"Orang terakhir di muka bumi yang mati kelaparan, adalah orang pertama yang mati tercekik."
"Hah, apa?" Pria di penghujung dua puluhan itu menoleh sembari menaikkan kaca matanya. "Bisa kauulangi?"
Hanna mengembuskan napas berat. "Itu, lho. Kalimat yang diucapkan profesor tua di film Interstellar. Aku suka sekali kalimatnya. 'Orang pertama yang mati kelaparan adalah orang terakhir yang mati tercekik'."
"Kenapa begitu?"
"Ya, karena situasi di film itu adalah ketika tidak ada makanan lain yang bisa dimakan selain jagung serta kadar oksigen yang menurun. Ditambah lagi, kehidupan satu-satunya sumber pangan itu sudah di ujung tanduk."
"Bukan. Maksudku, kenapa dia jadi yang pertama mati?"
Kalau bukan karena pria itu lebih tua darinya, sudah pasti sepatu Hanna sudah mendarat di wajahnya dari tadi. "Anggap saja hanya segelintir orang yang tersisa di dunia, lalu mereka mati, meregang nyawa, setelah sekian lama menahan lapar. Tentu yang terakhir mati adalah dia yang hidup sedikit lebih lama untuk menunggu habisnya kadar oksigen."
"Oh, oh. Jadi, begini, ya," Christian merebahkan tubuh di kursi, "aku kelaparan. Aku sudah menunggu sangat lama dalam keadaan lapar begini. Yang lain sudah mati." Dia lalu membuat garis tak kasat mata dengan tangannya. "Anggap kau sudah mati, ya. Lalu udara di bumi habis dan aku adalah korban pertamanya. Begitu, ya?"
Hanna menatap laki-laki itu datar. Kedua tinjunya sudah terkepal di sisi tubuh, meski begitu sudut bibir berkedut-kedut menahan tawa.
Christian memasang lagi kaca matanya dengan tampang serius yang seratus persen menyebalkan. "Kalau sudah diperagakan begitu, kan jadi lebih mudah dimengerti. Keren, ya. Omong-omong, aku dengar kalimat itu dari film Interstellar. Filmnya bagus. Coba kau tonton, pasti suka."
Detik itu, Hanna seketika menyesali keputusannya untuk menyetujui berbagi ruangan dengan Christian.
i love Interstellar so much.
That movie gave me so much knowledge and how amazing science could be.
have you guys watch it?
-elka
13102018.
YOU ARE READING
Obscure
Random"Obscure";unknown, mysterious, unidentified. Kupikir aku tahu diriku, kupikir aku mengenal aku. Namun kusadari bahwa semakin aku memperdalam pemahaman tentang emosi, aku tak tahu apa-apa tentang aku dan betapa kaya letupan emosi bisa kurasakan dalam...
