Darah

31 4 1
                                        

       Sebuah ambulance berjalan cepat, membawa pasien akibat kecelakaan mobil karena tertabrak dengan sebuah truk. Kejadian mengenaskan menurut warga yang langsung menyaksikan kejadian tersebut. Sebuah keluarga yang cukup bahagia itu harus mendapatkan kejadian yang cukup mengerikan.

        Darah banyak yang keluar dari keluarga ceria tersebut. Hingga, dari salah satu keluarganya merenggang nyawa.

" Tak ada harapan lagi untuknya, bu " ucap seorang berjas dokter kepada seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.

" Kau yakin? Ibu yakin ia masih bisa hidup. Tolong ibu nak, selamatkan Fitri " lirih wanita itu kepada anaknya yang sekarang mendapatkan tugas untuk menangani keluarga kawannya.

Pria itu menggeleng, menandakan ia tidak bisa. Ia tau, persahabatan ibunya dengan keluarga yang sekarang menjadi pasiennya itu adalah sahabat sejak sekolah menengah atas. Tapi, semuanya harus terhenti disini, cukup menyedihkan bila sahabat meninggalkan tanpa kita belum mengikhlaskannya.

Ibunda dari seorang pria berjas dokter menangis terisak-isak. Pria tersebut menghela nafasnya panjang, lalu memeluk ibunya erat.

" Ibu, sekarang bukan waktunya menangis karena hambanya yang seharusnya kembali kepadanya lagi. Kita tahu, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah, dan semuanya pasti akan kembali lagi padanya. Jadi kita tidak boleh bersedih, karena tante Fitri tidak jauh dari kita, dia masih bersama kita hanya saja raganya sudah kembali kepada sang maha pencipta " ucapnya dengan sambil mengelus pundak ibunya lembut yang menurutnya dapat menenangkan ibunya tersebut.

Seketika datang seorang perawat menemui pria tersebut dengan tergesa - gesa, hingga membuat ibu dari pria tersebut melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipinya yang sudah basah karena air matanya.

" Maaf permisi dokter Firman, pasien bernama Rara sudah sadar kembali "

Firman mengangguk, lalu mengusap pundak ibunya lembut dan tersenyum " Aku harus memeriksa kondisi anak tante Fitri, aku pamit dulu bu " ibunya mengangguk dan tersenyum tipis " Lakukan yang terbaik, Firman. Aku tak mau lagi mengecewakan Fitri " ucapnya lirih dengan raut yang frustasi karena kehilangan sesuatu yang berharga.

Firman mengangguk dan berlalu pergi. Firman menemui sosok anak dari kawan seperjuangan ibunya dengan pandang iba dan gugup. Firman tak seharusnya memiliki perasaan tak jelas seperti ini, tapi dia tak bisa mengelak dengan perasaan yang ia simpan baik - baik dalam diam.

" Bagaimana keadaanmu Rara? " tanyanya kepada anak yang jauh lebih muda 3 tahun darinya yang berbaring lemah menatap pemandangan dari jendela yang terbuka.

" Menyedihkan " guman Rara sekaligus sebagai jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Firman, terdengar seperti belum siap menerima keadaanya sekarang. Kehilangan sosok ibu yang selalu pengertian dan selalu memberikan kasih sayang tanpa batas, yang membuat ia mengerti arti dunia yang sesungguhnya sungguh membuatnya depresi atau menjadi memori terburuk sepanjang hidupnya.

Firman menghembus nafas panjang, Firman merasakan rasa sedih yang menusuk yang sekarang dirasakan oleh Rara. Ia tak tahu harus berbuat apalagi, perih, goresan luka pasti tertanam sangat dalam di memori gadis yang sekarang ia pandangi ini.

" Rara, bunda kamu lihat, jadi kamu ga boleh bersedih kalau kamu sendiri ingin melihat dia bahagia " ucap Firman setenang mungkin.

Rara mengalihkan pandangannya ke arah Firman dengan pandangan yang menusuk. Pandangan yang mengartikan dirinya tidak mau mendengarkan perkataan yang sekarang menjadi lawan bicaranya. Ia belum ikhlas dengan semua yang menimpanya. Sesekali ia meneteskan air matanya, karena menahan kepedihan.

" Bundaku jahat, seharusnya dia tidak usah meninggalkan aku selamanya disini sebagai orang yang ga punya harapan hidup lagi, kalau kebahagiannya adalah tidak mau lihat aku menderita disini. Dan kamu tidak tahu apa - apa " ucapnya dengan nada menekan di setiap katanya, lalu menangis terisak - isak.

Firman mendengarkannya lalu menghembuskan nafasnya keras, menundukkan kepalanya lemas karena sekarang ia benar - benar bersalah dengan Rara, karena ia tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu tersayang dari gadis yang ia cintai.

" Kak... "

Firman menatap Rara yang masih sedikit terisak - isak, walau dia sudah berhenti menangis.

" Aku benci tempat ini " ucapnya dengan nada tegas hingga membuat Firman sedikit terkejut.

Rara memncoba beranjak dari ranjangnya dengan sempoyongan karena kepalanya yang sakit hingga membuat tangannya reflek memegang kepalanya, tetapi Rara tetap berusaha untuk bangun dari ranjangnya. Seketika tangannya dicekal oleh Firman karena agar menahan Rara tidak bangun. Rara melepaskan tangan Firman dengan keras dan tersenyum sinis tanpa memandang pria tersebut yang sedang disampingnya.

Rara kembali menoleh ke Firman dengan tatapan acuh dan tidak percaya dengan siapapun yang melarangnya, karena baginya semua yang peduli padanya hanya sekejap lalu hilang meninggalkannya sebagai orang yang menderita dalam kehidupannya. Ahh... sekarang ia teringat kepada ayahnya yang sedari tadi ia belum dapat kabarnya.

Rara menghembus nafas kencang " Ayahku dimana ? " tanyanya kepada pria yang bertubuh tinggi, berkulit putih serta rambutnya berwarna cokelat dengan kacamata berwarna hitam serta stetoskop yang stand bye di lehernya itu.

Firman termenung, karena tak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Rara. Rara yang sudah banyak luka tertancap dihatinya, setelah mendengar kehilangan seorang wanita tanpa tanda jasa yang mengandungnya selama 9 bulan, dan kini harus menjelaskan bahwa ayahnya orang yang paling bahagia saat dia baru saja dilahirkan ke dunia juga tidak ditemukan keberadaannya. Firman diam terpaku memikirkan bagaimana cara harus menjelaskannya, sesekali menelan ludah karena kebingungan.

Rara yang masih memandanginya mengernyitkan alisnya lalu tersenyum sinis.

" Apa sekarang aku juga kehilangan ayahku? Bunda juga sudah meninggalkan aku selamanya disini, aku benar - benar gadis yang menyedihkan " ucapnya menekan setiap kata lalu tertawa pelan seketika ia menangis dengan terisak - isak karena tidak bisa lagi dibendung.

Firman menatap Rara yang menangis seraya tertawa " Untuk apa aku hidup hah? Apa hanya untuk merasakan kebahagiaan yang sebenarnya itu hanya aku rasakan sebentar, lalu pergi tanpa memikirkan aku? Apa seperti itu dunia? " tanya Rara berteriak dengan menarik lengan Firman dan menguncang - guncangnya.

Kedua perawat yang mendengar suara Rara yang berteriak dari luar, segera memasuki ruangan Rara dengan tergesa - gesa. Firman membuka telapak tangannya dan diarahkan ke kedua perawat tersebut " Tidak ada apa - apa disini. Kembali berkerja " ucap Firman dengan tenang dan tersenyum tipis. Kedua perawat tersebut pergi dan kembali berkerja seperti apa yang telah diperintahkan oleh Firman.

" Aku keluar, tenangkan diri kamu dan jangan kemana - mana karena kamu belum seutuhnya pulih. Aku permisi " ucap Firman dengan tersenyum tipis lalu berlalu melewati pintu.

Rara menatap punggung Firman yang semakin menjauh lalu menghilang dari balik pintu.

Tak ada lagi yang bisa meyakini diriku untuk bertahan. Walaupun ada yaitu engkau, itu tidak mungkin untuk selamanya gumam lirih dan menekuk kedua lututnya dengan kepalanya yang tunduk keatas lututnya, tangisannya terkuak dengan benar - benar sudah tidak lagi ditahan.

Rara melihat botol berbentuk kotak berisi cairan dengan tutupnya yang unik berbentuk mawar, dan warnanya merah seperti darah. Rara meraihnya dengan kepalanya yang pusing.

Parfume MawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang