Sebentar lagi malam tahun baru. Ren memandangi anaknya, Leon yang berlari dengan gembira di tengah jalanan London yang ramai. Sambil sesekali melirik iri anak-anak yang datang bersama keluarga mereka. Ya, tahun ini mereka kehilangan orang tercinta, Maria–istri Ren, sekaligus ibu dari Leon. Kini, Leon adalah satu-satunya yang paling berharga untuknya. Ren menyayangi Leon, cerminan ibunya, dengan mata hazel yang bersinar dan rambut coklat yang halus. Betapa ia merindukan Maria setiap kali ia melihat anak itu.
Waktu masih menunjukkan pukul enam, tetapi langit sudah sangat gelap karena hujan yang tidak kunjung berhenti dari siang tadi. Ren, menggenggam lengan Leon, menjaganya agar tidak berlari terlalu jauh. Mereka menelusuri jalanan Brick Market yang basah karena hujan. Remang lampu pertokoan menghiasi jalanan dan pengunjung ramai berlalu-lalang. Beberapa kali Ren menyapa pemilik toko yang mempekerjakannya. Ia bekerja serabutan demi menghidupi dirinya dan Leon.
Mereka berhenti di sebuah papan pengumuman di tepi jalan, berisi pengumuman kota dan beberapa pertunjukan opera. Gambar panggung dan aktor yang terpajang terlihat megah dan menarik. Ren ingin sekali mengajak Leon untuk menonton sebuah pertunjukkan, membuat anak itu merasakan kehidupan lain di luar keseharian mereka yang pas-pasan. Oleh karena itu, Ren menabung dan membelikan mereka tiket menonton salah satu pertunjukkan di malam tahun baru kali ini. "Phantom of Opera," salah satu kisah klasik paling romantis sepanjang masa.
Jantung keduanya berdebar ketika sampai di salah satu tempat termegah di kota mereka, Royal Opera House. Walaupun Ren berdandan cukup rapi, mereka tetap merasa berada di dunia yang berbeda. Apalagi ketika melihat pria lain mengenakan tuksedo berbuntut.
Ren menyerahkan tiket, tangannya sedikit gemetar sementara Leon terlihat sangat gembira. Mata hazel berbinar melihat gedung megah dan panggung serba merah dengan ornamen bertabur cat emas. Bahkan, mereka duduk di sofa paling empuk yang pernah mereka rasakan.
Lampu dimatikan. Pertunjukkan dimulai. Hanya tiga lampu kuning menyorot ke panggung. Beberapa orang di atas panggung, seakan sedang melelang sebuah lampu kristal yang sangat besar, ternyata lampu tersebut pernah tergantung di sebuah theater di mana Phantom of The Operapernah hadir–sampai semuanya tiba-tiba terang benderang dan panggung ramai diiringi tarian serta nyanyian meriah.
"WOAHHHHH," teriak Leon. Ren spontan menutup mulut Leon, agar tidak mengganggu penonton lain. Tapi, pandangannya pun tak bisa lepas dari panggung. Mereka bahkan tidak sempat berkedip. Ketika pertunjukan sampai pada seorang wanita berperan sebagai Christine berdiri ditengah panggung dan bernyanyi dengan indah, membuat bulu kuduk meremang. Ia begitu cantik dengan gaun putihnya, entah kenapa membuat Ren semakin merindukan Maria. Ternyata tak hanya ia yang merindukannya. Ia berpaling kearah Leon dan melihatnya hampir menangis. Ren meraih kepala Leon dan menempelkan pada dadanya.
"Indah sekali," kata Leon.
"Tapi, nyanyian mama pasti lebih indah," Ren tersenyum lembut.
"Ya, tentu saja," jawabnya.
Mereka semankin hanyut dalam keindahan lagunya.
Pikirkan aku dalam hal yang tak pernah kita lakukan, tak ada hari di mana aku tidak memikirkanmu.
Penonton histeris ketika sang hantu datang dan membawa pergi heroinnya. Suaranya dalam dan indah, menbuat semua orang terpana. Di sana, sang hantu menunjukkan keindahan akan dunia malamnya yang menghipnotis semua orang. Seakan mereka berdua ikut terhipnotis dalam keindahan yang diberikan sang hantu, membuat jantung Ren berdebar.
Hantu opera disini, didalam pikiranmu.
Perlahan sosok bertopeng putih itu memasuki pikiran Ren. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, menatap tajam seakan Ren adalah Christine yang tersihir oleh gaib sang hantu. Mata hitam gelap seperti lubang hitam yang menyerap jiwanya. Sosok itu membuat semua penonton jatuh cinta, termasuk Ren.
Dare you trust the music of the night?
***
Pertunjukkan berakhir dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Leon sangat bersemangat. Bahkan Ren tidak menyangka Leon begitu menyukai dan mengerti jalan cerita yang cukup rumit itu. Mereka berjalan keluar gedung megah Royal Opera House dengan jantung yang masih terasa berdebar. Perasaan senang yang tak dapat diungkapkan sampai mereka berjalan dengan tawa yang riang ditengah-tengah para penonton dengan pakaian mereka yang sangat mewah. Kereta para bangsawan yang megah mengantri, menunggu penumpang mereka.
Mereka menuruni tangga ketika tiba-tiba kembang api bermekaran di langit. Suaranya memekakkan telinga, tetapi keindahan warna-warninya di langit, membuat malam mereka seakan sempurna. Ren mengulurkan tangan, menggendong Leon. Pandangan mereka tidak dapat lepas dari letupan-letupan bunga-bunga langit.
"Selamat tahun baru, Leon," kata Ren sambil memandang anak kesayangannya dengan tatapan lembut.
"Selamat tahun baru, Papa!" Leon mencium pipi ayahnya.
"Ah, sungguh malam yang indah," Suara berat merdu indah terdengar dari belakang. Suara yang terdengar familier. Ren menoleh. Seorang pria terlihat sangat misterius dengan rambut hitam yang menutupi sebelah mata, berdiri tepat di belakang Ren. Jantung Ren berdebar. Pria itu menatap Ren sebentar, kemudian tersenyum, lalu berjalan menuruni tangga. Menghilang di balik keramaian.
CZYTASZ
[Original] Save Me, Save Him
RomansRen, hanya memiliki putranya. Leon, gambaran dari ibunya. Ren tak akan dapat bertahan tanpa Leon. Namun suatu saat, Leon jatuh sakit. Apa yang harus dilakukan Ren? Ia harus membayar mahal satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan Leon. Tetapi dokt...
![[Original] Save Me, Save Him](https://img.wattpad.com/cover/166595450-64-k381471.jpg)