Hei, aku ingin menceritakan tentang seorang anak manusia dengan tingkat kemalasan tinggi yang memiliki keberkahan langka di hidupnya.
Panggil saja anak manusia itu Zy. Terlahir dengan membawa darah indigo murni.
Hei, mungkin kalian sedikitnya mengerti dengan kata itu bukan ? Indigo. Satu sebutan khas untuk para anak manusia yang diberkahi dapat melihat dan berkomunikasi dengan makhluk lain diluar dimensi hidup mereka.
Manusia menyebut mereka sebagai hantu, jin atau biasa disebut makhluk astral.
Dan, anak manusia yang akan kuceritakan ini adalah satu bagian kecil dari banyaknya anak manusia yang memiliki kemampuan sama. Bahkan, jauh lebih baik dari dirinya.
Pertama kali aku mengenalnya, saat anak ini berusia sekitar 5 tahun. Dengan rambut pendek bak anak laki-laki, kulit putih dan mata besarnya dia melihatku yang tengah diam diantara lebatnya rumput liar di pekarangan kecil milik kakeknya.
Mata kami saling bertatap lama, setelah akhirnya dia tersadar. Lambat membuang wajah dariku, melangkahkan kaki kecilnya yang terbungkus sepatu hitam sekolahnya melewati beragam rumput liar yang mengelilinginya.
Tenang. Pergi begitu saja. Dan aku, hanya menatap punggung kecilnya yang terbalut seragam sekolahnya yang berwarna hijau.
Itulah awal, dari segalanya.
#
Beberapa hari setelahnya, dia kembali datang dengan seragam melekat ditubuh kecilnya. Sosok itu hanya diam melihat rimbunnya rumput liar disekelilingnya. Samar, tawanya terdengar. Lirih. Segera membangkitkan keingintahuanku untuk lebih mendekat dan mengenalnya.
Melalui celah rumput yang menjulang tinggi, angin yang terkadang berhembus, juga luasnya langit biru diatas kami, untuk pertama kalinya ada perasaan aneh dalam diriku untuk sesuatu dan itu adalah anak manusia didepanku.
Ketika tawa lirih itu terdengar, tanpa sadar tangan ini terulur meraih dan menyentuh pipi mungil itu.
Membelalakkan mata lebarnya, membuatnya bergerak refleks mundur menjauhiku.
Aku tahu, debar kencang jantungnya dari balik tubuh kecilnya karenaku. Bagaimana makhluk kecil itu menatapku takut.
Ketika kuberanikan diri menunjukan diri, membebaskannya melihatku berbalik jantungku yang berdegub kencang hanya karena,
Makhluk kecil di depanku tertawa.
" besarnya..... " kata pertama yang kudengar dari mulut kecilnya.
Cukup memerahkan kedua pipiku.
" tidak takut padaku ?" Lirih aku bertanya.
Anak manusia kecil didepanku langsung terdiam. Wajahnya cukup mendongak untukku karena tinggiku sangat jauh dengannya. Dia hanya sebatas lututku.
" kemarin kamu kecil...." jawabnya dengan mata besar yang menatapku tegas tanpa adanya rasa takut.
" ingat aku ?"
Dia mengangguk. Lucu sekali.
" darimana kamu tahu ini aku ?"
" baunya sama "
" apa ?"
" baunya sama. Warnanya juga sama "
" bau ?"
Lagi. Anak itu mengangguk.
" tadi, kamu takut bukan ?" Tanyaku hati-hati.
Lagi. Dia mengangguk.
" itu karena kamu menyentuh pipi tiba-tiba " lanjutnya.
" tidak boleh ?"
" tidak boleh."
" mengapa ?"
" huh ?"
" mengapa aku tidak boleh menyentuhnya ?"
" tidak mau. "
" bagaimana jika aku mau ?"
" kamu bahkan bukan saudaraku. Dan bukan ayah bundaku. "
Entah bagaimana, tawaku merekah hanya karenanya. Kembali tanpa sadar tangan ini tergerak untuknya. Mengusap lembut rambut hitamnya.
" maaf..." bisikku. Dia hanya diam menatapku. Lalu, tanpa pamit pergi meninggalkanku.
Hahahah , selamat menikmati :")
YOU ARE READING
Creed
Non-FictionMenceritakan tentang makhluk tak kasat mata yang begitu dalam terjatuh dalam sosok kecil manusia. Makhluk itu begitu mencintai sang anak manusia meski ia tahu, takdirnya tak akan pernah bisa mempertemukan mereka dalam jalinan kasih yang sebenarnya.
