Just One Chapter

14 1 0
                                        


Aku teringat pada masa dimana kamu menanyakan hal yang tak ingin kudengar dari bibirmu kala itu. Aku mendesak agar suaramu terhenti mengalunkan diksi yang menyakiti batinku. Kau tercekat ludahmu lantaran tak kuat mengatakannya. Tapi sekuat tenaga mengeluarkan beban itu agar membuatku terluka, agar membuatmu penuh tanya, agar menumbuhkan rasa sesal pada batin kita.

"Bagaimana jika aku mati?"

Berulang kali aku melontarkan perintah untuk berhenti bertanya. Selama itu pula aku tak sanggup menahan air mata yang mulai bergelimang.

"Hentikan!" tangisku pecah. Angin menjadi bising di sela isakku.

"Kumohon untuk tetap hidup," lanjutku sembari memelukmu erat.

Langit nampak muram menyambut pagiku. Tangisan awan tumpah pada tanah yang masih basah akibat hujan kemarin. Genangan air di pinggir jalan seakan tersingkir saat aku melangkah. Aku suka hujan. Tapi jika aku menyukainya berlebihan, aku akan sakit. Mungkin sama ketika aku menyukaimu berlebihan, ternyata akhirnya memang menyakitkan. Aku terduduk di kafe yang tak pernah absen kukunjungi. Meja ini tepat di samping jendela lebar dengan pemandangan lampu merah di jalan kota yang menjadi favoritku hingga saat ini. Hal yang paling kusukai, begitu aroma americano diseduh, semua masa lalu tiba-tiba berlabuh, memutar di memoriku kemudian pergi dan meninggalkan rindu yang mengadu.

***

"Apa yang kau gambar?" aku terdiam tanpa melirik si pelaku suara. Ia kemudian pergi dan kembali meletakkan wangi kopi americano tepat di depan kopi latte-ku.

"Kau cowok yang beberapa hari ini selalu duduk di sana, kan?" tanyaku setelah menutup sketchbook di atas meja.

"Aku selalu melihatmu mengunjungi kafe ini. Jadi kuputuskan untuk datang setiap kali kau ada walau untuk menggambar tanpa memesan makanan," aku mengernyit.

"Ah, sandwich? Jadi kau. Terima kasih."

Uluran tak sungkan pun mengarahku "Namaku Awan. Awan Marais."

Senyumku tertulas hangat. Pertama kali selama hidupku, aku mengizinkan seseorang mengetuk pintu yang selama ini tertutup rapat.

"Ara. Tiara petrikor Alesia."

***

Pelayan mengusik ingatan itu saat ia membawa pesanan yang tak lagi kusebut tiap aku datang.

"Americano dan sandwich extra potato. Selamat menikmati."

Aku menyeruput kopi panas yang melayangkan asap abu tipis. Kali ini peran rindu yang akan menggerogoti sukmaku, detik dimana kenangan mulai saling beradu bahwa aku pernah ada disini, bahwa kita telah dejavu setiap menyeruput kopi, bahwa kita pernah saling menanti, bahwa kita pernah ada perasaan di hati dan bahwa kau juga pernah ada disini.

Tampaknya tangisan hujan semakin deras. Disaat inilah, emosi kesedihan tak dapat tertahankan. Aku menunduk menatap sandwich di atas meja. Kedua sikuku bertumpu, telapak tanganku menutup wajah yang akan menampakkan beban derita, dan yang terlihat hanya bahuku yang terguncang.

Dulu kau pernah berkata, "Aku akan merayakan sesuatu nanti."

"Apa?" tanyaku.

"Nanti juga kamu tahu."

"Katakan perasaanmu tentang perayaan itu agar aku tak penasaran dan memaksamu untuk mengatakan perayaan apa itu."

Kau pun tersenyum kecut mendengarnya. Lalu mengenggam tanganku yang terulur di atas meja.

"Perasaanku?" Aku mengangguk tak sabaran. Sekali lagi kau tersenyum gemas padaku.

Kau menunduk, "Mungkin sedikit takut, sedikit berharap atau sedih. Mungkin juga penasaran. Entahlah, aku tak banyak memikirkan itu."

Naabot mo na ang dulo ng mga na-publish na parte.

⏰ Huling update: Oct 11, 2018 ⏰

Idagdag ang kuwentong ito sa iyong Library para ma-notify tungkol sa mga bagong parte!

Bekal Seribu NestapaMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon