ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai pelayan butik. Aku berharap dapat beradaptasi di tempat ini. Dengan semangat anak baru yang tinggi aku pun menebar senyum pada wanita yang sepertinya akan menjadi pelanggan pertama yang aku layani.
"selamat pagi kak! Silahkan melihat, ini atasan wanita yang baru saja datang. Bahkan baru dipajang" kataku mengarahkan tanganku kearah mannequin disebelahku.
Dia tersenyum terkejut dan sepertinya agak bingung hingga membuatku berpikir apakah itu pernyataan yang salah. Rasanya tidak, aku sudah memperhatikan bagaimana pegawai lain yang notabenenya adalah seniorku di butik ini.
"anak baru ya?" dia bertanya. Dan aku mengangguk. Kenapa dia bosa tau? Ah mungkin dia sering berbelanja disini. Namun dia melengos maju menuju kasir menggantikan arin eonni.
Ah dia pegawai disini juga...
Arin eonni menghampiriku dan mengajakku ke gudang untuk membereskan pakaian.
"Dia tadi itu siapa?" akhirnya akupun bertanya.
"anak boss" jawabnya singkat
Aku terkejut, aku tak mengira dia anak boss.
-
Aku keluar dari gudang setelah membereskan beberapa pakaian yang baru datang. Kulihat kedepan anak boss itu sedang melayani pembeli. Wajahnya sepertinya ramah.
Setelah lama memilih baju pelanggan itu membuka suara sambil tetap melihat-lihat dan mendengarkan anak boss menawarkan beberapa barang.
"sepertinya kau baru disini?" tanya pelanggan itu membuat anak boss tersenyum. Ada dua kemungkinan yang aku ambil yaitu pembeli ini bertindak sok tahu atau memang anak boss jarang datang kesini.
"pemilik toko ini sangat mengerikan, dia suka marah-marah loh" lanjut pelanggan itu membuatku bingung.
"dia tidak semengerikan itu kok bi, dia hanya tegas" kata anak boss tetap tersenyum.
Wah santai sekali dia menghadapi seseorang yang berbicara buruk tentang ayahnya. Jujur saja jika ayahku dipandang begitu aku pasti akan kesal.
akhirnya membungkus dan membawak pakaian yang dipilih pelanggan tersebut ke kasir. Ketika dia berbalik mata kami bertemu. Dia menatapku kesal dan kembali tersenyum ketika memberi belanjaan tersebut kepada pelanggan. Aku bingung.
Setelah pelanggan itu pergi arin eonni keluar dari gudang. Anak boss mengarahkan pandangannya pada kami berdua dengan air muka mengerikan
"kalian ngapain di belakang?!" tanyanya sedikit membentak
Oh tuhan tidakkah dia tau kami juga bekerja di belakang?
"membereskan barang baru datang dek" jawab arin eonni. Ah dia lebih muda dari Arin eonni rupanya...
"harusnya ada satu di depan jangan bergerombol membereskan semua! Itu ada pembeli tidak ada yang tau kan jadinya!"
"kan ada hani" aku hanya diam mendengar arin eonni menjawab
"hani kan pergi tadi, masa tidak tahu?" kata anak boss membuat arin eonni diam tak bisa menjawab lagi.
Kami kira hani ada di depan sehingga kami membereskan pakaian di gudang.
