Seseorang berteriak ke arah laki-laki yang berlari dengan terburu-buru, ia memaki karena kakinya yang tadi memakai sepatu high heels terkilir setelah orang itu menabraknya dengan keras. Rasanya tentu saja sudah dapat ditebak, sakit.
Sementara itu, lelaki tadi hanya menoleh dan mengucapkan permintaan maafnya tanpa berniat untuk membantunya bahkan hanya sekadar berdiri. Lalu ia kembali berlari sembari meninggalkan orang-orang yang memandanginya dengan heran. Ia benar-benar tidak peduli dengan apapun saat ini, kecuali satu, ia harus berhasil menjadi anggota band kampus bersama dengan sahabat karibnya, Justin. Sebenarnya ia harus datang ke ruang musik tiga puluh menit setelah semua mata kuliahnya selesai, namun sialnya ia terlambat berangkat kuliah dan akibatnya ia mendapat hukuman dari dosen yang mengajar di kelasnya.
Ia berlari sampai akhirnya bisa mencapai pintu ruang musik. Napasnya terengah dan keringat mengucur di dahinya. Para mahasiswi yang melihatnya langsung dibuat terpana, bagaimana tidak jika seseorang yang sangat diidolakan sejak lama benar-benar berada di hadapan mereka saat ini? Wajah tampan lelaki itu menambah kesan seksual pada dirinya yang terkenal menggairahkan bagi para perempuan. Namanya Cai Xukun.
Semua gadis yang berada di sisinya masih menatapnya dengan penuh ketakjuban di mata mereka, namun lagi-lagi Xukun tak peduli. Ia melangkah maju dan tangannya dengan mantap memegang kendali pada gagang pintu ruang musik. Pikirannya berkecamuk. Ia bingung kenapa tidak ada suara apapun yang keluar dari dalam ruangan itu.
Apa mereka sedang merenung?
Apa mereka sedang mengerjakan sesuatu yang serius?
Apa mereka tertidur karena menungguku?
Ataukah mereka sudah pulang?
Pertanyaan terakhirlah yang benar-benar dikhawatirkan oleh Xukun. Ia akan sangat merasa bersalah dan frustasi jika saja semua temannya telah menunggunya begitu lama dan justru meninggalkan Xukun sendirian. Detik demi detik berlalu, akhirnya ia membuka pintu ruang musik yang tampak sangat menyeramkan. Beribu kali menyeramkan karena ia pasti akan mendapat makian dari pembimbing grup band kampusnya. Namun setelah pintu ruangan itu terbuka lebar, ia dibuat terkejut karena ternyata di dalam ruangan itu
KOSONG
Benarkah mereka terlalu lama menunggunya?
"ARRGHHH DI MANA PEMBINA KYULKYUNG?!" ia berteriak frustasi sambil menendang tangga menuju ruang musik berkali-kali. Ia benar-benar kesal. Kesempatan terbaiknya kali ini GAGAL.
Semua mahasiswi di sekitarnya menjadi ketakutan. Mereka menjauh dari Xukun dan meninggalkan ruangan itu. Namun salah seorang mahasiswi memberikan jawaban untuk pertanyaan Xukun, "Kak Kyulkyung udah balik, barusan. Lu telat ke sini kak." jawabnya agak takut.
Xukun terkejut bukan main. Ia lalu bertanya lebih lanjut pada perempuan tadi karena ia sangat bertekad untuk masuk ke grup band itu. Ia akan melakukan apapun supaya bisa menyamai langkah Justin yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat di club musisi ternama dibanding dirinya. "Gimana ciri-cirinya? Lu tahu kagak?!"
Setengah meneguk ludahnya, lagi-lagi perempuan itu menjawab, "Pokoknya cantik, rambutnya item terus mukanya agak galak kalo lagi diem."
Banyak kali cewe yang kaya gitu.
Xukun yang tidak yakin dengan ciri-ciri yang disebutkan anak tadi langsung berlari dan mengucapkan terima kasihnya dengan intonasi yang kurang keras, sampai semua mahasiswi yang tadi menjauh kembali tergila-gila saat ia berada di dekat mereka.
Tak peduli lagi dengan napasnya yang akhirnya memburu, ia semakin mempercepat gerakan kakinya dan menuju ke gedung lain kampus. Mungkin Joo Kyulkyung memang berada di gedung yang ramai, maksudnya mungkin ia sedang bersama anak-anak band yang lain. Semoga saja.
Xukun menuju ke pusat kampus, mengitarkan pandangan untuk memilih gedung mana yang akan dimasukinya lebih dulu karena tampaknya di semua gedung tampak banyak orang berlalu-lalang. Gila, udah kaya mau milih jodoh aja gue -batinnya.
Ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke gedung yang lebih besar di antara gedung lainnya. Gedung apa sih? Aula? Dengan buru-buru Xukun menjejakkan langkahnya ke tempat itu, mengetuk pintu dan membuka pintu gedung itu dengan perlahan. "Permisi." Ia masuk ke dalam dan mendapati banyak sekali orang yang sedang bekerja di sana, mungkin mengurusi acara yang akan datang, atau entahlah. Xukun lagi-lagi berinisiatif untuk mencari perempuan yang menjadi tujuan utamanya hari ini, tapi...dengan bertanya mungkin akan lebih jelas. Malubertanya, sesat alirannya ye gak?
BODO AMAT KUN.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sang pemuda bernama Cai itu maju beberapa langkah kemudian menyentuh bahu seorang laki-laki di depannya, "Sorry, bang. Tahu cewe yang jadi pembimbing ekstra band gak?"
Merasa disentuh bahunya, pemuda tadi, yang mungkin senior Xukun pun menoleh, "Pembimbing band? Oh Zhou Jieqiong?"
Xukun mengerutkan keningnya, bingung, "Bukan bang. Bukan itu. Namanya siapa tadi ya. Bukan dia tapi."
Kini giliran sang pemuda bersurai hitam itu yang bingung, "Kok setahu gue, selama gue kuliah di sini namanya pembimbing band itu ya Zhou Jieqiong. Bahkan dari gue masih anak maba, ya namanya Zhou Jieqiong. Cantik pokonya. Kenapa?"
"Bang gue butuh dia..."
Raut wajah Xukun membuat si laki-laki tadi meringis, "Oh coba aja lo cari dia di sekeliling kampus, baru kalo udah ketemu hubungin gue."
Tak diduga, lelaki yang ia ajak mengobrol tadi malah tertawa, "Iye juga. Kenapa ya?"
Oke gue hampir gila.
Akhirnya sang lelaki tersebut mengulurkan tangannya, "Gue Wang Yibo."
"Kenalin bang, Cai Xukun."
Merasa kurangnya informasi yang diberikan, akhirnya ia memilih untuk keluar gedung itu dan mencari-cari di mana kehadiran kakak tingkat bernama Zhou Jieqiong itu. Kakinya memang tak mudah lelah, tapi untuk kali ini ia rasa bahwa kakinya benar-benar sudah lelah. Ia harus duduk sejenak. Melihat ada pohon-pohon rindang di dekatnya, ia akhirnya menuju ke bawah pohon itu dan duduk di sana. Sekalian ngadem -batinnya.Xukun masih merutuki dirinya sendiri atas kesalahannya yang dinilai terlalu banyak hari ini, mulai dari terlambat bangun, lupa tak membawa ponsel, menolak sarapan yang dibuatkan ibunya, membuat teman-temannya menunggu lama, hingga tak sengaja menabrak seorang perempuan yang bahkan ia tak menolongnya sama sekali. Sungguh ini hari yang tak berpihak kepadanya. Sial? Nggak, gue nggak mikir ini hari sial gue. Besok pasti bakal lebih baik. Oke, Xukun of the day.
Matanya masih berkeliling di sekitarnya, menilik tiap orang yang berlalu-lalang hingga matanya menangkap seorang perempuan yang berjalan dengan sedikit tertatih. Ia terus memperhatikan perempuan yang sedikit tidak asing baginya. Entah mengapa ia merasa pernah bertemu dengan perempuan itu, yang ia sendiri tidak tahu kapan. Kemudian ia memilih untuk memalingkan pandangannya karena kalau ia tertangkap, bisa-bisa ia dituduh sebagai orang yang kurang ajar karena telah memperhatikan perempuan cantik yang lewat di hadapannya.
Tunggu.
Cantik?!
Xukun baru menyadari bahwa gadis bersurai hitam itu ternyata adalah gadis yang ia tabrak pagi tadi. Ia langsung saja berlari sambil membawa buku dan tasnya, tak peduli lagi dengan kelelahannya yang tadi menimpa.
"Mbak!"
Perempuan bertubuh kecil itu menoleh, kepalanya celingak-celinguk ke sekitar untuk memastikan siapakah orang yang dipanggil oleh pemuda bernama Cai Xukun itu.