Phantasmagoria

32 9 10
                                        

         Di sini gelap, dingin, dan kosong. Entahlah, aku tak tahu ini dimana. Yang jelas, aku selalu mendengar suara bisikan-bisikan yang entah dari mana asalnya. Suara bisikan itu kadang-kadang terdengar seperti orang yang menangis, memanggil-manggil namaku, bahkan sampai ada suara orang berteriak. Selain suara teriakan, aku juga selalu mendengar suara yang aku tidak tahu, bunyinya seperti bel, mungkin lebih seperti dering telepon yang berbunyi tanpa henti.
                                      ***
          Namaku Erik Anderson. Aku lahir di Kota Jakarta. Umurku 9 tahun. Aku tinggal bersama keluargaku di sebuah apartemen kecil di Jakarta Barat. Aku ini anak tunggal. Kedua orang tuaku bekerja di perusahaan besar sebagai akuntan, entah apa yang mereka sebutkan itu yang jelas pekerjaan mereka membuat mereka selalu pulang malam, bahkan pernah sampai tidak pulang ke rumah. Kadang-kadang aku harus membuat makanan sendiri dengan memasak telur dan chicken nugget kesukaanku yang selalu tersedia di dalam kulkas.
          Pada suatu hari, setelah aku pulang sekolah, aku sangat kaget melihat kedua orangtuaku menungguku di depan gerbang sekolah. Sepertinya mereka datang untuk menjemputku pulang dengan mobil.
“Mmm….Ayah, Ibu, bukankah seharusnya kalian bekerja saat ini?” Tanyaku.
“Tidak Erik, untuk hari ini, Ibu dan Ayah sekarang tidak akan bekerja. Ibu punya kabar baik, nak. Ibu dan Ayah akan naik jabatan!” jawab ibu dengan bersemangat.
“Wah, selamat ya, Ibu, Ayah. Apakah ini artinya uang sakuku akan bertambah banyak? Hehe,” sahutku sambil tertawa.
“Haha kau bisa saja Erik, sayangnya itu tidak, nak. Tapi aku punya hal yang lebih baik daripada uang saku. Kita akan pindah rumah! Kita tidak akan hidup di apartemen sempit itu lagi, Erik.” Kata Ayah.
Aku terkejut. Aku terdiam. Dalam benakku tiba-tiba timbul banyak pikiran. Apa!? Kenapa? Bagaimana dengan sekolahku, dan juga teman-temanku!? Aku tidak ingin pergi! Aku akan kehilangan orang-orang yang telah menemani hidupku, yaitu semua teman-temanku!
          “Jabatan baru mengharuskan Ayah dan Ibu untuk menempati kantor cabang lain di Jawa Barat, nak. Kita akan pindah ke Bandung. Kita akan pindah mulai besok, maka dari itu, kita akan packing setelah sampai ke apartemen.” Ayah menjelaskan.
Aku menangis. Sepertinya ayah dan ibu tidak peduli. Aku sangat sedih. Kepalaku sakit. Aku jadi ingin marah ke ayah dan ibu. Punggung dan leherku jadi agak pegal.
                                     ***
          Disini sangat dingin. Sempit. Ini dimana? Sepertinya aku harus bertanya pada Ayah. Tunggu sebentar. Disini gelap sekali. Aku tak bisa melihat apapun.
          “Rik…..erik…..”
          “Erik….”
Suara apa ini. Seperti suara orang yang memanggil.
         “Erik….eriiikkk….”
Suaranya semakin keras. Tubuhku berguncang. Ada apa ini?
         “ERIK!! BANGUN!!” Ibu berteriak sambil mencipratkan air ke mukaku.
         “Ya ada apa, ibu?” aku bergegas bangun dari tidur karena kaget.
         “Kita sudah mau sampai di Bandung, nak. Walaupun masih agak gelap tapi lihatlah pemandangan diluar jendela mobil, bagus bukan?” kata ibu.
          Aku mengucek-ngucek mata terlebih dahulu. Punggung dan leherku ternyata masih pegal, mungkin aku salah posisi tidur. Ku lihat pemandangan di luar. Pemandangan saat subuh-subuh di Bandung ternyata indah juga. Tak seperti di Jakarta yang penuh sesak dengan gedung-gedung bertingkat, di Bandung aku masih bisa melihat pegunungan dan banyak pohon besar yang masih hijau. Yah, sepertinya aku mulai menyukai kota ini. Saat ku membuka jendela mobil, angin yang dingin masuk lalu membekukan mukaku. Hhhiiiii, Bandung ini dingin sekali. Dingin anginnya sampai mengalahkan dinginnya AC mobilku.
          Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mobil ini berhenti di depan rumah besar yang sangat megah. Aku keluar dari mobil lalu berlari mengelilingi rumah. Setelah ku lihat lebih detil dari setiap sisi, ternyata rumah ini seperti rumah di film kartun tentang kerajaan-kerajaan yang sering ku tonton tiap Sabtu pagi. Rumah ini berwarna putih dan berpintu kayu besar. Rumah ini juga punya tiang-tiang besar yang megah. Jendela-jendelanya panjang dan berkaca bening dengan gorden berwarna putih. Tunggu dulu, sepertinya aku melihat sesuatu di jendela depan rumah paling atas. Warna gordennya agak kehitam-hitaman, berbeda sendiri dari yang lain. Yah, mungkin kotor dan belum diganti.
          Suasana sekitar rumah ini agak sepi. Aku telah mengelilingi rumah ini dua kali dan tidak satupun rumah tetangga yang terlihat. Yang ada hanya pepohonan besar yang hijau. Tidak terlalu buruk.
Ayah dan Ibu tampak sangat senang.
“Erik, mau kah kamu melihat isi dalam rumahnya sekarang?” tanya Ayah.
“Ya tentu saja! aku mau memilih kamar yang paling atas!” jawabku bersemangat.
Ayah membuka kunci pintu depan yang besar itu. Aku dengan antusias berlarian ke dalam untuk menjelajahi seluruh rumah. Di lantai satu ada dapur, satu kamar tidur, satu kamar mandi, gudang, laundry dan ruang tengah yang sangat besar. Di pojok belakang rumah ada tangga ke atas. Aku mencoba menaiki tangga tersebut lalu menjelajahi lantai dua. Di depan tangga ini ada lorong yang agak panjang.  Di lorong kiri terdapat dua kamar tidur dan dua kamar mandi yang dipisahkan lorong. Lalu, di ujung lorong kanan haanya ada sebuah jendela. Di ujung lorong kiri, aku melihat ada sebuah meja dengan cermin tua besar yang ada diatasnya. Aku mencoba mendekatinya. Ukiran di meja agak menyeramkan, seperti ada ukiran wajah-wajah di atas meja ini. Ekspresi wajah-wajah ini ada yang seperti orang berteriak dan ada juga yang ketakutan. Di sisi meja ini juga ada ukiran-ukiran aneh, seperti kumpulan orang dengan jubah-jubah panjang. Cukup menyeramkan untuk dilihat lebih lanjut, aku akan meminta ibu untuk menutupnya dengan taplak meja. Lalu, cermin di atas meja ini berbentuk lonjong, besar, dan berdebu. Aku harus membersihkannya nanti.
         Di sini tidak ada tangga keatas lagi? Yah sayang sekali, rumah sebesar ini ternyata hanya memiliki dua lantai. Baiklah aku akan memilih kamar sebelah kanan lorong kiri yang paling dekat dengan tangga. Oh iya, aku baru ingat ada jendela di sebrang cermin ini. Aku akan mengecek pemandangannya.
         Wah, ternyata jendela ini adalah jendela yang langsung menghadap ke arah depan rumah. Ini adalah jendela tertinggi jika dilihat dari halaman depan rumah. Tunggu sebentar, bukankah tadi kulihat gorden jendela ini seharusnya berwarna kehitam-hitaman. Kenapa jadi putih bersih? Yah, tidak penting juga. Yang penting adalah rumah ini sangat indah. Aku bersyukur bisa tinggal di rumah sebesar ini, ditambah lagi rumah ini sudah dilengkapi dengan perbotan-perabotan rumah—pekerjaan ayah dan ibu memang hebat!
         Baiklah aku akan merapikan tempat ini. Pertama, aku akan membersihkan cermin itu dan menutup mejanya dengan taplak meja. Aku turun dengan tangga lalu melihat ayah dan ibu sibuk memindahkan barang-barang pribadi dari mobil ke dalam rumah. Aku akan membantunya.
        “Ibu, dimana taplak meja dan lap?” tanyaku sambil berteriak.
        “Lap ada di dapur, nak. Kalau taplak meja ada di dalam kardus ini. Nanti ibu ambilkan, kau bersih-bersih saja dulu.” Jawab ibu sambil menaruh kardus yang berisi handuk-handuk, seprai-seprai , dan banyak taplak meja.
         Aku kembali ke atas. Lalu mengelap cermin itu. Aneh sekali, di balik debunya yang tebal, cermin ini punya noda hitam yang jika dilihat lebih teliti berbentuk seperti tangan. Mungkin bekas spidol atau cat, aku akan menggosoknya dengan ekstra. Tapi itu semua percuma. Anehnya noda ini bukan seperti tempelan ataupun benda yang menempel. Tapi lebih seperti bayangan yang gelap. Bayangan gelap itu semakin lama semakin membesar dan semakin lama semakin membentuk bayangan orang dengan dua tanduk di atas kepalanya.
            Suasana ini sangat menyeramkan. Jantungku berdegup kencang. Tidak ada suara yang kudengar selain suara jantungku sendiri. Semakin lama semakin cepat dan keras jantungku berdetak. Aku tak bisa menggerakan tubuhku. Ini sangat mengerikan! Aku ingin berteriak. Aku tidak bisa bersuara. Aku hanya bisa berteriak dalam hatiku. Tolong! Tolong aku siapapun! Bayangan hitam itu semakin jelas tergambar di cermin.
        “Erik…”
Suara panggilan ibu menyadarkan ku.
        “Ini taplak meja yang tadi kamu minta.”                Kata ibu sambil memberikan taplak meja.
Ibu langsung turun kembali ke lantai bawah. Aku bisa bergerak kembali. Bayangan hitam di cermin tadi juga sudah hilang. Jantungku kembali normal. Kejadian tadi seolah-olah tidak pernah terjadi. Sepertinya selain menutup mejanya dengan taplak meja, aku harus menutup cerminnya juga dengan kain.
                                      ***
          Enam bulan sudah aku tinggal di daerah sini. Aneh sekali, nafsu makanku jadi turun dan rambutku jadi agak rontok selama aku tinggal disini. Kurang penting sih, ya sudahlah. Yang penting aku sudah mendapatkan sekolah baru! Tapi….. tidak dengan teman baru. Entah mengapa mereka semua tampak jahat dan seperti menganggapku orang yang aneh — mereka tidak mau berteman denganku. Tetangga-tetanggaku juga begitu, waktu itu aku pernah memergoki dua orang ibu-ibu sedang menggosipi aku di depan halaman rumahnya saat aku berjalan pulang dari sekolah. Apakah orang-orang di Bandung bisa sampai sekejam ini? Ah, kepalaku sakit jika memikirkannya.
          Setelah menaiki jabatan, aku kira ayah dan ibu akan punya banyak waktu luang untukku, ternyata tidak. Mereka malah semakin sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka tak punya waktu untukku. Jarang sekali mereka pulang ke rumah. Dalam sebulan, mungkin ayah dan ibu hanya akan pulang sekali. Ah, kepalaku malah tambah sakit.
            Besok aku akan libur tengah semester selama satu bulan. Mungkin ini akan menjadi liburan tengah semester terbosan dari yang pernah aku lalui. Dulu aku selalu bermain bersama teman-temanku, orangtuaku juga dulu kadang-kadang datang untuk menemaniku di rumah, tapi sekarang Ayah dan ibu malah bilang tidak akan pulang ke rumah selama satu bulan ini dan lagi aku sekarang tidak punya teman. Aku akan benar-benar sendirian di rumah.
Dua puluh hari ku lewati dengan bosan. Aku tak bisa main apapun. Yang kulakukan selama ini hanya menonton acara kartun di televisi dari pagi sampai malam. Sepertinya, hari ini juga akan sama. Punggung dan leherku sakit sekali. Aneh, padahal aku selalu tidur dengan benar.
           Besoknya, karena saking bosannya, aku mencoba pergi ke luar rumah. Aku berjalan mengitari rumah dengan arah berlawanan jarum jam. Aku memperhatikan setiap sisi rumahku. Rumah ku tampak sama saja, ada tiang-tiang besar, jendela panjang dengan gorden putih yang seragam, dan ada pintu depan yang besar. Aku terus berputar lagi hanya untuk memastikan, sekalian mengusir rasa bosan.
           Pada saat putaran ke empat, aku melihat sesuatu yang ganjil. Gorden jendela paling atas berubah menjadi berwarna kehitam-hitaman. Aku terkejut. Aku langsung masuk ke dalam rumah. Aku penasaran ada apa dengan gorden di jendela itu.
           Aku menaiki tangga. Lalu menoleh ke arah kanan dan tidak menemukan yang tadi aku lihat. Gorden di jendela ini tetap bewarna putih.  Aku melihat ke luar dari jendela itu pun tidak ada yang berubah. Mungkin aku agak pusing dan lelah karena terus-terusan mengitari rumah ini. Baiklah Erik, abaikan saja dan mari kita menonton kartun yang membosankan itu.
             Pada saat ku berbalik, aku teringat pada cermin di sebrang lorong. Jika dipikir-pikir lagi, aku tidak tertarik dengan film kartun. Aku penasaran dengan cermin itu sekarang. Aku membuka kain penutup cermin itu lalu aku bercermin. Aku melihat bayangan diriku di cermin itu. Jika diperhatikan, sepertinya aku sudah tumbuh agak tinggi ya. Wajahku tidak berubah, tetap tampan seperti biasa, haha aku terlalu sering berkhayal. Tapi kok ada yang aneh ya, pemandangan di belakang tubuhku sepertinya berbeda dari yang aku lihat. Bukan lagi jendela aneh yang warna gordennya berubah-ubah, melainkan sebuah pintu hitam dengan gorden hitam di tiap sisinya.
           Aku mencoba menoleh kebelakang, tapi tetap saja yang kulihat adalah jendela.  Ini aneh, sangat aneh. Di cermin ku melihat sebuah pintu, tapi dengan mata kepalaku sendiri aku hanya melihat sebuah jendela. Mungkin aku coba dekati saja.
Sambil berjalan mundur, akupun memerhatikan pintu hitam itu di cermin. Sampai pada ujung lorong, aku tetap melihat pintu hitam itu di cermin dan aku juga tetap melihat jendela ini jika aku berbalik. Bisakah pintu dibuka? Aku meraba-raba kebelakangku sambil melihat ke cermin yang ada di seberang lorong. Dapat! Aku memegang gagang pintunya.
Gagang pintu ini dingin sekali. Punggungku terasa dingin saat aku menempelkannya ke belakang jende-…eh, maksudku pintu, eh…—entahlah, benda apa yang ada di belakangku saat ini. Yang jelas pintu ini sangat sulit untuk dibuka. Digeser, ditarik, ataupun didorong sudah kulakukan. Apakah pintu ini harus dibuka dengan kata sandi seperti di film kartun?...Shazzam!...sepertinya tidak,...Abracadabra!...bukan, atau …Caesar, buka pintunya!...bukan juga.
          BAM!! BAM!! BAM!! Tiba-tiba kudengar suara dentuman keras dari lantai bawah. Suara itu sangat mengejutkanku karena tak ada seorang pun di rumah ini kecuali aku. Suara itu juga membuatku tanpa sadar mendobrak pintu ini dengan punggung. Krek. Terdengar seperti suara kaca yang retak, mungkin kuncinya telah terbuka. BAM!! BAM!! BAM!! Suara seperti benda yang dibanting terus menerus itu terdengar kembali, itu sangat membuatku takut. Aku segera membuka pintu hitam itu dari belakang. Lalu masuk dengan berjalan mundur.
          Ruangan di balik pintu ini agak gelap. Ketika aku berbalik dari pintu, aku melihat ruangan ini berbentuk seperti lorong tanpa ujung—mungkin, karena aku tak bisa melihat ujungnya. Semakin jauh dari pintu tampak semakin gelap. Aku berjalan menyusuri lorong. Angin-angin berhembus kencang menerjang tubuhku yang entah darimana asalnya. Sepertinya aku berjalan terlalu jauh, kaki kiriku tiba-tiba jadi sangat sakit jika digerakkan. Aku pun memutuskan untuk kembali.
          Aku membuka pintu hitam itu lalu keluar. Tunggu, apakah lorong lantai dua rumahku memang segelap ini? Perasaan baru saja kutinggalkan 5 menit yang lalu.  Mengapa semua pintu di lorong ini terbuka lebar? Meja di bawah cermin itu sepertinya berubah. Aku berjalan sampai tangga untuk memperhatikannya. Ternyata benar, ukiran-ukiran di meja menghilang! Tiba-tiba ada yang keluar dari empat ruangan yang ada di depanku. Seperti orang-orang dengan jubah panjang berwarna hitam. Mereka semua mendekat ke arah ku! Aku harus lari.
           Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Oh tidak! Di lantai bawah juga banyak orang-orang berjubah hitam menunggu ku. A…aku…aku harus lari ke pintu hitam itu! Aku terlambat. Mereka sudah mengepungku di tangga. Aku berdoa dalam hati. Ya Tuhan, tolong aku, tolongtolongtolongtolongtolongtolong aku!
Mereka menarik ku keatas dan membawaku ke arah cermin. Mengapa cermin itu bercahaya!? Ada sesuatu yang keluar dari cermin! Tangan! Tangan itu menarik kaki ku ke dalam cermin. Apakah aku dijadikan tumbal untuk hantu yang ada di balik cermin ini!? Tidak, aku masih mau hidup! Tubuhku telah sepenuhnya masuk ke dalam cermin.
                                     ***
            Di sini gelap, dingin, dan kosong. Tubuhku tidaak bisa bergerak. Entah sudah berapa lama aku ada di sini. Apakah aku sudah mati? Aku selalu mendengar suara bisikan-bisikan yang entah dari mana asalnya. Suara bisikan itu kadang-kadang terdengar seperti orang yang menangis, memanggil-manggil namaku, bahkan sampai ada suara orang berteriak. Selain suara teriakan, aku juga selalu mendengar suara yang aku tidak tahu, bunyinya seperti bel, mungkin lebih seperti dering telepon yang berbunyi tanpa henti. Huhuhu…Aku rindu Ayah dan Ibuku. Ya Tuhan, aku bertemu dengan mereka.
           Oh, aku menemukan seberkas cahaya! Cahaya itu mendekat, semakin mendekat, dan lebih dekat lagi. Silau! Tunggu sebentar, ini dimana? Aku bukan di ruangan gelap itu lagi. Aku melihat diriku berbaring di kasur lalu kaki kiri ku dibalut sesuatu berwarna putih dan keras lalu digantung dengan gantungan, aku kenapa? Tubuhku tak bisa bergerak. Aku mencoba menoleh ke kanan, di sana ada pintu, sofa, dan meja. Aku juga mencoba melihat ke kiri ku, disana ada televisi, lalu ada tiang dengan kantung cairan di atasnya. Tangan ku dimasukkan selang, ini apa ya?
             Tiba-tiba aku mendengar ada sebuah percakapan dari balik pintu.
       “Dia beruntung, jika ia jatuh lebih tinggi dari lantai dua rumahmu…dan kakinya...hancur…mati….psikiater.” aku hanya mendengar sebagian saja. Kalimatnya tidak terlalu jelas.
         Tiba-tiba ada seseorang membuka pintu. Itu Ibu! Ibu langsung berlari ke arah ku lalu memelukku dengan erat. Saking rindunya aku sampai menangis. Kami pun menangis agak lama.
         “Ibu, kita dimana?” tanyaku sambil mencoba berhenti menangis.
         “Kita ada di rumah sakit, nak. Rumah sakit Hasan Sadikin.” Jawab ibu.
         “Lalu ayah dimana?”
         “Ayah sedang mengurus administrasi di bawah, nak. Ibu sangat khawatir kepadamu Erik. Kau ini  sangat kuat. Sekarang, beristirahatlah di sini. Besok kita akan pergi ke psikiater di daerah Cihapit.” Jawab ibu dengan lembut.
                                      ***
            Tibalah aku di depan psikiator…psikitra…psikoter—apalah itu, aku tak begitu menengal kata itu. Dari luar terlihat seperti rumah biasa, hanya ada palang putih yang bertuliskan nama orang. Aku, ibu, dan ayah memasuki rumah itu. Ayah langsung mengurus antrian dan administrasi, sementara aku dan ibu duduk menunggu di ruang tunggu. Di sini aku bisa melihat berbagai poster tentang penyakit kejiwaan yang terpampang di tiap sisi ruangan ini. Ada salah satu poster yang membuat ku tertarik. Aku mencoba membaca dan memahami poster itu.
                            SKIZOFRENIA
            Skizofrenia adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Skizofrenia bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor genetik, faktor kimia otak, infeksi virus, cedera otak, dan lain-lain. Selain sejumlah faktor risiko yang telah disebutkan, ada yang disebut faktor pemicu skizofrenia. Pada orang dengan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, stres merupakan faktor psikologis paling utama yang dapat memicu timbulnya skizofrenia.  Banyak hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita dan juga rasa takut. Biasanya hal ini dapat diatasi dengan mengadakan konsultasi kepada psikiater atau beristirahat total.
              Ya, setelah membacanya, aku pun mengerti, bahwa otakku tidak sampai untuk mengerti poster itu. Tapi tampilan poster itu sangat menarik, warnanya meemikat mata, dan juga ilustrasinya tidak berlebihan. Setelah menunggu antrian agak lama, sepertinya giliranku sudah datang.

PhantasmagoriaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora