Dering dari layar kaca mengusik telinga dengan mata yang menahan derita kantuk.
Seakan tersendak bola mataku kala satu identitas abstrak menyapa dengan begitu mulia awalnya.
Sampai malam berada pada puncaknya pesan masih tetap bersedia bagai air yang mengalir dari balik mata air di dasar tanah.
Mengetuk ia dengan kerasnya menaburkan segala senyum sapa
Lalu ia sampai pada pada depan pintu hati.
Ia mengetuk dadaku.
YOU ARE READING
Abstrak
Poetryungkapan-ungkapan yang masih tertahan oleh lidah dan belum mau bersua, tentang segala hal yang masih terpenjara di jeruji dada dan masih menunggu saat tiba. emosi, ambisi, simpati, serta rasa posesif yang begitu anarki semua menjadi satu dalam wujud...
