Teriakan histeris Dinda, perempuan berusia empat puluh tahun ini, sungguh membuat bulu kuduk orang yang mendengar merinding. Perempuan ini bukan hanya berteriak, tetapi ia pun mulai mengamuk. Tak hanya menyambar dan membanting apa saja di dekatnya, ia juga memukul diri sendiri, bahkan berulang kali berusaha membenturkan kepalanya ke tembok kamar. Melihat tindakan ibunya, Anisa segera bertindak. Putri semata wayang Dinda itu berusaha mencegah sang ibu membenturkan kepalanya ke tembok. Namun, tindakan gadis berusia delapan belas tahunan itu terlambat. Dinda berulang kali membenturkan kepala ke tembok hingga keningnya berdarah. Meski begitu, ia tak kunjung berhenti.
"Sudah, ibu! Sudah!" petik Anisa panik sembari memeluk Dinda dari belakang. Lalu dengan sedikit kasar, gadis cantik ini memeluk ibunya erat-erat.
"Sudah, ibu! Sudah! Ibu tidak boleh menyiksa diri seperti ini terus hanya karena ayah!"
Akan tetapi, perempuan paruh baya ini malah meradang. Ia berusaha melepaskan pelukan anaknya dan kembali membenturkan kepala ke tembok. Terang saja, Anisa berusaha mencegah ibunya terus menyiksa diri seperti itu. Akan tetapi, sang ibu malah semakin mengamuk hebat. Tanpa terduga, tiba-tiba Dinda membantingkan tubuhnya ke samping. Akibatnya, bukan hanya dirinya saja yang jatuh ke samping, tapi Anisa juga ikut terjengkang ke belakang membentur tembok.
Duk!
Tubuh Anisa sangat keras membentur tembok. Bahunya yang terlebih dulu membentur tembok mendadak terasa ngilu bukan main. Rasa sakit itu tak dihiraukannya. Baginya, rasa sakit di bahunya belum lah seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit hati ibunya. Tanpa diduga, ayahnya, Aldo, berselingkuh dengan perempuan lain. Bahkan, ia bermaksud menceraikan Dinda dan menikah dengan gadis itu. Terang saja, tak hanya hati Dinda yang terluka, Anisa pun ikut terluka. Itulah persoalan besar yang tengah anak dan ibu itu di hadapi. Sang ibu gila, dan Anisa stres memikirkan akibatnya.
"Sudahlah, ibu! Hentikan! Hentikan, ibu! Ibu tak perlu lagi menyiksa diri seperti ini, ibu!" jerit Anisa
Pecah sudah tangis gadis cantik ini melihat penderitaan ibunya. Dinda masih saja membenturkan kepala ke tembok benar-benar membuat Anisa kebingungan setengah mati. Mau tidak mau, walau bahunya masih terasa sakit, ia harus mencegah kenekatan ibunya itu.
"Hentikan! Ibu! Hentikan! Ibu tidak boleh terus menyiksa diri seperti ini, ibu!" Anisa kembali menubruk Dinda dari belakang. Lalu, dengan agak kasar ia menarik, dan memeluknya ibunya erat-erat.
"Ayahmu...! Ayahmu...! Ayahmu pergi, Nak."
Desain-desain dari bibir Dinda yang bergetar-getar ini seperti merontokkan hatk Anisa. Ia semakin tak kuasa menahan isak tangis.
"Aku tahu, ibu. Aku tahu. Tapi ibu tetap tidak boleh kecewa atau menyiksa diri seperti ini. Inget, ibu! Masih ada aku, anakmu, ibu."
Perempuan paruh baya itu tergugu. Dengan segenap kasih sayang, Anisa semakin erat memeluk ibunya.
"Ayah boleh saja meninggalkan kita, ibu. Tapi, ibu tetap harus tegar. Ibu harus kuat. Tidak boleh cengeng seperti ini, ibu!"
Dinda tidak berkata-kata. Wajah cantik yang menurun pada Anisa itu pucat pasi. Bibirnya hanya bergetar-getar. Air mata tidak kunjung surut membasahi kedua belah pipinya. Dan, suasana haru kian bertahta dalam diri Anisa dan ibunya. Kesedihan itu, penderitaan itu, mutlak milik mereka berduan.
YOU ARE READING
A Story Of Hope
General Fictioncerita sehelai cinta:v Setiap kali Anisa Memikirkannya, hati wanita itu selalu meradang tegang. Ia benci sekali dengan hal tersebut. Ia benci sekali bilan sudah jatuh cinta. Karena itu, ia selalu berusaha untuk menghindar sejauh mungkin darinya. Cov...
