LABIRIN

17 8 3
                                        

Mengenalmu adalah suatu hal yang indah akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit.

                                ***
Pagi itu, seperti biasanya. Ditemani merdunya suara burung, matahari yang mulai menunjukkan jati dirinya. Aku terbangun dan menggeliat. Meraba-raba kasurku mencari keberadaan handphoneku. Waktu menunjukkan pukul 5.11. Dikarenakan jarak antara rumah dan sekolahku lumayan jauh. Aku harus bangun sepagi ini. Dengan kondisi mukaku yang sangat berantakan dan perasaan masih mengantuk, aku mengumpulkan niat dan tenaga untuk berjalan ke kamar mandi. Aku adalah tipikal anak remaja yang pemalas. Aku beranjak dari kasurku dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi, aku menyiapkan seragam sekolah. Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah memasuki tahun ajaran baru.

“Kak! Turun kak ini sarapannya udah siap.” Teriak Ibuku dari lantai bawah. Aku langsung mengambil tasku dan lari menuruni anak tangga. Disana meja makan sudah ada Ibu dan Ayahku.

Aku ini seorang anak tunggal yang hampir setiap harinya bermain dengan seorang laki-laki, yang akan aku ceritakan nanti.
“Hari ini kamu diantar pak Deno yah.” Pinta Ayahku. “Enggak mau ah yah. Aku kan biasa dijemput sama Dhifan. Biar Pak Deno antar ayah ke kantor.” Ucapku. “Yasudah baiklah hati hati.”

Teett…teett…

“Eh itu Dhifan tuh kayaknya, coba kamu kedepan dulu kak.” Ujar ibuku. Aku sudah sangat hafal  suara motor Dhifan. Tapi, suara klakson motor kali ini berbeda. Aku langsung membuka pintu rumah untuk memastikan siapa yang ada di depan rumahku.

“Sa, keren ga nih motor baru gue??” tanya Dhifan.
“Wuihhh keren banget Dhif, kapan lo belinya?” tanyaku. “2 hari yang lalu ,Sa.” Jawab Dhifan.
“Loh? Tumben banget lo ga bilang-bilang gue dulu mau beli motor.”
“Kan biar surprise Sa. Pokonya, lo adalah orang pertama yang gue bonceng pake motor baru gue.”
“Wahh kayaknya gue spesial banget yah.”
“Yaudah yuk berangkat, nanti telat loh.” Ujar Dhifan. Aku masuk lagi ke rumah untuk membawa tas lalu pamit berangkat ke sekolah.

                                  ***
Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Dysa Cartenz Nelwan. Aku merupakan anak tunggal. Namun begitu, hari – hariku selalu berwarna, karena selalu ada sosok pria yang sifatnya humoris sekaligus menjadi tempat curhatku. Siapa lagi kalo bukan Dhifan? Ya, dia Dhifan Arsyad. Dia sahabatku sejak Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, aku adalah murid baru disekolahnya. Hari pertama aku bersekolah, teman sebangku ku adalah Dhifan. Saat pertama melihat Dhifan, dia baik, humoris,dan lumayan tampan. Bahkan aku suka saat dia melontarkan lawakan-lawakannya yang terkadang tidak lucu dimata orang, tetapi tetap lucu bagiku. Sejak saat itulah kami selalu kemana mana bersama. Rumah kami yang kebetulan jaraknya sangat dekat, hampir setiap hari sepulang sekolah, Aku dan Dhifan selalu bermain bersama dan mengerjakan tugas bersama. Entah itu dirumahhku, atau di rumah Dhifan.

Saat lulus SMP, aku dan Dhifan sama-sama gamau pisah sekolah. Ya, dan akhirnya kita satu sekolah lagi. Sampai saat inipun kami selalu bersama-sama. Sampai akhirnya, tanpa sepengetahuan satu orang pun, aku menyimpan rasa pada Dhifan. Tetapi selalu aku simpan dalam-dalam rasa itu. Bagaimanapun juga, Dhifan adalah sahabatku.

                                   ***
“Turun Sa. Udah sampe nih. Keenakan yah duduk di motor baru gue?” ujar Dhifan. “Iya iya nih gue turun”
Kami berdua berjalan bersama dari parkiran motor menuju ke kelas. Aku dan Dhifan sekelas dan tentu saja kami duduk sebangku.

Setiap harinya, aku dan Dhifan selalu dianggap berpacaran oleh teman-teman karena kedekatan kami. Tapi tidak mungkin rasanya kalo kita berpacaran.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 31, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LabirinStories to obsess over. Discover now