Oleh : Habriadi
Hari ini aku hanya diam menikmati nyanyian alam saat surya diam-diam menyapa dunia, dengan tangan cahayanya kembali melambai memberi hidup kepada makhluk, membuat burung-burung kembali menyanyikan lagu cinta sambil meloncat-loncat gembira di atas dahan pohon.
Sementara, sebuah buku tampak anggun tergeletak di atas meja ia adalah kawan sejatiku, menghirup wangi tiap lembaranya membuat syarafku kembali bergelora untuk memulai wisata baru di tiap baris kalimatnya, karena sebuah buku adalah taman bunga yang digenggam. Membaca buku bagiku bagaikan menyalakan api, setiap kata, kalimat, paragraph yang dibaca akan menjadi percik yang menerangi.
Dan, juga segelas kopi, setiap sruputnya memaksaku untuk memuja kehebantanku meracik kopi yang menyaingi kopi buatan barista dunia. Setiap sruputnya ibarat aliran sungai yang tenang dan menenangkan, yang lagi membuatku memuji indahnya hidup, yah, hidup ini indah bagi orang yang berfikirnya benar, silih berganti masalah yang menghampiri, hanya dipandang sebagai nada pada lagu yang tanpanya membuat symphony hidup tak lagi sempurna.
Pagi ini, selepas menjamu jiwa dengan sedikit hidangan bacaan buku, sebagai mahasiswa, aku kembali berbaur dengan aroma kota yang penuh dengan aneka warna. Belum lagi jauh melaju, di trotoar jalan tampak seorang bocah dekil berpakaian lusuh memikul sebuah karung yang tampaknya berisi sampah plastic, ia terus menyusuri pinggiran jalan dengan sesekali membungkuk memunguti gelas plastic tergeletak di bawah selokan, di depan tokoh, bahkan depan orang yang dengan asyik dan lahap menikmati nasi kuning di pinggir jalan, tepatnya pada sebuah warung mobil yang kini banyak menghiasi pinggiran jalan kota. Nikmat sekali hingga tak lagi menggubbris jeritan cacing-cacing perut seorang bocah malang yang melintas di hadapanya. Innalillah… ucapku lirih dalam hati.
Saat lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah, perlahan aku menghentikan laju kendaraanku tepat pada garis jalan sebelum zebra cross, jalur para pejalan kaki untuk melintasi jalan. Namun tampak banyak sekali pengendara yang tidak peduli dengan itu, bahkan sampai ada yang melewatinya. Aneh.
Tiba-tiba khayalanku berhenti melihat seorang kakek tua dengan kaki sebelah putus, duduk diatas papan beroda yang mungkin dirakitnya sendiri, sembari mengacungkan gayuh berharap uluran tangan dermawan menyisipkan selembar uang sebagai penghibur perutnya yang mulai mengerut kelaparan. Dari kejauhan, aku coba menerka sejauh mana kesusahan yang dirasakanya, namun binar matanya menegaskan dalam kesusahan hidupnya. Ya Allah… bagaimanakah kiranya jika aku yang berada di posisinya,
seringkali aku merasa kurang, rupanya ada orang yang jauh dibawahku, jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur atas apa yangaku miliki hari ini.
YOU ARE READING
benang cahaya
Short StorySeringkali kita merasa kurang tanpa kita sadari ada orang yang lebih kurang dari kita
