Hujan turun, tetesannya tidak kunjung berhenti seperti air mataku yang tidak bisa berhenti juga. Suara gemuruh petir membuat diriku tenggelam akan hatiku yang remuk tak berbentuk. Aku menyukai dia, berulang kali perkataan itu kutegaskan dalam diriku. Tapi apalah dayaku, aku bukan wanita yang sempurna apalagi wanita yang baik. Aku hanya seekor bebek buruk rupa yang berharap agar ada orang yang mencintaiku. Namun sekuat apapun aku berusaha, orang yang kucintai selalu memilih angsa yang cantik dan anggun.
Air mataku tumpah begitu derasnya sederas hujan yang turun. Tulangku bergetar, entah karena hawa dingin atau karena rasa sakit di hatiku. Kubiarkan tetes demi tetes hujan membasahi tubuhku, berharap tetesan hujan dapat membersihkan luka dan memadamkan api kekecewaanku.
Di tengah-tengah kondisiku yang menyedihkan ini, aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang. Dengan rambut lepek karena hujan, mata yang merah dan tubuh yang basah kuyup, aku menoleh ke arah suara langkah itu. Kudapati seorang lelaki sebaya denganku. Ia memakai payung, menatapku heran melalui kacamatanya yang berembun. Aku menatapnya, menunggu sesuatu keluar dari mulutnya namun lelaki itu tidak mengatakan sepatah kata pun.
Lelaki itu mendekat ke arahku. Kehadirannya membuat air mataku tersendat di pelupuk mataku. Lagi-lagi ia tidak berbicara. Tangannya perlahan mengarahkan payung yang ia pegang di atas kepalaku.
Aku heran melihat orang asing di sebelahku ini. Ia bahkan tidak menatapku. Entah apa yang dipikirkannya, tapi aku bisa merasakan angin hujan mulai terasa hangat. Air mataku berhenti. Kehangatan mulai menyusup ke dalam tubuhku, menjalar dengan begitu sempurna di darahku. Aku tersenyum kecil. Ternyata benar, cinta itu harus menunggu waktu yang tepat seperti menunggu mangga yang matang dari pohonnya.
Laki-laki itu menoleh ke arahku, membuat jantungku ingin loncat. Ia tersenyum dengan senyuman yang sangat menenangkan. "Apa perasaanmu sudah menjadi lebih baik?", tanyanya. Suaranya yang begitu merdu mendamaikan hatiku. Kurasa, saat ini, aku telah menemukan sosok yang tepat.
YOU ARE READING
Hujan
RomanceHujan telah menjadi saksiku. Dia melihat diriku yang berantakan, hancur lembur karena seorang pria. Aku dibuat malu olehnya. Namun hujan tidak menertawakanku. Justru ia mempertemukanku dengan kehangatan.
