Jika bercerita tentang saya, maka tidak banyak hal yang ingin diceritakan karena saya bukanlah siapa-siapa. Saya bukanlah orang yang memerdekakan negara, saya bukanlah orang yang mencetuskan sebuah perubahan dalam masyarakat, saya bukanlah orang yang sudah membahagiakan orang tua. Saya akan bercerita tentang saya yang bukan siapa-siapa ini. Tentang bagaimana kehidupan saya dikelilingi oleh orang yang memiliki segalanya. Tentang bagaimana saya memandang indah kehidupan orang lain. Tentang saya yang sering lupa akan segala yang diberi.
Menjadi anak ketiga dari empat bersaudara bukanlah hal yang mudah bagi saya. Hal itu dikarenakan saya akan merasa serba kurang dibandingkan dengan saudara-saudara saya lainnya. Abang saya merupakan anak pertama, selalu mendapat apa yang ia inginkan karena ada gelar "anak pertama" yang disandangnya. Kakak saya merupakan anak kedua, merupakan tempat contoh bagi setiap tindakan saya. Adik saya merupakan pencuri semua perhatian orang tua saya. Dan saya, anak ketiga, merupakan anak yang merasa iri dengan segala yang ada pada saudara-saudara saya.
Ibu saya pernah bercerita tentang kejadian pada tahun 2004, saat terjadi tsunami di Aceh, keluarga saya sedang tertidur pulas di rumah kami di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Gempa terasa sangat kuat di kota kami hingga mampu membangunkan penghuni kota Subuh itu. Orang tua saya juga bangun saat itu. Ibu saya berkata, "Mama gendong si Mora. Papamu gendong Bang Didit. Si Putri digendong kakak-kakaknya (pembantu). Baru, pergi ke mesjid udah ramai orang." Dari cerita ibu saya itu, tidak ada nama saya disebut. Apa saya tidak ada di rumah saat kejadian itu? Jawabannya, ada. Ya, saya berada di rumah dan sedang tertidur pulas. Tidak ada yang membangunkan apalagi menggendong saya untuk keluar. Saya ditinggal begitu saja oleh orang tua saya. Singkatnya, saya terlupakan.
Rasa iri saya tidak hanya cukup sampai pada saudara-saudara saja saja. Saya juga iri dengan teman-teman saya. Saya akan mulai dari teman saya bernama Rika. Dia teman saya sejak SD. Saya ingat saat SD dulu, saya selalu bercerita pada ibu tentang Rika yang memiliki banyak uang jajan. Saya bercerita pada ibu saya tentang uang jajan itu agar ibu menambah uang jajan saya sebanyak uang jajan Rika. Kalau tidak salah, uang jajan Rika saat itu 5000 rupiah dan saya hanya seribu rupiah. Ibu saya dengan gampangnnya berkata kalau anak yang banyak jajan nanti jadi sangat bodoh. Sekarang saya yakin, itu hanya alasan saja karena teman saya Rika tidaklah orang yang sangat bodoh, tapi sedikit. Sungguh, sedikit. Sedikit berpikir maksudnya.
Selanjutnya adalah teman saya sejak SMP, Fadia. Di mata saya, saya yakin orang lain melihat hal yang sama, keluarga Fadia adalah keluarga yang sangat sempurna. Orang tua yang sangat baik dimilikinya. Saudara yang sangat baik juga ia punya. Bahkan, rumah yang menjadi basecamp geng kami adalah miliknya. Tidak ada yang kurang dari dirinya selain tinggi badan. Hal yang membuat saya iri dengannya adalah keluarga sempurna yang menjadi keluarganya itu. Ibunya merupakan ibu yang sangat lembut, saya yakin ibunya tidak pernah membentak dan mengancamnya dengan cubitan setan yang dimiliki ibu saya. Kakaknya merupakan kakak yang paling penyayang di Bumi ini, tidak seperti kakak saya yang mengabsen nama-nama binatang ketika berkelahi dan mengubah rumah menjadi ring tinju pribadinya. Intinya, keluarganya seperti keluarga dalam dongeng dengan cerita happily ever after-nya.
Selanjutnya adalah teman saya Tepek. Hal yang membuat saya iri dengannya adalah kemampuannya menjadi perempuan. Ia mampu merawat dirinya dan tumbuh menjadi remaja yang cantik dan anggun. Sangat berbeda dengan saya yang bahkan tidak tau apa-apa tentang produk kecantikan selain bedak bayi. Melihat dia saja saya tahu bahwa saya gagal menjadi remaja perempuan saat itu. Tepek, yang hari Minggu-nya dipenuhi dengan perawatan diri, berbanding terbalik dengan saya yang hari Minggu-nya kabur dari rumah agar tidak disuruh bersih-bersih.
Teman saya yang terakhir yang akan saya ceritakan bernama Puteh. Sejujurnya tidak banyak hal yang membuat saya iri selain kemampuannya untuk dikenal. Saya jauh lebih baik dari dia, tapi kenapa dia yang lebih dikenal. Itu yang selalu saya pertanyakan selama SMP dan SMA. Saya selalu menganggap diri saya lebih di banding dia. Saya yakin akan hal itu, tapi saya juga yakin kalau dia juga merasa jauh lebih baik dari saya. Kami memiliki minat di bidang yang sama. Misalnya, saat guru memilih perwakilan membaca puisi, saya yang tanpa perhitungan, akan langsung kalah dengannya. Intinya, dia mendapat apa yang saya inginkan.
Masa kecil saya, masa SD, masa SMP, masa SMA sudah berlalu dan sudah memiliki tempat sendiri di masa lalu yang tidak akan bisa saya ubah. Saat mengetik semua cerita tentang rasa iri saya, saya berpikir untuk apa saya iri. Iri dengan saudara-saudara saya, saya yakin semua anak merasa hal yang sama. Selalu merasa di nomor akhir-kan oleh orang tuanya. Saya sadar bahwa orang tua selalu berusaha berbuat adil pada anak-anaknya, saya hanya enggan mengakuinya. Saya terlalu sering menyakiti orang tua saya dengan berkata bahwa mereka tidak menyayangi saya. Saya sangat malu saat mengingat saya pernah berdoa kepada Tuhan untuk mengambil nyawa saya agar keluarga saya bahagia tanpa saya. Saya terlalu malu untuk mengucapkan maaf kepada orang tua saya. Saya terlalu malu untuk menjadi anak yang tidak pernah bersyukur. Saat ini saya sedang menangis karena saya sangat merindukan orang tua saya. Percayalah, saya tidak pernah berkata kepada mereka bahwa saya merindukan mereka. Tidak tahu mengapa, mungkin karena malu?
Sekarang saya juga sadar bahwa tidak perlu merasa iri dengan teman-teman saya. Rika, memiliki banyak jajan, saya seharusnya bersyukur karena sering kali jajan itu ikut mengalir kepada saya. Fadia, memiliki keluarga yang lembut, saya sangat bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang kasar karena semua pertengkaran kami menjadi kenangan yang sangat indah untuk dikenang, saya sangat merindukan momen bertengkar dengan orang tua dan saudara-saudara saya karena saat ini tidak ada waktu dan tempat bagi kami untuk bertengkar lagi. Ibu saya sibuk dengan ocehannya untuk mengingatkan saya makan di perantauan ini. Abang dan kakak saya sibuk mengingatkan saya untuk menjadi mahasiswa yang baik karena mereka sudah amat dewasa saat ini. Adik saya, ya, kami masih sering bertengkar, tidak terlalu merindukan pertengkaran dengannya. Kemudian ada Tepek, jelas tidak perlu lagi iri dengannya, meski saya tidak lihai berdandan tidak akan mengubah saya menjadi pria, tidak perlu khawatir. Terakhir adalah Puteh, tidak masalah jika dia mengambil semua yang saya inginkan karena saya yakin saya karena belum tentu yang saya inginkan itu saya butuhkan.
Akhir dari cerita ini adalah saya ingin berterimakasih kepada semua orang yang menjalani hidup bersama saya. Terimakasih akan rasa iri yang mereka berikan. Karena mengetahui apa yang tidak saya miliki telah menyadarkan saya betapa banyak saya memiliki.
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Saya, Seseorang yang Merasa Kurang
Короткий рассказCerita ini merupakan tugas Retorika dari dosen saya. Ciee, udah kuliah manggil dosen wkwkw.. Cerita tentang betapa banyak hal yang saya tidak sadari. Untuk orang-orang yang terlibat di dalammnya, terimakasih. I wuf you!!
