Suara halilintar bergemuruh kencang, seakan kemarahan akan puncak sebuah takdir.
Mata-mata biru itu menatap penuh ketakutan pada pintu kayu bewarna coklat besar dihadapan mereka. Pintu kayu itu terukir ribuan ukiran bunga dan berhiaskankan ribuan permata dari seluruh dunia.
Tak ada yang tau bagaimana dadu-dadu takdir berhenti. Pada salah satu bidaknya atau berakhir menentukan angka yang bahkan tidak ingin kau lihat.
Gemuruh semakin keras terdengar, bahkan trompet pertanda marah bahaya telah ditiup sekencang-kencangnya. Bertepatan dengan suara bayi menangis menggema diseluruh penjuru kerajaan.
Seorang pria berpakaian sangat mahal itu lekas berdiri dari duduknya, berlari untuk melihat sosok permaisuri yang sangat ia cintai. Melihat bagaimana buah hatinya terlahir.
Sorot matanya seakan meredup saat melihat semua pelayan menangis penuh penderitaan tanda petaka telah terjadi. Istrinya yang sangat ia cintai terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Matanya terpejam begitu rapat, ia bisa melihat guratan lelah disana. Istrinya yang cantik telah tertidur untuk selamanya. Itu adalah sebuah kutukan yang paling ia takutkan.
Air matanya tak kuasa ia tahan, saat melihat salah satu putra mahkotanya memejamkan matanya bahkan ia tak terlihat hidup sama sekali. Pria itu berjalan tertatih-tatih merebut putra yang begitu cantik itu dalam peluakannya.
Kehilangan istrinya sudah ia terima sejak pertama kali ia menyatakan akan menikah gadis cantik itu. Bahwa ia telah siap kehilangan cintanya. Tapi tak pernah ia bayangkan, bahwa dirinya akan kehilangan putra mahkotanya. Ia tau bahwa, ia mempunyai satu putra lagi yang sedang menangis seakan berkata peluk aku ayah. Tetapi, matanya tak bisa beralih pada putra mahkotanya saat tanda kepemimpinan jatuh dikening bayi cantik itu.
"Yang mulia, kita harus membawa kedua putra mahkota ke pohon kembar. Kau tau hanya pohon Lervinia yang akan memberikan mereka berkat, bahkan bila salah satunya telah menutup mata lebih dulu".
Penasehat sang raja yang berusia ribuan tahun itu, mencoba menenangkan sang raja yang terbalut dengan emosi buruknya. Saat melihat bagaimana salah satu putra mahkota tak lagi bernyawa, bahkan sebelum bayi kecil itu membuka matanya.
Raja yang mendengar penasehat setianya berbicara langsung berlari meninggalkan salah satu bayinya, hanya untuk menyelamatkan bayi lainnya. Tetapi, sang penasehat tak tinggal diam. Dengan cepat dia merebut bayi yang tersisa dan membawanya mengikuti raja untuk meminta berkat pada dewi pelindung mereka, yaitu pohon kembar yang memancarkan cahaya begitu menakjubkan.
Salah satunya bernama Larvia dan Larvinia dua pohon suci yang memiliki kekuatan yang berbanding terbalik. Pohon lervia seperti pohon mati yang tak pernah ingin memberkati siapapun. Itu adalah kabar baik karena dewi larvia adalah dewi yang sangat kejam.
Kekuatannya begitu hitam dan pekat. Bahkan sosok cantiknya terlihat sangat menakutkan. Tidak pernah ada yang berani mendeskripsikan kecantikan sang dewi karena sebenarnya sang dewi tak pernah menunjukan sosok aslinya.
Berbanding terbalik dengan sosok kembarannya yang begitu cantik jelita. Matanya bewarna jingga, senyumnya seindah bunga sakura, kulitnya sangat putih seputih susu. Dialah dikabarkan sebagai dewi dengan lambang kecantikan yang luar biasa.
"Yang mulia apa yang kau lakukan?"
Sosok panglima yang begitu jantan dengan tubuh kekarnya, menahan tangan sang raja yang akan menaruh sang putra mahkota dibawah pohon kembar itu. Raja begitu marah bahkan matanya berubah kemerahan, karena belum pernah ada yang berani menghentikan dan mempertanyakan tindakannya.
"Maafkan aku yang mulia, aku tau kau mencintai putramu. Tapi kau juga harus bersikap adil dengan putra yang lainnya. Sadarlah jangan bertindak gegabah!. Bila kau hanya meminta satu berkat saja. Bagaimana nasip putra mu yang lainnya?"
YOU ARE READING
lervia (complete)
FanfictionDILARANG KERAS PLAGIAT!!!!! *Cerita ini tidak di ijinkan untuk di copy paste atau di remake. Apalagi keduanya. * Jika dua pohon kehidupan memberika sebuah janji yang berbeda. Jika dua pohon kehidupan memberikan nasip yang berbeda. Dan jika pohon keh...
