We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Part 1: Kabar Gembira

2 0 0
                                        

Tengg..... tengg...... tengg. Lonceng pergantian pelajaran terakhir berbunyi. Aku dan Sahabatku, Anto berlari kecil menuju kelas. Sebentsr lagi pelajaran terakhir, yaitu penjaskes akan segera dimulai. Pelajarn yang paling aku sukai. Apalagi dibidang sepak bola. Wahhh... paling heboh kalo sudah praktek. Karena di sekolah, aku dan Anto lah bintangnya. Hehehehe.... Setiap perlombaan antar kelas, kelas kami yang selalu jadi juara. Itu sepak bola bukan yang lain. Jarang-jarang kami menjadi runner up. Banyak lagi yang kulakukan bersama Anto.

Guru Penjaskes, Pak Adi masuk ke dalam kelas. Hari ini. Pak Adi telihat ceria sekali. Ku yang melihat beliau terasa aneh. Karena setiap jam masuk beliau tidak pernah menampakkan wajah seceria ini. Assalamualaikum anak-anak. Selamat pagi semua salam dri pak Adi. Serentak kami semua menjawab salam dari beliau. Aku melihat beliau membawa sepucuk surat beramplopkan warna biru di tangan kanan beliau. Tiba-tiba Erick, teman sekelasku yang duduk paling pojok bertanya kepada beliau. "maaf pak, ditangan bapak itu undangan apa ya?" tanya Erick serius. Sekilas mata pak Adi menatap Erick. "nanti kalian akan tau juga. " jawab pak Adi enteng. Ini nih yang paling aku gak suka dari pak Adi. Jawabannya pasti nanti-nanti. Membuat orang penasaran jadinya. Aku yang mendengarnya jadi heran apa sih yang ada didalam surat itu. "Anto, kamu tau gak maksud pak Adi itu apa? "tanyaku heran. "kamu aja gak tau apalagi aku, Riz" jawab Anto sambil mendengus kesal. Aku mencari buku diary didalam tas. Mungkin aku tau. Aku buka lembar perlembar kertas yang ada didalam diary. Nah, ini dia apa yang ku cari. Baru aku ingat, seminggu lagi ada lomba Student Championship I yang dilaksanakan di stadion sanaman mantikei. Aku tebak pasti yang ada di amplop itu undangan untuk sekolah. Soalnya, sekolah pelita nusantara tidak pernah absen jika ada lomba.

Sebelum pelajaran berakhir, pak Adi berdiri berjalan mendatangi aku dan Anto yang duduk dipojok depan kelas. Anto semakin dibuat heran kenapa Pak Adi memberi amplop itu ke kami berdua. Aneh sekali. "Ini surat dari panitia Student Championship I. Tolong ini nanti kasihkan ke orang tua kalian untuk bukti bahwa kalian ikut serta didalam lomba ini. Minta persetujuan". "kata Pak Adi memberi kami amplop. Benar tebakanku yang kutulis di buku diary. Yes...aku ikut lomba lagi. Lomba yang baru-baru ini digelar antar pelajar. Katanya sih sangat bergengsi. Soalnya sudah dilaksanakan di luar provinsi. Seperti di Kalimantan Selatan. Ini baru pertama kali digelar di provinsiku. Aku juga berani bertaruh banyak sekolah lain yang ikut. Bukan hanya aku saja yang ikut tapi Anto dan teman-temanku yang lainnya juga ikut. Pemain-pemain pilihan sekolah Pelita Nusantara. Kami sering menyebutnya eleven team.Lonceng pulang sekolah berbunyi. Pelajaran telah berakhir. Biasanya aku sengaja berlambat keluar kelas. Ingin mencari suasana yang tenang. Terkadang aku jalan-jalan dulu baru pulang ke rumah. Setelah semua teman-teman pulang aku baru membereskan buku-buku yang berserakan diatas meja. Di kelas hanya tinggal aku dan Anto. Satu persatu buku ku masukkan kedalam tas dengan rapi. Giliran buku diary yang kumasukkan, tiba-tiba ada foto yang meluncur jatuh ke lantai. Aku mengambil foto itu. Kagetnya bukan main. Ini kan foto.... gumamku dalam hati. Ya aku baru ingat itu fotoku dengan Nadia. Sahabat perempuanku yang sekarang entah kemana. Aku jarang dapat kabar darinya. Foto yang diambil oleh ibunya Nadia ketika aku tanding sepak bola di Sanaman Mantikei. Ketika aku masih duduk di bangku SMP. Ketika SMA dia bilang pindah ke Banjarmasin. Dan sekarang hanya tinggal kenangan. Hatiku terasa sakit ketika melihat wajahnya. Berkali-kali aku menahan malu didepan umum. Bayangkan coba, aku melihat orang seperti dia lalu aku panggil Nadia. Saat menoleh kebelakang ternyata lain Nadia. Ibuku jarang cerita tentang Nadia setelah ia pergi. Aku terdiam menatap foto.

"Riz, ayo pulang!" ajak Anto sambil memberikan uluran tangannya. Sontak aku sadar dari lamunanku. "kamu kenapa? Galau? Tuh foto siapa? Sini, aku minjam" kata Anto mengambil foto ditanganku dengan paksa. Tanganku lemas. Perlahan resleting tas aku tutup. Aku gendong tas dibelakang punggung. "kamu masih ingat sama Nadia?" tanya Anto. "jelas lah Nto. Aku masih kenal banget sama dia" jawabku enteng. "tadi foto itu jatuh dari dalam diaryku ya udah kuambil deh" kataku menjelaskan ke Anto. "oh aku kira kamu kangen dengan dia" kata Anto tertawa. Aku hanya tersenym ringan. Aku jadi teringat masa-masa di SMP dulu. Memang sih dari dulu Nadia itu terkenal dengan parasnya yang cantik. Ya sekarang tingginya hanya sepundak bahuku. Dia paling anti pacaran. Tapi aku heran dia dekat denganku. Ya gak apa-apa lah. Aku satunya laki-laki yang bisa berkenalan lebih dekat dengan dia. Usut demi usut ternyata keluarganya dekat dengan keluarga ibuku. Ibuku satu SMA dengan ibunya Nadia. Tampanku sih lumayan mendukung. Hehehehe. Aku tertawa mengingatnya. Sampai tangan kanan Anto menepuk pundakku. "ntar aja. Gak usah dipikirkan. Entar dia datang juga" kata Anton menyemangatiku. "ayo kita pulang" ajak Anton. Tanpa basa-basi kami langsung menuju parkiran. BRUMMM.....BRUMMMM

Soccer, Friendship and LoveStories to obsess over. Discover now