Aku menghela nafas panjang sambil berpikir dalam batinku “Ah, seandainya hal itu tidak terjadi pasti aku tidak akan menjadi seperti ini.” Kulihat sekeliling rumahku yang sangat berantakan. Terdapat berbagai macam barang yang tergeletak serta banyak debu yang menempel. Dengan hal tersebut orang-orang pasti akan mengira jika ini adalah sebuah gudang.
Pandanganku terhenti pada foto-foto yang digantung pada dinding rumahku. Foto-foto itu kuambil dengan kamera yang diberikan oleh orang tuaku setelah aku merengek-rengek untuk dibelikan kamera. Aku tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Kemudian aku terdiam sambil menundukkan kepalaku persis seperti orang yang tidak punya harapan.
Aku adalah seorang pria berumur sekitar 21 tahun. Aku biasa dipanggil malik oleh orang sekitarku. Aku memiliki kulit yang berwarna agak gelap. Aku memiliki rambut berdiri dengan mataku yang sipit. Cukup aneh karena orangtua dan saudara-saudaraku tidak ada yang memiliki mata sipit. Orangtuaku lahir dan dibesarkan di desa. Saat aku berumur 7 tahun, mereka merantau ke pusat kota. Tujuannya tidak lain adalah agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kota.
Cuaca diluar terasa sangat cerah. Dengan langit biru membentang di angkasa dan sinar matahari yang menyinarinya membuat lingkungan terasa sangat hidup. Lain halnya dengan diriku yang sangat putus asa ini. Ya, diriku yang tidak punya harapan ini.
Awalnya kehidupanku berjalan dengan normal sampai suatu ketika aku ditipu oleh temanku. Aku pada saat itu sedang berjalan-jalan berdua setelah kuliah selesai. Aku diminta tolong olehnya untuk membawakan tasnya karena ia akan pergi untuk ke toilet. Selang beberapa lama menunggu ia tidak juga kembali. Aku meneleponnya tapi tidak diangkat. Aku meneleponnya kembali tetapi tidak juga diangkat.
Aku merasa jengkel dan akhirnya kembali kerumah.
Ditengah perjalanan aku disergap oleh beberapa preman yang kelihatannya ingin mengambil tas temanku. Aku ketakutan dan merasa panik. Aku mencoba kabur dari para preman itu, tetapi salah satu dari mereka berhasil menghadangku. Akhirnya mereka berhasil mengambil tas temanku dan segera membuka isinya. Aku terkejut, ternyata isi tas tersebut adalah narkoba yang sangat banyak. Aku sangat tak menyangka bahwa yang kubawa tersebut adalah barang haram.
Preman-preman tersebut menjelaskan bahwa mereka adalah polisi. Aku sebagai pembawa tas tersebut dituduh melakukan tindakan melanggar hukum dan dijatuhi hukuman penjara. Aku menjelaskan bahwa aku dijebak oleh temanku. Polisi segera mengejar temanku dan menangkapnya. Temanku dipenjara dengan tuntutan sebagai pengedar narkoba. Pada akhirnya aku memang tidak dijatuhi hukuman penjara berdasarkan sidang, tetapi hal tersebut sudah mencoreng nama baikku.
Setelah lulus kuliah aku mencoba mencari pekerjaan, tetapi akibat dari data diriku yang dianggap telah melakukan tindakan melanggar hukum, aku tidak diterima untuk bekerja dimanapun.
Hari sudah sore ketika aku kembali ke rumah dari berjalan jalan di keramaian. Matahari sudah berada di ujung barat dan memancarkan cahaya oranye kekuning-kuningan menghiasi langit.
Setelah sampai rumah, aku segera beres-beres karena ada temanku yang akan menginap dirumahku.
Di rumah sangat terasa berbeda dengan lingkungan luar yang terasa sangat hidup. Sepi, sunyi, yang aku rasakan ketika di rumah.
Di rumahku hanya aku yang tinggal disini. Awalnya kedua orang tuaku bertempat tinggal disini, namun sejak kematian mereka, aku sendirian dirumah ini. Tidak ada sanak saudara yang bertempat tinggal di dekatku, mereka semua tinggal jauh dari tempatku berada.
Dalam kesunyian rumah, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Assalamualaikum."
Aku bergegas keluar rumah. Terlihat dari jauh seseorang dengan perawakan santai, memiliki rambut yang lumayan panjang.
"Waalaikumsalam. "
Aku menghampirinya. Dia adalah teman masa kecilku, Zriel. Aku segera mempersilahkannya untuk masuk.
YOU ARE READING
Kamera Masa Kecil
Short StoryKisah hidup seseorang bernama Malik yang memiliki berbagai arti.
