"Karna tidak selamanya mendung itu hujan dan tidak semua hujan terjadi diawali mendung"
Seorang remaja SMA akan pulang ke rumahnya tapi niatnya urung saat melihat langit berubah mendung sehingga di sinilah ia berada di sebuah bangku kantin di sekolahnya yang masih ramai oleh siswa yang mungkin akan ekstrakulikuler atau sekedar menunggu jemputan. Keringat dingin mulai muncul di sekitar pelipisnya membuat ia mengeratkan pelukan pada buku di pelukanya.Matanya mulai berkaca-kaca ketika sebuah bayangan dalam benaknya kembali mengulang kisah kelam yang terjadi 4 tahun silam.
Sahira membenarkan kacamatanya yang melorot ke bawah mata. Karena terlalu fokus pada kegiatannya sendiri ia tidak menyadari seorang laki-laki duduk dihadapannya.
"Boleh gue duduk disini?" ucap lelaki yang membawa nampan berisi satu porsi bakso dan jus mangga.
Sahira yang baru beranjak dari lamunannya kini mengedarkan matanya ke seluruh kantin.
"Gak ada tempat kosong, gue kesini karena cuma bangku ini saja yang diduduki 1 orang. Gak papa kan gue duduk disini?" ucap Kendrick yang menyadari ketika sahira mengedarkan pandangannya.
Sahira yang mendengar itu berhenti mengedarkan pandangannya dan hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kendrick.
"Loe gak makan? Atau belum datang makanannya?" tanya Kendrick pada sahira yang sedari hanya diam saja.
Sahira menggeleng pertanda memang dia tidak makan dan tidak memesan makanan di kantin ini.
"Nunggu jemputan atau mau ekstrakulikuler?"tanya Kendrick dan mendapat kembali gelengan gadis di depannya. Kendrick mendengus dari tadi perempuan di depanya hanya menggeleng dan menggangguk, tapi itu malah membuat penasaran dirinya mengapa perempuan itu masih berada di kantin.
"Terus ngapain disini?" tanya Kendrick dan kembali melahap baksonya yang kini tersisa setengah lagi.
"Mendung" ucapnya pelan bahkan sangat pelan sehingga tidak sampai terdengar di telinga Kendrick.
"Hah" spontan Kendrick
"Mendung." ucap sahira agak keras.
"Emangnya kenapa kalau mendung?" tanya Kendrick lagi.
"Hujan." jawab Sahira agak gugup.
"Memang ini mendung tapi menurut gue tidak selamanya mendung itu hujan dan tidak semua hujan terjadi diawali mendung." ucap Kendrick.
Sahira yang mendengar ucapan Kendrick barusan langsung berdiri dan keluar kantin dengan tergesa-gesa karena merasa risih terus ditanyai laki-laki asing yang duduk di depannya, ditambah banyak pasang mata yang tertuju ke arah nya ralat maksudnya ke arah laki-laki di depannya. Selain itu, ia tidak ingin terlalu dekat dengan laki-laki yang karena tidak baik bagi kondisi jantungnya.
Kendrick hanya menatap kepergian Sahira tampa mencegahnya karena mungkin Sahira akan pulang ke rumahnya lagi pula jika kena hujan pun toh dia gak akan mati. Kendrick membayar pesanan yng tadi ia makan dan segera menyambar tasnya lalu menuju Lapangan basket untuk ekstrakulikuler seperti biasa.
Sahira berjalan dengan hati cemas karena ia takut sewaktu-waktu hujan turun. Setiap hari memang dirinya naik angkot sampai di depan rumahnya tapi sedari tadi ia tidak melihat angkot jadi ia terpaksa ia berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang berharap ada angkot lewat.
YOU ARE READING
The Rain
Teen FictionTentang hujan yang dahulu ia sukai kini berganti menjadi hujan yang tak pernah absen membuatnya menggigil ketakutan, tentang hujan yang membuatnya dijauhi dan dibenci semua orang dan tentang hujan yang membuatnya menemukan sosok yang menjadi latar b...
