Pandangan gadis itu lurus menatap luar kaca kereta api. Membawanya ke arah masa depan yang penuh misteri. Nafasnya tidak beraturan, jantungnya berdetak dengan kencang, pikirannya kacau, perasaannya campur aduk.
Ia baru saja lari dari masalah yang ia perbuat. Hari ini hampir saja ia akan menjadi pengantin perempuan yang siap naik altar pernikahan.
" Jika kau tak mencintainya, hentikan semuanya. Pergi sebelum terlambat! Pergi sejauh mungkin dimana kau bisa hidup dengan orang yang kau cintai. Aku tahu kamu mencintai Brans dan ia pun begitu, cari dia! Kembali padanya! Jangan pikirkan keadaan yang akan kacau, sudah cukup kau menderita, aku akan mengatasi segalanya, jangan khawatir, percayalah padaku, sahabatmu".
Gadis itu meneteskan air mata, kata-kata sahabatnya masih terngiang di kepalanya.
Ia kemudian membuka HP-nya, memperlihatkan 50 notifikasi dari seorang Brans Octavian. Ia tersenyum, menghapus air mata dan langsung menekan tombol panggil.
" Kamu dimana? Berhasil lari?" Tanya suara berat itu dengan penuh rasa khawatir.
" Aku..aku di masih di dalam kereta, menuju Jakarta. Tunggu aku di stasiun".
" Sudah dari satu jam yang lalu aku menunggumu. Tak apa.. untukmu aku akan terus menunggu "
Gadis itu semakin mengembangkan senyumannya.
" Kenapa diam? Apa kamu khawatir dengan keluargamu?" Tanyanya mengalihkan lamunan.
" Tak apa.. sedikit khawatir, sebelumnya aku tidak pernah seberani ini. Namun, saat bertemu dan jatuh cinta padamu, aku berani, ini semua karena keberanianmu juga yang mampu membuat keberanianku meningkat".
Brans tertawa kecil, sungguh gadis yang ia cintai pun bahkan tidak tahu kalau sebenarnya ia juga takut untuk mengambil keputusan berat ini. Namun karena cinta yang kuat, ia berani dan selalu siap menguatkan sang kekasih.
" Aku harus berani agar kamu berani. Jika kita kuat, semuanya bisa kita hadapi. Jangan pernah meragukan kekuatan kekuatan cinta sejati kita".
Giliran kini gadis itu yang tertawa kecil.
"Baiklah aku ingin menikmati perjalananku ini. Tunggulah beberapa waktu lagi. Jangan lupa makan".
" Iya sayang..aku pergi ke cafe stasiun sekarang".
" Aku tutup telponnya dulu".
" Sampai bertemu nanti. Aku mencintaimu".
" Aku juga.. mencintaimu".
Kesunyian kembali hadir, gadis itu kembali menatap ke arah luar, hingga tak lama kemudian sebuah gedung besar terlihat.
Ciri khas lambang buku besar di area taman terpampang.
Di sekitarnya almamater abu-abu terpakai rapi oleh mahasiswa. Mereka terlihat bahagia bercakap dengan sebayanya.
Ia rindu, rindu dengan suasana itu, di universitas itu.
Universitas Bramasta, di sana ia mendapat pelajaran hidup sekaligus cinta pertamanya, tepat satu tahun yang lalu.
# Halo semua..jangan sungkan buat komen kalau ada kekurangan.
Jangan lupa votenya juga ya ❤
#salam NadiAyala❤
YOU ARE READING
LOVE EXIST
Teen FictionCinta itu ada. Jika kau merasa gagal dalam cinta percayalah masih ada yang lebih merasakan kegagalan. Dan percaya bahwa di setiap kehidupan kau akan menemukan cinta sejati yang akan melengkapi dirimu. Rasa cinta dan kasih sayang tidak harus diberika...
