Liberosis

24 2 0
                                        

Aku bertindak seperti aku tidak
perduli.

>_<


Saat mentari mulai menggantikan sinar rembulan malam. Saat itulah waktuku akan berakhir. Aku hidup dalam kesedihan yang kubuat. Aku tidak bisa bernafas dibawah egoku karna aku
ingin lebih. Aku tidak bisa berbohong pada diriku bahwa aku telah mencintainya dan aku tidak bisa menyangkal perasaan ini dengan suatu alasan karna aku telah menerima fakta bahwa dia mampu membuatku jatuh kedalam pesonanya.

Tapi... aku tidak mau perasaan ini menyesatkanku kedalam hawa nafsu lalu aku berusaha memendam rasa ini, ini sangat mengujiku bagaimana rasanya mempunyai cinta yang tak terbalas, tapi ini lebih baik daripada
membuat orang yang kusayang jatuh dalam ketidak pastian cinta yang rumit. Kau tahu? cinta di masa remaja hanya sebatas hiburan belaka dan pada akhirnya akan saling meninggalkan.

Aku hanya ingin merasakan cinta abadi didalam hatiku tanpa ada kata berpisah. Jadi, biarkan aku mencintaimu dengan caraku.

Langit semakin gelap sedari tadi kakiku berjalan mondar-mandir sambil memikirkan sosok wanita yang berhasil membuatku cemas, sesekali mataku mengintip jendela untuk memastikan apakah ada tanda-tanda ia akan pulang.

Aku berdecak kesal, "kenapa belum pulang juga?" Aku mengacak rambutku frustasi, ternyata berusaha tidak memperdulikannya mampu membuatku stress.

Aku semakin cemas kala sebuah rintik hujan mulai jatuh membasahi bumi, dengan sigap aku mengambil jaket hitam dan dua payung yang tadi kuletakan di atas kasurku, Aku akan menyusulmu!

dengan cepat aku menuruni anak tangga, sedangkan tanganku sibuk memakai jaket, aku membuka pintu rumah dan mendengus kasar.

"Leo, kamu mau kemana?" teriak ibuku dari ruang TV.

"Keluar sebentar, Bund." jawabku.

Aku menutup kepalaku dengan hoodie lalu keluar menerobos guyuran hujan yang semakin deras.

_____

Sudah kuduga dia masih duduk dikursi taman, dari kejauhan aku melihat tubuhnya bergetar dan kepalanya menunduk. Percayalah, aku paling tidak suka jika Ia sedang duduk seperti itu, entah mengapa organku yang paling dalam akan terasa sakit.  Perlahan, aku mendekatinya, aku membuka payung yang tadi kubawa lalu memayunginya dari belakang.

"Vanya, cepet pulang!" ucapku, kepalanya menengok kearahku, aku melihat matanya telah sembab, aku benar-benar tidak tahan melihatnya seperti itu. Persetan dengan lelaki yang telah membuatnya jatuh hati!, lalu aku menunduk tak sanggup melihatnya, aku lebih suka Ia selalu menggangguku seperti kartun Masha walaupun sangat menyebalkan. Tapi, itu lebih baik dari pada melihatnya merenung dengan berlinang air mata.

"Aku masih menunggunya!" tukasnya, lalu menghadap kedepan kembali, gadis itu memang sangat keras kepala!, reflek tanganku mengepal mencoba menahan gairah emosiku.

"Ibu gue cemasin Lo, tuh!" ucapku lagi, padahal aku yang mencemaskannya.

"Kubilang aku masih menunggunya!" Sentaknya lagi, dia memang gadis yang sangat keras kepala, aku sudah tahu itu.

"cepetan bego!, gak tau lagi ujan, apa?"  sentakku, Aku takut jika kau jatuh sakit.

"Bodo!" jawabnya singkat dan dingin.

"Nanti Lo sakit, terus Gue yang susah nantinya!" gerutuku.

"Sakit fisik lebih baik karna gampang diobati dari pada sakit batin, aku masih menunggunya untuk menebus penjelasan kenapa ia meninggalkanku begitu saja?!" keukehnya dengan nada bergetar, dia pasti kedinginan lalu kulepas jaket ku untuk dia kenakan lalu ku lempar dikepalanya.

*Brukkk

"pakai itu!" bisa kulihat tubuhnya terkejut akibat ulahku, Aku memberikan payungku padanya lalu pergi begitu saja.

kenapa ia rela menunggu lelaki yang telah mengkhianatinya? terkadang cinta membuat manusia menjadi bodoh seperti dia!

Aku duduk dikursi bawah pohon dan memandangnya dari jauh,

Aku akan tetap disini sampai ia pulang.

Satu jam lamanya ia masih duduk disana, dapat kurasa udara malam yang dingin semakin menusuk kulitku, Sesekali aku menggesek tanganku dan meniupnya agar mendapat energi panas walau hanya sekejap.

Kulihat ia berdiri lalu pergi dengan langkah lemas, aku pun mengikutinya, dia berjalan melewati gang sempit yang mengarah kerumahnya, kulihat ia berjalan dengan kaki senggoyongan, Bodoh! perhatikan jalanmu! kau bisa saja terjatuh!

*Brukk
Tubuhnya terjatuh diatas genangan air akibat tersandung batu, Sudah kubilang, dasar ceroboh!

Aku masih berdiri memandangnya yang tak kunjung berdiri, Kau terluka? bangunlah!

Ia berdiri, Gadis pintar! aku tahu kau tak selemah itu.

jarak Perjalanan semakin terkikis menjadi dekat oleh langkahnya tak terasa ia sudah sampai kerumahnya

maka aku bersyukur saat Ia memasuki rumahnya dengan selamat.

Aku masih memandang rumah Vanya  dari luar,  terlihat lampu kamarnya dilantai atas masih terang, berarti Ia belum tidur, sesakit itukah putus cinta?

Hawa malam semakin dingin lalu kuputuskan untuk pulang, Semoga kau baik-baik saja.

TBC...

KLANDESTINDonde viven las historias. Descúbrelo ahora