Semburat senyum tercipta di wajah manis itu, dihadapnya cermin yang mengingatkannya akan peristiwa masa lalu. Namun tangis itu berubah jadi pilu, tatkala teringat sang ibu.
"Lihat nak, kau terlihat amat cantik ketika bercermin disini" ucap sang ibunda sembari mengajarkan putri kecilnya memakai hijab
"tapi ibu, aku ingin sepertimu" peri kecil itu berucap menatap ibunya dalam-dalam
"suatu saat kamu akan menjadi seperti ibu nak, ibu yakin itu, bahkan jauh lebih baik dari ibumu ini. Tumbuh jadi anak yang kuat ya nak, ibu tak dapat menemanimu, mungkin lusa atau kapanpun suatu saat ibu akan pergi, selamanya"
"ibu jahat, Ais benci sama ibu, ibu tega ninggalin Ais sendiri, Ais tak mau berpisah dengan ibu!!" teriak anak kecil itu sambari memukul pundak ibunya dengan lengan kecilnya itu.
Ucapan ibunya nyata, seakan kejadian waktu itu sebagai pertanda, selang satu minggu usai kejadian tersebut, ibunya pergi, untuk selamanya, meninggalkan kenangan yang berujung luka.
Miris memang, di usianya yang masih belia, mimpi buruk akan kehilangan sang ibunda menjadi nyata. Ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, hanyalah sayup mata lelah dari sang ayah menemaninya dalam keheningan.
Ya, malam sunyi menenangkan berada didekapan ayah. Sejenak ia lupakan rasa sakit hati akan kehilangan ibunda. Hingga saat ini, disaat ia mulai dewasa hanya sunyi yang dapat menggantikan posisi ayah dan ibunya. Ayahnya terlalu sibuk dengan dunia kerjanya, sedangkan ibu? Dia sudah berbahagia di dalam surga.
Teruntuk ibu, ini kisahku. Kisah dimana aku memulai hidup yang baru, berusaha bangkit dari peristiwa kelam di masa lalu. Semoga kau menyukai kisahku, dan ini berisi salam rindu untukmu, dariku;peri kecilmu.
Aisyah Dzakira Nurasyifa
KAMU SEDANG MEMBACA
Titipan Surat Si Pengagum Hujan
Teen FictionMengisahkan seorang gadis yang sangat menyukai hujan dan ia tidak mengerti apa itu cinta, mulanya dia tak percaya akan adanya cinta. Hingga suatu ketika lelaki itu datang, membuat Aisyah merasakan cinta yang mendalam, tapi rasa cinta itu selalu ia p...
