Dia

30 10 12
                                        

Namaku, adelline. Aku berumur 19 tahun dan sekarang sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Aku mempunyai 2 kakak laki laki dan mereka kembar identik, namanya mas keenan dan kak keanu. Tapi, kak keanu meninggal 1 bulan yang lalu, tepat sehari setelah hari ulang tahunnya yang ke 24 tahun dan seharusnya hari ini, saat aku sedang mengetik cerita ini, kakak yang sangat dekat denganku itu akan menikah dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah sahabatku sendiri, Raisa. Ibuku adalah seorang yang ramah, baik, dan pintar memasak rendang, yang kupanggil mama. Mama seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahku, pak Deni, adalah salahsatu dokter bedah terkenal di kota yang penuh kenangan ini. Dan aku akan menceritakan salahsatu pengalaman yang tidak akan kulupakan ini. Ohiya, dan aku bisa melihat sesuatu apa yang kebanyakan dari kalian tidak bisa melihatnya.

***

3 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Februari.

Matahari mulai menunjukan muka bersinarnya. Hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke 16. Aku sangat senang karena sudah menjadi tradisi tahunan jika ada yang ulang tahun pasti akan di kasih surprise oleh teman-teman terdekatku. Aku penasaran apa rencana yang mereka buat, apa si dia akan menembakku? Atau aku akan pura-pura dimarahi guru tergalak yang hari ini mengajar di kelasku? Ah, penasaran sekali rasanya. Saat aku berjalan ke arah ruang makan dari kamarku, ternyata mama sudah memasak bubur ayam favoritku yang dihias kecap manis bertuliskan "HBD adee".

"Selamat ulang tahun adeee!" Ucap kak keanu sambil memelukku.

"Selamat ulang tahun dek," ucap mas keenan sambil mengusap rambutku.

"Makasih kak, mas heheh," jawabku sambil membalas pelukan kak keanu.

"Udah ayo ayo anak anak mama pada makan dulu sana," ucap mama yang sedang membuat susu.

Kita pun menyantap sarapan yang dibuat oleh mama. Tiba tiba aku teringat sesuatu,

"Papa kemana mah?" Tanyaku.

"Tadi pagi-pagi sekali papa udah pergi, katanya sih ada pasien papa yang tiba-tiba ada masalah gitu," Ujar mama.

"Ohh semoga ga ada masalah yang serius," ucap mas keenan dengan yakin.

"Aamiin," ucap kita berbarengan.

Setelah selasai sarapan yang sangat nikmat itu, aku diantar kak Keanu naik motor ke sekolah. Jalanan kali itu sangat becek karena semalam hujan menangis sangat deras. Sesampainya di sekolah, murid murid masih sedikit sepertinya gara-gara hujan semalam.

"Hati-hati ya dek, belajar yang bener biar bisa traktir kakak makan sushi nanti hehe," ucap kakakku yang sangat suka sushi.

"Iya iya," balasku sambil melambaikan tangan.

Sesampainya di kelas, ternyata aku masih sendirian. Aku malas sekali karena waktu itu saat aku lagi bermaim hp ada "seorang" perempuan yang kehilangan anaknya, yang kalian sebut Wewe Gombel, yang mengelus-elus rambutku. Tiba-tiba ada suara dari lorong kelas.

"Neng masih sendirian aja?" Ucap seorang kakek yang sedang menyapu lorong kelas.

"Iya pak, pada telat kayaknya." Jawabku sambik tersenyum.

"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri lin?" Tanya Dita,teman sekelasku.
Seketika bapak bapak tersebut hilang.

"Ohh nggak apa apa Dit, cuma inget hal lucu aja." Jawabku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 30, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DiaWhere stories live. Discover now