Dentang jam menilik sejarah lalu
Rekonstruksi perjuangan berdarah
Adiwangsa yang menjadi budak di negeri sendiri
Seperkian manusia nasionalis merayu mayapada pribumi kembali
Berlaksa-laksa pejuang gugur
Demi memenuhi hasrat merdeka yang membara
Lelah tanah air diracau tirani
Jiwa raga diserahkan asal anak cucu tak senasib moyangnya
Prinsip;
Berjuang hingga titik darah penghabisan
Sgala jenis derita; mereka sudah makan asam garam
Tiga setengah abad menuju merdeka
Hingga kini 73 tahun Indonesia merdeka
Sejak proklamasi-awal baru Indonesia
Kembali-dentang jam menilik era reformasi
Menuai tanya;
Indonesia makmur sejahtera?
Benar kata pepatah;
Mempertahankan lebih sulit dari merebut
Jiwa-jiwa nasionalis tinggal kenangan
Indonesia apa kabar?
Anak cucunya pun tak ikhlas upacara
Indonesia Timur masih dijajah kulit putih
Pemimpin seperti ular beludak
Mulut manis-retorika belaka
Pada akhirnya perut penuh uang
Percuma merdeka bila tak merdeka
Ini adiwangsa bukan budak-suralaya milik pribumi
Masih ada beribu mulut menganga lapar
Masih ada berjuta perut uang
Refleksi jiwa pahlawan terdahulu (?)
Hakikat kebangsaan seakan terlecehkan
Tanya berdengung di sanubari;
Apakah mayapada pribumi 'kan amerta?
[Dibuat khusus ntuk penghormatan hari Pahlawan; 10 November-telisik milineal]
YOU ARE READING
AKSARAMU
Poetrydiperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang bergairah akan sastra-termasuk aku; sang melankolis (?)
