Candy Boy (Chapter 12)

1K 253 43
                                                  


     Yoona mulai menumis bawang putih yang tadinya sudah ia cincang halus. Aroma kuat dari bawang putih mulai menyatu dengan aroma daun bawang yang baru saja Yoona masukan kedalam panci. Terdengar suara mendesis saat minyak panas mengenai daging beserta dengan letusan kecilnya.

     Meski cipratan minyak mengenai lengannya, Yoona tampak terlihat tenang dan terus lanjut memasak. Ketika ia merasa daging tersebut sudah matang, Yoona menambahkan air dan beberapa sendok gochujang lalu menutup panci itu, menunggu hingga kuahnya mendidih. Sementara Yoona fokus pada masakannya, Sehun juga tampak sangat fokus. Fokus memperhatikannya.

     Sehun belum pernah merasakan berada didalam kondisi seperti itu. Mengamati isterinya yang sedang memasak. Jika menginginkannya, mungkin Eujin lah yang ia inginkan pada saat itu. Karena selama ia bersama Eujin, hari-hari mereka dihabiskan di rumah sakit. Tapi tak tahu mengapa, dirinya kini benar-benar menikmati apa yang sedang Yoona lakukan. Seperti ketika Yoona sedang mengikat rambut panjangnya. Ee? Tunggu. Sehun tak berkedip.

"Haruskah kubuat pedas?" tanya Yoona yang sudah melihat kearahnya dan tentu Sehun langsung membalas tatapan itu.

"Hmm." Sahut Sehun sambil mengangguk seadanya. Sikap tenangnya membuat Yoona merasa tidak nyaman. Karena itu Yoona langsung menurunkan pandangannya dan kembali fokus pada masakannya.

     Sehun sadar akan itu. Yoona tidak nyaman berada didekatnya. Tapi ia tidak tahu kalau Yoona sampai setidaknyaman itu padanya. Bahkan untuk sekedar membalas tatapannya saja tampak kesulitan. Apa yang sebenarnya telah aku lakukan padanya? Mungkin pertanyaan itu cukup mengesalkan untuk didengar. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari perbuatannya selama ini terhadap Yoona?

     Tapi sebenarnya memang itulah kenyataannya. Selama ini Sehun menganggap sikapnya terhadap Yoona masih sangat wajar. Bagaimana pun juga pernikahan mereka terjalin tanpa ada rasa suka dan bisa disebut terpaksa. Sehun mengira Yoona akan berpikiran yang sama dengannya. Tapi tampaknya tidak demikian. Sehun kembali bersikap tenang karena kini Yoona sedang menghampirinya.

"Mau minum apa?" tanya Yoona seraya meletakan semangkuk ramyun dihadapan Sehun. Lalu meletakkan miliknya didepan mangkuk suaminya itu.

     Lagi-lagi Sehun tak berkedip. Mungkin ia tidak menyangka bahwa Yoona akan seperhatian itu padanya—meski hanya sekedar menanyakan 'Mau minum apa?'. Menyadari Sehun tengah menatapnya, Yoona kembali menurunkan pandangannya. Sehun tak juga memberi jawaban. Tentu Yoona tahu itu, ia bisa merasakan tatapan tajam suaminya yang terus tertuju padanya. Tak kuat ditatap seperti itu, Yoona berniat melangkah menuju kulkas lainnya—yang khusus menyediakan makanan ringan atau sebagainya.

"Bagaimana jika—" Langkah Yoona terhenti. Sehun sudah lebih dulu mendahuluinya melangkah menuju kulkas.

"Kau mau apa?" dan kini sudah berdiri dihadapan kulkas yang pintunya baru saja ia buka. Menatap Yoona menunggu jawaban. Ya, Yoona terbodoh sesaat. Pergerakan suaminya itu sungguh membuatnya shock. Sehun melesat cepat dihadapannya dan hampir membentur tubuhnya. Walau hanya sepersekian detik, hawa panas tubuh suaminya dapat ia rasakan dan itu sungguh mendebarkan.

"Air mineral saja." Yoona nyalakan lampu yang berada diatas meja bar, dapur yang tadinya gelap—karena Yoona sengaja tidak menyalakan lampunya—kini menjadi kuning remang. Dan secara bersamaan mereka duduk di tempat masing-masing. Kondisi itu membuat mereka duduk berhadapan. Sehun letakan sebotol air mineral disamping mangkuk milik Yoona, dan sebotol lainnya untuknya.

      Meja bar yang sempit tentu membuat jarak mereka lebih berdekatan. Bahkan mangkuk keduanya hanya berjarak 15 centimeter saja. Keduanya mulai menikmati ramyun masing-masing. Sebelumnya Sehun mengakui itu, ia merasa takjub dengan tampilan ramyun buatan Yoona. Ramyun itu wajib panas, merah dan pedas. Dan ramyun buatan Yoona melebihi itu.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now