Rumah kami dipenuhi oleh para pelayat, keranda berbaju hijau tertata apik di ruang tengah. Aku tertekur di bawahnya, menahan isak yang tak boleh tumpah.
Waktu bergulir begitu cepat, hingga harus secepat ini aku kehilangan ibu, perempuan tangguh yang selama ini kuharap akan lebih lama menemaniku.
Seharusnya aku tak perlu kaget dengan keadaan duka hari itu. Karena sebelumnya, runtutan kejadian semacam ini sudah terputar di depanku. Seakan layar bioskop digelar di pelepuk mataku. Banyak "teman" yang mengingatkanku untuk tidak menangis. Namun aku tak tahu sebabnya dan tak kusangka semuanya akan menjadi nyata.
Lantunan kalimat Lailahaillah merdu dirapal oleh jamaah yang mengantar ibu keperaduan terahirnya. Keluarga, dan para pelayat melihat ibu dalam tutupan keranda, dengan baju putih yang disebut dengan kafan sebagaimana muslim lainnya. Tapi aku melihat ibu tersenyum padaku dari bawah pohon rambutan di samping rumah kami.
Ibu dengan baju berwarna hijau zamrut, nampak ayu dan lebih muda dari usianya. Aku berhasrat untuk berlari ke arahnya di saat orang-orang melepas kepergiannya menuju pekuburan samping rumah kami. Namun tanganku tertahan oleh "teman" di sampingku.
"Jangan ke sana, di sini saja," begitu ujarnya.
Teman ini adalah perempuan yang aku temui saat pergi ke masjid agung Semarang, namanya Aisyah. Kala itu usiaku masih 13 tahun saat aku melihat Aisyah tergugu di dekat kamar mandi masjid.
"Mbak, kenapa kok menangis?" Aku mencoba bertanya.
"Aku hanya ingin mengucap syahadat," Aisyah menjawab di tengah tangisnya.
Seketika itu aku mengajarinya dua kalimat syahadat dan setelahnya, Aisyah sering menemuiku sebagaimana hari itu, di hari kematian ibu.
Belakangan, aku baru tahu tentang makna baju hijau setelah membaca satu kitab. Dijelaskan di sana bahwa Kaum Nabi Muhammad memiliki tempat khusus di syurga yaitu syurga Adn dan mereka identik dengan baju hijau.
Sebenarnya, dua hari sebelum rumah kami menjadi rumah duka, aku sedang duduk di balai, menatap rumah kakek yang mulai lapuk termakan usia. Namun yang kulihat tak lagi bangunan rumah jawa, tapi justru keluarga yang menangis, kakak yang meronta seakan ada bilah yang menyayat hatinya. Dan dalam pandanganku, terlihat diriku mengenakan baju warna merah dan berjilbab hitam ikut menahan kesedihan mendalam.
Aku pikir, itu hanya lamunan belaka. Hingga saat fajar menyingsing, para tetangga membereskan rumah, menyingkirkan kursi di ruang tamu, dan Bu Lek, adik Ibu menangis sejadinya di depanku. Memelukku seakan berkata, ibu telah meninggal di rumah sakit beberapa menit lalu.
Kutahan tangisku supaya tak tumpah, meski sesak kehilangan itu menderu, tapi pesan untuk tidak menangis yang aku terima sebelumnya membuatku harus tenang. Tanpa ada yang secara gamblang memberiku kabar, tapi aku tetap tahu ibu telah berpulang.
Sirine ambulan berpacu dengan hujan awal Januari. Ibu yang mengenakan kaos warna abu sudah tak bernyawa. Aku mencium keningnya sebelum keluarga memandikannya. Wajah ibu nampak pucat meski tubuhnya masih terasa hangat.
Mbak Nurul, saudara kandungku melambai padaku untuk ikut memandikan ibu, tapi nyaliku ciut karena dalam pandanganku air yang menetes dari bekas memandikan jenazah itu berwarna hitam pekat. Tanah yang dialiri air bekas mandi itu terlihat gelap. Hingga sekarang aku selalu bisa tahu tanah mana tempat para jenazah dimandikan keluarganya, karena tanah itu akan nampak berbeda dari sebelumnya.
Mungkin kalian bertanya siapa aku? Dan apa yang terjadi padaku? Tapi itu tak begitu penting sekarang. Karena dalam proses pemakaman ibu tubuhku kembali merinding.
Di pintu kuburan yang jaraknya tak sampi 500 meter dari rumah, aku melihat orang berbaju putih, berdiri memanjat kalimat "Tola'al badru alaina," secara serentak dengan nada yang tak biasa aku dengar. Mereka bukan bagian dari pelayat, mereka adalah muslim yang sudah di kubur sebelumnya, dan kini menyambut satu jenazah baru yang akan di kubur di sana.
Hatiku berdegub kencang, bercampur antara sedih, bingung juga takut. Ini bukanlah mimpi, ini kenyataan yang janggal, tapi tak kuasa aku ceritakan, pilihannya hanya aku harus bisa diam.
Kaki para pelayat beranjak meninggalkan tubuh ibu yang sudah terkubur tanah. Dan telingamu menanggkap hal janggal. Deru dari dalam tanah mengirim getaran hingga kakiku. Suara gemuruh seperti guntur yang meski hanya sebentar tapi cukup membuatku ketakutan. Setelahnya, bumi kembali menjadi tenang. Dan aku tak melihat ibu di antara kami.
Kematian itu pasti, dan kematian itu rahasia. Meski sebelumnya dalam mimpi aku melihat keranda dan papan penutup liang lahat, tapi sama sekali aku tak tahu bahwa itu isyarat sebuah kematian keluarga. Semuanya baru akan aku sadari dan pahami ketika Allah telah menjadikan rencana-Nya menjadi nyata.
Kejadian aneh ini bukan hal pertama dan terahir yang terjadi. Tapi justru menjadi kejadian yang merupakan titik balik semua hal yang semula aku tak ingin tahu, tapi diminta untuk memahami. Kejadian yang membuatku bisa melihat kehidupan teman masa kecilku. Kejadian yang membuatku ikut merasa sakit karena luka yang mereka bawa di kehidupan mereka di masa lalu.
YOU ARE READING
Sisi Lain
Horroraku terlahir berbeda karena aku bisa melihat hal yang tak kalian sangka berbaur di antara kita. Mereka adalah hal yang kalian sebut dengan hantu.
