1

26 2 1
                                        

"Serangan mendadak adalah serangan yang paling indah." Pendapat seorang Filsuf di kelasnya, Raga, masih terngiang di kepalanya.

Dia Sheina. Sheina Agatha. Sering dipanggil Nana oleh teman-temannya.

Entah kenapa kata-kata Raga masih terngiang di kepalanya. Serangan mendadak adalah serangan yang paling indah. Sheina merasakan itu. Serangan yang senjatanya adalah mata, dan pelurunya adalah tatapan.

Berawal dari tatap. Bisa dikatakan begitu. Tatapan adalah titik terlemah bagi Sheina. Tembok pertahanan yang sudah ia bangun runtuh kembali, semua karena tatapan.

"Nanaaaaa!!" Teriakan sahabatnya itu membuyarkan lamunan Sheina.

"Ganggu aja," decak Sheina kesal.

"Mikirin apa sih Na?" tanya Cavilia penasaran karena sedari tadi Sheina terus melamun.

Sheina hanya menggelengkan kepalanya menandakan tidak ada apa-apa.

"Pasti ada sesuatu kannn," Cavilia menekan kata terakhirnya sambil menunjuk Sheina, mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Wajah Sheina yang tadinya putih pucat menjadi kemerah-merahan. Menyadari itu, Sheina mencoba menyembunyikan wajahnya dengan tangannya. Sheina salah tingkah.

"Dihh lu kenapa merah gitu Na?" Cavilia yang sudah mengetahui sifat sahabatnya itu kemudian mengembangkan senyumannya.

"AKHIRNYA!!" Teriak Cavilia mengundang tatapan tajam seluruh pengunjung perpustakaan.

"upss hehe maaf," Cavilia merasa malu lalu beralih menatap kearah Sheina.

Sheina yang melihat muka penasaran dari Cavilia langsung meninggalkannya di perpustakaan.

Dasar kepo - batin Sheina

"SHEINA TUNGGUIN GUE!!" Teriakan Cavilia mengudang kembali tatapan tajam pengunjung perpustakaan. Kini bukan hanya siswa siswi yang menatapnya, ibu Grace juga melayangkan tatapan tajam kepadanya.

"Mampuss" bisik Cavilia kemudian lari menyusul Sheina

••••••

Ting ting

Bel pelajaran keenam telah berbunyi, tandanya Sheina akan mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga.

Jam olahraga yang biasanya dibenci oleh kaum hawa menjadi favorit Sheina. Bukan karena Sheina jago olahraga. Sheina bahkan tidak bisa melakukan pemanasan dengan baik. Pelajaran olahraga menjadi favoritnya cuma karena di jam itu Sheina bisa melihat orang yang menjadi salah satu alasannya untuk ke sekolah.

Dia Virgo. Virgo Alden Alveno. Cowok yang tidak tergolong populer di sekolah yang mampu menarik perhatian Sheina karena tatapannya. 

"Go lempar ke gue!" Teriak Gaga meminta Virgo melemparkan bola kepadanya.

Virgo yang mendengar perintah Gaga sang kapten basket, kemudian melemparkan bola itu ke arahnya.

Sheina yang menonton Virgo dari tempat yang tak jauh, menatap arah bola itu pergi. Tak biasanya tembakan Virgo meleset. Sheina merasakan bola itu akan menuju ke arahnya

Bughh

Terdengar suara hantaman bola di kepala Sheina. Sheina terjatuh dari tempat duduk yang sebelumnya ia duduki. Sheina merasa pusing tetapi masih bisa ia tahan.

Melihat seorang cewek yang jatuh diakibatkan olehnya, Virgo langsung bergegas menuju kearah cewek tersebut.

"Nggak apa-apa?" Tanya Virgo khawatir, tetapi tetap tidak membuat ciri khasnya sebagai cowok berhati kulkas hilang.

SheinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang