Jika kau penakut, berhentilah di sini.
Lebih baik kau bermain sepeda mini.
Atau mewarnai gambar kuda sembrani.
Cerita ini hanya untuk anak pemberani.
Mari kita mulai, tak perlu berlama-lama.
Siapkan telingamu untuk mendengar kata yang berirama.
Atau lidahmu untuk membaca kalimat yang berantai.
Tapi, ingatlah, tak perlu kau berandai-andai.
Ombak berdebur ke arah pantai.
Pagi itu, beberapa hewan tampak berjemur dan bersantai.
Hanya satu yang tak bisa duduk diam.
Selalu bersenandung 'dam...didam...didam'.
Seekor kelinci berbulu hitam legam bak langit malam.
Kedua matanya merah berbinar bagai pijar.
Ia mengenakan pakaian berwarna jingga.
Dan memiliki suara yang mengenakkan telinga.
Cici Kelinci selalu gemar bernyanyi.
Ia pun senantiasa suka menari.
Cici cukup bernyali.
Ia berani memanjat menara.
Di dalam menara terdapat banyak ruangan.
Cici terus menari ke sana ke mari.
Dan terus bernyanyi seperti sehari-hari.
Hingga saat ia mendengar raungan.
Cici Kelinci berhenti bernyanyi dan menari.
Ia berhenti untuk mencari.
Mencari ruangan tempat asal raungan.
Cici terkejut melihat seekor rajungan.
Seekor rajungan sedang meraung kesakitan.
Ia telah kehilangan kesaktian.
Tak mampu melepas capitnya yang terjepit.
Sebelum buku di atas rak jatuh menghimpit.
Cici lalu bertanya, "Siapakah kamu?
Aku belum pernah melihatmu. Namaku Cici Kelinci."
Rajungan pun menjawab, "Aku Raja Rajungan dari laut hendak bertamu.
Datang untuk bertemu dengan Caca dan Cica Kurcaci."
Raja Rajungan lupa membawa kuaci untuk para kurcaci.
Biji bunga matahari tertinggal di dalam laci.
Kini, Raja Rajungan kehilangan kesaktian.
Saat pergi, ia kegirangan namun sekarang ia merasa kesakitan.
Sementara itu, ombak menerjang menara hingga bergetar.
Raja Rajungan semakin gemetar.
"Wahai, Cici. Tolonglah aku." ujar Raja memohon.
Suaranya terdengar lirih seperti gesekan daun di atas pohon.
Cici lalu mendekat hingga berhadapan.
"Bagaimanakah caraku menolongmu, wahai Raja?
Cakarku tak terlalu kuat untuk mengoyak papan.
Dan gigiku pun tak terlalu tajam untuk mencabik baja."
Ombak semakin kuat menerjang menara.
Cici dan Raja melihat ke atas rak.
Buku itu akan segera jatuh, mereka merasa merana.
Tiba-tiba, Raja mendengar suara papan berderak.
"Cici, tolonglah aku sebelum terlambat.
Bantulah aku dan jadilah sahabat.
Menarilah dan teruslah bernyanyi hingga aku terbebas.
Aku ingin kau berjanji, jangan tinggalkan aku sampai aku terlepas."
"Baiklah, Raja. Aku rasa aku bisa berjanji." Cici Kelinci berkata.
"Aku akan menari dan bernyanyi agar kau terhibur.
Nyanyianku lebih nyaring daripada senandung dewata.
Dan, tarianku lebih kuat daripada ombak yang berdebur."
Cici Kelinci menari sambil menghentak.
Ia menyanyi hingga bilah papan berguncang.
Akhirnya, capit Raja terlepas bebas saat bilah papan bergerak.
Namun, ternyata, bilah papan berguncang begitu hebat hingga rak buku ikut bergoyang.
Buku di atas rak jatuh melayang ke arah mereka.
Cici Kelinci tak pernah menyangka.
Raja Rajungan pun tak mengira.
Belum saatnya mereka bergembira.
Mereka memejamkan mata menanti buku jatuh menghunjam.
Menunggu rasa sakit saat buku datang menghantam.
Tapi, saat yang ditunggu tak pernah tiba.
Peristiwa yang dinanti tak pernah terjadi.
YOU ARE READING
CICI KELINCI DAN PARA KURCACI
AdventureNovel anak yang ditulis dg pendekatan linguistik untuk mengembangkan kebahasaan anak, meliputi aspek: fonologis, morfologis, sintaks, semantik, dan pragmatik. Selain itu, tentu saja, untuk menambah kosakata dan mengenalkan sastra pd anak. Bacakan ce...
