Dalam hidup Kinar, tak ada yang lebih ia syukuri selain menjadi istri dari Batsya Sulthan Agam Assegaf. Lelaki itu seperti doa yang dijawab langsung oleh langit—baik hati, rupawan, mapan, dan yang paling penting: setia. Cintanya tak pernah kurang, pengertiannya selalu lebih dari cukup. Ia bukan hanya pasangan, tapi juga tempat pulang yang tak pernah menuntut apa pun kecuali kebahagiaan bersama.
Kinar mencintainya, dan merasa dicintai seutuhnya. Hidup mereka seperti rumah yang dibangun dengan fondasi sempurna. Tanpa retakan. Tanpa gempa. Seperti jalan tol yang mulus tanpa hambatan, hanya sesekali dilintasi riak-riak kecil dari perbedaan pendapat yang dengan mudah dijembatani oleh kedewasaan Agam.
Namun, tak ada rumah yang benar-benar sempurna, bukan?
Sudah lima tahun mereka menikah. Lima tahun yang sunyi dari suara tangis bayi, dari langkah kecil yang berlarian di lorong rumah, dari panggilan "Ayah" dan "Ibu" yang dinanti-nanti. Lima tahun mencoba, berkonsultasi, berharap, lalu kecewa. Berkali-kali. Dan Kinar mulai merasa, cinta sebesar apa pun tak bisa terus menutupi kekosongan itu.
Ia bukan tidak berusaha. Tubuhnya telah dijejali obat, pikirannya dipenuhi harapan-harapan yang kian hari makin menggantung di udara. Tapi sejauh ini, yang ia lahirkan hanya pertanyaan: apa gunanya istri jika tak bisa menjadi ibu?
Pagi itu, mobil Mini Cooper-nya berhenti di parkiran Rumah Sakit Ibu dan Anak paling ternama di kota. Di sebelahnya, duduk ibu mertuanya yang tak pernah lelah menemani dalam setiap proses terapi kesuburan. Agam sedang dinas luar kota, dan Kinar tidak berniat merepotkannya lagi. Lelaki itu sudah cukup banyak berkorban.
"Duh, Nduk... Mama mules. Ke toilet dulu ya, kamu masuk duluan aja. Nanti Mama nyusul," ujar sang mertua buru-buru, sebelum Kinar sempat berkata apa-apa.
Selesai konsultasi, Kinar mencari ibu mertuanya ke toilet, tapi nihil. Ia menyusuri lorong-lorong rumah sakit, langkahnya pelan, matanya mencari. Sampai ia melihatnya—sang mertua—duduk di kursi tunggu, berbicara pelan kepada seorang perempuan muda. Wajah perempuan itu sembap. Matanya bengkak. Tubuhnya terlihat lelah seperti seseorang yang sudah kehilangan terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat.
Kinar mendekat. "Siapa, Ma?"
"Oh iya," sang mertua menoleh. "Kenalin, ini Aysha. Aysha, ini menantu tante, Kinar."
Mereka berjabat tangan. Hangat, tapi rapuh. Kinar bisa merasakan bahwa Aysha menyimpan kesedihan yang tak sedang-sedang. Ada luka dalam sorot matanya, luka yang belum sempat dikeringkan oleh waktu. Tapi belum sempat Kinar bertanya, suara ibu mertuanya mengisi ruang yang senyap:
"Yang sabar ya, Nak. Gusti Allah nggak pernah salah ngatur hidup hamba-Nya. Dulu, waktu ayahnya Agam meninggal, rasanya dunia tante juga runtuh. Tapi karena Agam masih kecil, tante harus kuat. Sekarang kamu juga harus begitu. Anakmu butuh kamu, apalagi di tengah kondisinya sekarang."
Anakmu? Kondisi? Hati Kinar bertanya-tanya, tapi bibirnya tetap diam.
Ia duduk di samping mereka. Menyimak. Mengamati. Waktu berjalan pelan, tapi pertemuan itu terasa panjang dan penuh makna. Seolah semesta sedang membisikkan sesuatu yang belum ia mengerti.
Ia belum tahu saat itu bahwa nama Aysha akan kembali dalam hidupnya—bukan sebagai bayangan, tapi sebagai bagian dari cerita yang bisa mengubah jalan hidupnya. Bahwa hari itu, di lorong rumah sakit, ada takdir yang diam-diam mengetuk pintu mereka.
YOU ARE READING
Satu Hati, Dua Cinta (TAMAT)
RomanceCinta yang Teruji, Takdir yang Menguji Bagi Kinar, Agam adalah jawaban dari doa panjangnya-suami sempurna yang setia, lembut, dan sukses. Lima tahun menikah, rumah tangga mereka nyaris tanpa cela... kecuali satu hal: kehadiran seorang anak yang tak...
