Kutatap diriku di cermin. Sempurna. Wajah putih penuh retak hasil masker bengkoang buatan Mini, daster putih panjang milik Oma Mitje, dan rambut palsu hitam dengan panjang sepinggang yang berhasil kubeli murah di Mangga Dua kemarin.
"Ya ampun! Tara, Mini, kalian berdua kayak girlgroup kuntilanak!" Sahut Tora, kakakku. Memang, Mini terlihat nyaris sama denganku, hanya saja ia memakai daster panjang berwarna merah. Kami sengaja berdandan seram untuk menghadiri pesta Halloween di kampus kami.
"Gue hantu terowongan Casablanca, tau! Baju gue aja merah." Timpalnya sambil menjulurkan lidah. "Yuk Tar, cabut."
Kami menulusuri jalanan di daerah Jakarta Selatan itu dengan vespa butut kesayangan Mini. Jalanan malam itu masih ramai seperti biasanya. Dengan dandanan kami yang menyeramkan, tak heran banyak orang yang menatap kami dengan aneh.
"Tar, kita lewat terowongan Casablanca, yuk." Kata Mini saat berhenti di lampu merah.
"Nggak, ah. Buat apa?"
"Kan mumpung lagi Halloween." Sebelum aku sempat menjawab, lampu merah itu berubah warna dan Mini melajukan vespanya.
Saat kami masuk dalam terowongan, udara di sekelilingku terasa berbeda. Dingin. Lampu-lampu di sepanjang terowongan itu berkedip sesaat. Walaupun beberapa kendaraan berlalu-lalang, namun aku merasakan keheningan yang aneh. Tiba-tiba kecepatan vespa Mini melambat hingga akhirnya berhenti total setelah kami menepi.
"Jangan bilang lo lupa isi bensin." Kataku berusaha terdengar tenang.
"Nggak kok. Nih masih penuh." Jawabnya. Udara dingin itu mulai terasa di jari-jariku. Aku mulai panik.
"Ini prank, ya? Nggak lucu!" Udara dingin itu semakin menusuk. Aku merinding. Sementara itu, Mini masih berusaha menjalankan motornya.
"Ya ampun, Tar. Gue nggak nge-prank lo." Baru aku sadari, saat itu tidak ada satupun kendaraan sedang berada di terowongan itu. Sepi, hening, dan dingin. Tiba-tiba aku merasa ada yang sedang melihatku dari belakang. Jangan menoleh ke belakang. Kalimat itu berkali-kali aku ucapkan di pikiranku. Perasaan itu semakin tajam seiring dengan suara gesekkan yang semakin lama semakin mendekat.
Suara itu kemudian berhenti. Tepat di belakangku. Aku terdiam membeku. Aku merasa 'sesuatu' perlahan mendekati pundak kananku dari belakang yang membuat sekujur tubuhku merinding. Aku berani bersumpah, 'sesuatu' itu terasa sudah berjarak tidak lebih dari satu sentimeter dari pundakku saat Mini berhasil menghidupkan vespanya dan melaju meninggalkan terowongan itu.
Aku dan Mini tidak berbicara selama di perjalanan. Pikiranku masih tenggelam pada kejadian di dalam terowongan itu. Jika saja Mini tidak berhasil menghidupkan vespanya saat itu, entah apa yang akan terjadi.
Saat kami tiba, gedung kampus telah dipenuhi oleh orang-orang dengan dandanan seram. Setelah Mini memakirkan vespanya, aku melompat turun.
"Buruan, Min." Seruku kepada Mini yang tidak bergeming. Perlahan, ia menoleh. Seringai itu. Jantungku seakan berhenti sesaat melihat seringai yang mengerikan itu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, membuatku spontan berteriak. Seseorang dengan helm yang masih menutup wajahnya, menghampiri kami.
"Tara!" Panggilnya. Aku terkejut mendengar suara yang sangat kukenali itu. Ia membuka helmnya, dan benar saja, ia adalah Mini! Aku menoleh ke belakang namun nihil. Bahkan vespa tadi pun tidak terlihat.
"Tara, lo tadi ninggalin gue di terowongan. Gue manggil-manggil tapi lo jalan terus."
Jika benar yang dikatakan Mini, lalu tadi aku diantar siapa?
(500 kata)
Lunatheclumsy, 19-10-2018 (last editing)
YOU ARE READING
#DiantarSiapa Terowongan Casablanca
Horror•Untuk kontes cerpen Diantar Siapa• Saat kampus kami mengadakan pesta Halloween, aku memutuskan untuk menjadi sosok kuntilanak, sedangkan sahabatku, Mini, memilih untuk menjadi Hantu Terowongan Casablanca. Semuanya berjalan dengan lancar hingga Mini...
