PROLOG

73 8 1
                                        

Allahu akbar ....Allahu akbar...

Suara adzan telah berkumandang yang menyerukan kepada kaum muslim untuk segera menjalankan kewajibannya.
  

Di sebuah kamar yang sedikit penerangan hanya ada lampu temaram yang menyala. Seorang gadis berambut panjang ini menggeliat dari tidur nyenyaknya. Ia mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu yang menerangi kamarnya.

Dengan setengah sadar ia mulai beranjak dari kasur empuknya dan mulai menuju kamar mandinya. Yahhh... Memang kamarnya di desain dengan tampilan sederhana namun tetap memberi kesan elegan pada catnya. Setelah 15 menit di kamar mandi, dengan wajah yang lebih segar, ia mulai menuju ke lemari berpintu dua itu untuk mengambil mukena dan sajadahnya.

Dengan semangat dan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah ayunya, ia mulai menggelar sajadah di samping tempat tidurnya itu. Dengan segera ia pakai mukena kesayangannya yang merupakan kado istimewa baginya dari kedua orang tuanya saat usianya masih 18 tahun. Di ulang tahun yang ke 18 itu, ia tak minta apa-apa dari kedua orang tuanya. Ia hanya minta di belikan mukena, sajadah, al-Qur'an, dan tasbih saja sebagai hadiahnya.

Meskipun ia sebenarnya mampu untuk membelinya, namun ia sangat ingin kado tersebut berasal dari kedua orang tuanya. Dan dengan senang hati kedua orang tuanya membelikan kado tersebut kepadanya. Ia mulai mengucapkan takbir sebagai awalan dari sholatnya, ia mulai memejamkan matanya untuk meresapi segala lantunan ayat-ayat suci-Nya. Setelah 5 menit mengadu pada Rabb nya, ia mulai membaca doa seaudah sholat.

Setelah itu, ia beranjak untuk mwngambil Al-Qur'an yang tertata rapi di atas mwje belajarnya. Dengan di awali membaca ta'awud gadis dengan mukena putih ini mulai membaca dan meresapi lantunan kalam-kalam Allah Swt...

***

Di tempat yang berbeda tampak seorang pemuda gagah dengan baju koko dan peci serta sarung yang melekat pas pada tubuh atletisnya. Dengan parfum maskulin yang menambah kadar ketampanannya.

Pukul setengah enam pemuda gagah ini baru pulang dari masjid lantaran ia harus mendengarkan kajian di masjid dekat rumahnya ini. Memang ia terlahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama, sehingga tidah heran jika pemuda yang satu ini kental akan pengetahuan agamanya.

Dialah Zain Malik Ibrahim. Pemuda berperawakan tinggi, hidung mancung, berkulit putih dan bersih, serta badan yang tegap yang menambah kesan gagah padanya. Bukan hanya fisik dan agama yang kental dengan dirinya, namun ia juga salah seorang pemuda yang mapan.

Bagaimana tidak? Bahkan di usia yang terbilang muda ini, ia sudah memiliki restoran yang menjual berbagai macam kuliner khas Indonesia. Bahkan cabang dari restoran miliknya ini sudah ada di berbagai kota di Indonesia. Jadi jangan di ragukan lagi kemapanan yang di milikin nya.

Ada yang minat?# Eitttsss hanya untuk author seorang.Wkwkwk... Abaikan... Lanjut....

Maaf kalau belum sempurna, karena ini merupakan cerita pertama ku.. Jadi maklumlah...
H

ehehe

Jaga Hati Jaga PandanganStories to obsess over. Discover now