Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Prolog

803 58 7
                                        

Di dalam sebuah hutan yang gelap dan dingin, nampak seorang lelaki bertubuh kekar memeluk erat tubuh putri kecilnya yang sedari tadi diam tak mengerti. Ayahnya juga sama diamnya seperti dirinya, tetapi sesekali isakan terdengar ketika ia menanyakan apa yang telah terjadi. Gadis kecil itu tidak takut melainkan sedih. Ia sedih saat tau ayahnya menangis seperti itu. Ia kembali mengelus tubuh lelaki yang masih mendekapnya itu dengan harapan tangisan itu berhenti.

Kejadian beberapa menit yang lalu membuat keluarga kecil itu sama sekali tak berdaya. Bahkan sang kepala keluarga juga menyesali perbuatannya yang bodoh telah gagal melindungi kebahagiaan sederhananya tersebut. Dalam pondok rumah kayu yang tak begitu luas itu adalah bukti bisu atas segala peristiwa yang baru saja berlalu tersebut. Perempuan yang seharusnya berstatus seorang ibu itu kini telah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

Selang beberapa menit, pelukan itu merenggang dan akhirnya terlepas dengan perlahan. Si gadis cantik itu menatap kedua mata ayahnya yang memerah akibat tangis yang dialaminya. Wajahnya memerah menahan isakannya dan akan terdengar menggelegar apabila tidak bisa menahan semuanya itu demi putrinya. Jejak darah di lantai kayu masih terlihat segar dan terlihat hampir membeku. Sang Ayah menggendong anak perempuannya itu lalu berjalan menuju sofa ruang tamu yang tak jauh dari pintu depan.

"Ve, mau janji sama ayah?"

"Janji apa? Ayah kenapa?"

"Janji jangan pernah nangis ya, walaupun kamu sendirian"

"Ve gak akan nangis, ayah"

"Iya.. Veranda putri ayah yang kuat 'kan?"

"Iya, Ayah. Tapi ayah kenapa?"

Sama seperti sebelumnya. Ayah dari gadis bernama lengkap Jessica Veranda Tanumihardja itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan anaknya dan sesekali tersenyum mengalihkannya. Lalu, lelaki bertubuh kekar itu dengan langkah gontainya meninggalkan Ve ke dapur untuk beberapa saat. Ia kembali datang dengan semacam alat kain pel yang kemudian dengan perasaan teriris ayah tersebut membersihkan darah sang istri yang sudah terlihat membeku tersebut.

*****

Sejak kejadian itu, Ve dan ayahnya tidak pernah lagi pergi ke kota untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Sebenarnya rumah pondok kayu itu adalah murni buatan sang ayah sendiri untuk tempat berlibur keluarga kecilnya. Tetapi, nasib naas menimpa mereka yang akhirnya membuat sang kepala keluarga memutuskan untuk menetap disana. Ve yang bertumbuh besar bersama ayahnya itu menjadi semakin rajin dan pandai. Terkadang lelaki paruh baya itu pergi ke kota hanya untuk membawa buku-buku untuk putri tercintanya.

Setiap hari, ketika Ve sedang menyiram tanaman di halaman belakang rumah kecilnya, ia melihat sosok sang ayah tengah berkutik dengan benda-benda asing dan hanya barang seperti logam yang dikenali oleh perempuan cantik tersebut. Kegiatan itu semakin sering dilakukan di hari menyantai bersama. Ve terlihat kesal karena lelaki tersebut seperti melupakan dirinya. Tetapi, tak lama setelah beberapa bulan selanjutnya si ayah tidak lagi terlihat sibuk berkutat dengan logam-logam aneh itu.

"Ve, sini. Ayah mau tunjukkan sesuatu"

"Ada apa, Yah?"

"Ayah ingin mengenalkanmu dengan seseorang"

"H-Hah? S..Siapa, Ayah?"

Perasaan Ve tiba-tiba campur aduk ketika mendengar ayahnya berbicara demikian. Pikirannya melambung jauh pada sosok wanita paruh baya baru yang akan mengambil status ibu di rumah bahagianya ini. Tetapi sorot mata lelaki berbadan kekar itu layaknya meyakinkan sesuatu yang ganjil dalam hati gadis cantik itu. Tiba-tiba sesuatu yang tertutup kain putih tak terlalu tebal itu di dorong sang ayah ke arah Ve. Gadis itu hanya terdiam kebingungan menunggu penjelasan.

"Perkenalkan, dia Nabilah. Nabilah Ratna Ayu Azalia"

Kain putih itu di tarik lumayan kuat hingga nampaklah seorang perempuan berambut sebahu mengenakan gaun putih berenda yang sangat indah nan cantik. Yang membuat Ve makin terkejut adalah asal-usul gadis itu. Matanya masih tertutup dan tempatnya berdiri bak menahannya untuk jatuh. Perempuan yang merupakan putri dari sang pemilik rumah ini menyentuh dengan perlahan pipi kanan sosok itu. Dingin. Sangat dingin. Wajahnya langsung berubah masam.

"Ada apa?"

"D-Dia robot"

"Ng.."

"Dia robot, 'kan!?"

"Ayah berusaha semampunya, Veranda! Kamu adalah putri ayah satu-satunya. Tidak mungkin jika suatu hari ayah harus pergi terlebih dahulu dan meninggalkanmu sendirian"

Ve tidak menangis. Dia berusaha menahan tangis. Ia hanya merasa menyesal telah membuat ayahnya sedih dan marah karena dirinya yang protes terhadap ciptaan terbaru yang canggih itu. Sang ayah sebenarnya profesor terkenal yang menghilangkan diri dari muka bumi karena kejadian kelam beberapa tahun tersebut. Hingga akhirnya impiannya untuk memberikan semacam hadiah pada pada anak kesayangannya terwujud. Dan pada hari itu juga bertepatan dengan tanggal kelahiran Ve.

"Maaf, ayah. Terimakasih"
"Selamat ulang tahun, sayang"

Gadis cantik ini memeluk ayahnya sejenak dan melepaskannya ketika di rasa sang lelaki paruh baya itu berniat untuk menghidupkan robot bernama Nabilah tersebut. Ajaibnya, ketika sang ayah menekan kulit pada area leher belakang robot tersebut, kedua mata Nabilah membuka dengan pelan-pelan dan langsung menatap Ve dengan pandangan sayu. Kembali matanya berkaca-kaca melihat hasil karya ayahnya yang benar-benar mirip sekali dengan manusia itu.

"Ini terlalu realistis. Dia bukan manusia, 'kan?"

"Tentu saja bukan. Ayah sudah memberikan memori khusus padanya sehingga ia secara tidak langsung akan bertingkah layaknya manusia biasa. Dia saudaramu, Ve"

"Adik.. dia sangat cantik"

"Ini membutuhkan waktu 10 menit untuk menunggunya membaca dan memahami memori yang ayah berikan. Tunggu sebentar dan cobalah berinteraksi"

"A-Aku takut!"

"Kenapa? Katanya adik barumu"

Perempuan cantik itu memanyunkan mulutnya kesal mendengar ayahnya yang sedang menggodanya tersebut. Tetapi yang dikatakannya benar. Robot berparas cantik dan manis bak manusia sempurna itu terus saja menatapnya dengan raut kebingungan. Ia tak mengerti apa yang sudah dibicarakan oleh anak dan ayahnya itu. Ve yang merasa masih asing dengan tatapan Nabilah itu langsung memalingkannya takut. Sang ayah yang melihat pun terkekeh pelan.

"Ekhem, hei Nabilah"
"Halo, ayah"

Suara serak sedikit melengking itu membuat gadis yang memalingkan wajah takut tadi membelalak tak percaya. Nabilah sama sekali tidak seperti robot, bahkan ia terlihat seperti manusia biasa. Tiba-tiba Nabilah tersenyum ketika menyadari Ve mulai kembali menatapnya dengan perasaan sedikit bingung. Robot cantik itu berjalan dengan perlahan mendekatinya sambil memperlihatkan langkah anggunnya. Perempuan yang merupakan putri satu-satunya lelaki paruh baya yang ada di depannya itu terlihat memaku.

"Kakak!"

Seru Nabilah memberikan ekspresi bahagia dan senangnya kepada orang-orang disekelilingnya. Ve merasa sesuatu tengah berdetak sangat kuat di bagian dada kanannya ketika mendengar sebutan asing itu.

Pada saat itulah kisah mereka baru akan di mulai.

To be continue…

Alohaloooooooo! Adakah yang nunggu cerita baru ini? Ngga ada kan ya:( ngapain juga ditungguin:'v saya ga penting 'kan? (di tabok orang) ngga kok ngga. Canda cemuanya wkwk
Semoga cerita kali ini bisa membuat kalian penasaran seperti biasanya ya, hehe. Kritik dan saran please!

Tekan bintang untuk mendukung cerita ini ya kawanku sekalian~

Good Bye RainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang