Rifka Rannisa 01#

4 0 0
                                        


Kabar berita tentang kepindahan siswa baru. Cucu pemilik sekolahan, sudah rame diperbincangkan oleh semua penghuni SMA Pro. Terutama kaum Hawa, mereka tidak sabar ingin melihat sosok Bian Giovano Ananda, cucu kedua Pak Abdi pemilik sekolahan SMA Pro.

"Lo tau nggak? Katanya cucu kedua Pak Abdi, pindah sekolah ke sini," kata Elma, sambil berjalan pelan untuk mensejajarkan langkahnya dengan Nisa

"Iya tau,"gumam Nisa, tampak kurang semangat karna lupa membawa buku LKS matematika.

"Lo kenapa? Pagi-pagi sudah cemberut gitu. Seharusnya lo itu senang, Di sekolah ini nambah lagi stok cogan," sahut Elma, penuh semangat. Sikap Elma yang kadang aneh-aneh hanya membuat Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Nisa melirik Elma lalu memutar bola matanya malas.

"Nisa, Elma. sini," teriak Ristan teman sebangku Nisa, ia yang lagi duduk-duduk di kantin memanggil ke dua temannya itu.

"Ayo Nis," ajak Elma sambil menarik tangan Nisa.

"Nggak. Lo sendirian saja kesana, gue mau ke kelas sebelah dulu, mau pinjam buku LKS matematika," sahut Nisa, menolak ajakan Elma sambil melapaskan genggaman tangan Elma.

Nisa langsung pergi menuju kelas 11 IPA 2, untuk meminjam buku LKS. Langkahnya yang terburu-buru tanpa memperhatikan jalan, ia menabrak seorang cowok yang keluar dari kantor Kepala sekolah.

Bruukkk...
Buku yang dibawa cowok itu, semuanya jatuh, berhamburan kelantai. Nisa tidak tau, cowok yang ia tabrak adalah Bian Giovano Ananda. Cucu Pak Abdi.

"Lo kalau jalan pakek mata dong!" seru Bian.

"Maaf, maaf. Gue nggak sengaja," sahut Nisa, yang sudah jongkok mengambil buku-buku yang berjatuhan itu.

"Cepat dong, ngambilin bukunya," kata Bian, yang berdiri tegak di depan Nisa.

Saat Nisa lagi mengambil buku yang berserakan dilantai, Nisa melihat buku LKS yang ia butuhkan. Lalu Nisa berdiri, "Sekali lagi, gue minta maaf. Nih bukunya." Memberikan tumpukan buku yang ia ambil. Bian langsung mengambilnya, namun saat Bian memegang bukunya kembali, Nisa langsung mengambil buku LKS yang ia tumpuk paling atas.

"Gue pinjam buku lo dulu ya, nanti gue kembalikan," kata Nisa sambil berlari menjauhi Bian. Sekarang ia langsung menuju ke kelasnya.

"Dasar gadis aneh. Ngambil buku gue cuman satu, kenapa nggak semuanya," gumam Bian, sedikit geram kepada Nisa yang pergi begitu saja. Kini ia, memperhatikan Nisa yang berlari menjauhinya.

****

Bel masuk sudah berbunyi. Semua siswa-siswi SMA Pro, sudah mulai masuk ke kelasnya masing-masing. Begitu juga dengan Nisa, ia yang sudah berada di tempat duduknya kini sudah siap untuk memulai pelajaran.

Semangat belajarnya sudah kembali. Ia sudah tidak khawatir lagi, dirinya akan dihukum oleh Bu Gina. Karena tidak membawa buku LKS matematika.

Jarum jam sudah menunjukkan jam 07.10 pagi. Namun Bu Gina, masih belum masuk ke kelas. Membuat Nisa berdesis sebal, "Gilirin gue udah dapet pinjaman buku LKS, Bu Gina belum hadir juga,"
Bu Gina, guru yang sangat disiplin. Biasanya jam 06.55 pagi, ia sudah standby di kelas. Ntah kemana Bu Gina pagi ini? Tidak biasanya ia masuk terlambat.

Kelas kini jadi rame, karena belum hadirnya Bu Gina, guru matematika. Saat Nisa, serta teman-temannya pada asik mengrobol. Tiba-tiba Bu Gina masuk ke kelas, berasamaan dengan siswa baru yang jadi trending topic pagi ini.

"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Bu Gina, yang lagi berdiri sejajar dengan siswa baru itu. "Pagi juga, Bu," sahut semua Murid. Seketika itu semua sorot mata tertuju ke siswa yang berdiri disebelah Bu Gina. terutama para cewek, memandangnya penuh rasa.

Lalu Bu Gina, menyuruh siswa baru itu memperkenalkan dirinya ke teman-teman barunya. "Silakan Bian, perkenalkan dirimu."

"Perkenalkan, Nama saya, Bian Giovano Ananda. Kalian bisa panggil saya Bian."

"Tampannya, persis seperti Kakaknya," Puji Elma dengan suara yang pelan, kini ia langsung terpesona oleh wajah tampan Bian.

'Mampus. Gue,' batin Nisa. Ternyata cowok yang ia tabrak tadi pagi itu, cucunya Pak Abdi. Ia hanya menundukan kepalanya, agar Bian tidak melihat dirinya. Kini perasaannya mulai gelisah dan sangat khawatir, mengingat tadi pagi ia meminjam buku LKS Bian, langsung pergi. Kini Nisa hanya diam saja dengan perasaan campur aduk.

"Silakan duduk, di bangku yang masih kosong itu," suruh Bu Gina ke Bian. Kini Bian berjalan perlahan-lahan menuju bangku yang masih kosong itu.

Bangku kosong yang ada di belakang itu, sebaris dengan tempat duduk Nisa. Cuman
Berjarak satu bangku. Saat Bian berjalan pas melewati Nisa, mata Bian melotot tajam kearah Nisa. Nisa yang mengetahui hal itu membuat perasaannya tambah nggak karuan, hanya senyum tipis yang ia perlihatkan ke Bian.

*******

Jangan lupa vote dan komentarnya.
Terimakasih.. hehe..

RIFKA RANNISAStories to obsess over. Discover now