Prolog

16 3 1
                                        

Setiap satu tahun sekali akan ada wanita yang duduk di tempat yang sama di salah satu sudut ruangan dekat dengan jendela. Selalu sama duduk sendiri dengan tatapan kosong. Membiarkan dirinya terbenam dengan semua  kenangan yang dibawanya.

Wanita ini akan betah berjam-jam di sudut ruangan. Dengan menyesap kopi perlahan-lahan sampai dingin dan sesekali menatap jalan diluar dari jendela. Hanya itu yang di lakukan nya.

Tak ada yang tahu kenapa wanita ini selalu datang di tanggal yang sama. Tak ada yang tahu apa yang dicari olehnya. Sang pemilik caffe hanya tahu kalo wanita ini adalah pelanggan tetap selama 7 tahun.

Saking terpesonanya pemilik caffe dengannya ada deretan foto terpajang di dinding. Yang menarik dari deretan foto ini adalah 6 bingkai foto hanya ada 1 wajah yang sama di sana. Wajah wanita cantik dengan tulang rahang yang menunjukkan ketegasan dan sorot mata yang menunjukkan kesepian dengan semua keramaian di sekelilingnya.

Sudah selama itu dia menjadi perhatian pemilik caffe yang mulai menua oleh waktu. Tempat yang sama akan di kosongkan tanpa ada reservasi. Hanya untuk wanita itu. Seakan seperti ritual pelaris.
****************************

3 jam berlalu, kali ini ada gerakan lain dari wanita itu. Dia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu diatasnya. Gerakan cukup singkat seakan jari lentiknya menari.

Kertas itu ditindih dengan sendok. Kertas warna ungu yang identik dengan pesona elegan.

"Terimakasih atas tempat yang kamu beri dan deretan foto cantikku (Audri)"

Setelah 7 tahun kali ini mereka tahu siapa nama wanita yang datang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 30, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Second HeartStories to obsess over. Discover now